Copyright © Muslimische Frau
Design by Dzignine
Rabu, 12 Februari 2014

Tujuan dan Pendekatan dalam Psikologi Pembelajaran


 
A.    Tujuan Psikologi Pembelajaran
       Tujuan  adalah sesuatu yang ingin di capai atau diraih, jika suatu kegiatan dilakukan tanpa rencana maka itu adalah suatu hal yang tidak memiliki kepastian untuk menetukan ke arah mana kegiatan akan dituju.[1]
       Jika dilihat dari sejarahnya tujuan pembelajaran pertama kali diperkenalkan oleh B.F Skinner pada tahun 1950 yang kemudian diterapkanya dalam ilmu perilaku (behaviorial science), dengan maksud untuk meningkatkan mutu pembelajaran.[2]
       Di dalam pendidikan dan pengajaran tujuan dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk memberikan rumusan hasil yang diharapkan dari siswa atau subjek belajar, setelah menyelesaikan atau memperoleh pengalaman belajar.
       Pada garis besarnya orang mempelajari psikologi adalah untuk menjadikan agar hidupnya menjadi baik, bahagia dan sempurna. Begitu juga hakikatnya dengan pembelajaran yang memiliki arti sebagai perencanaan dan perancangan  sebagai upaya untuk membelajarkan siswa, itulah sebabnya dalam belajar, siswa tidak hanya berinteraksi dengan keseluruhan sumber belajar yang dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Oleh karena itu suatu pelajaran memusatkan perhatian pada bagaimana membelajarkan siswa. Psikologi pembelajaran sangat penting dalam rangka menciptakan kemampuan guru untuk mengelola proses belajar mengajar sesuai dengan prinsip-prinsip kejiwaan peserta didik. Sebab dimanapun proses pendidikan berlangsung, alasan utama kehadiran guru adalah untuk membantu  mendorong siswa agar belajar dengan sebaik-baiknya.[3]
       Berdasarkan uraian-uraian yang telah disebutkan diatas dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa tujuan mempelajari psikologi itu adalah:
1.      Untuk memperoleh faham tentang gejala-gejala jiwa dan pengertian yang lebih sempurna tentang tingkah laku sesama manusia pada umumnya dan anak-anak pada dasarnya.
2.      Untuk mengetahui perbuatan-perbuatan jiwa serta kemampuan jiwa sebagai sarana untuk mengenal tingkah laku manusia atau anak.
3.      Untuk mengetahui penyelenggaraan pendidikan dengan baik.[4]
4.      Memahami siswa sebagai pelajar meliputi perkembangannya, tabiat, kemampuan, kecerdasan, motivasi, minat, fisik, sera tentang pengalaman pribadinya.
5.      Memahami prinsip-prinsip dan teori pembelajaran.
6.      Mencipakan situasi pembelajaran dan pengajaran yang kondusif.
7.      Membantu peserta didik yang mendapat kesulitan dalam pembelajaran.
8.      Memahami dan mengembangkan kepribadian dan profesi guru.
9.      Membimbing perkembangan siswa.[5]
10.  Untuk membantu para guru dan calon guru, agar menjadi lebih bijaksana dalam usahanya membimbing anak didiknya dalam hubungannya dengan proses pertumbuhan belajar.
11.  Agar para guru dan calon memiliki dasar-dasar yang luas dalah hal mendidik pada umumnya, dan dalam bidang keahliannya pada khususnya, sehingga anak didik bisa bertambah baik dalam cara belajarnya.
12.   Agar para guru dan calon guru dapat menciptakan suatu sistem pendidikan yang efisien dan efektif dengan jalan mempelajari, menganalisis, tingkah laku anak didik dalam proses pendidikan untuk kemudian mengarahkan proses-proses pendidikan yang berlangsung itu, guna meningkatkan kearah yang lebih baik.[6]
       Jadi tegasnya ilmu jiwa adalah bertujuan untuk memberi kesenangan dan kebahagiaan hidup manusia, serta orang yang ingin sukses dalam segalanya, selain itu soal-soal penting di dalam mengajar dan mendidik dapa benar-benar diketahui.                                                                                                                 Sebetulnya setiap orang dewasa yang normal sedikit banyaknya telah mengetahui psikologi, meskipun pengetahuan mereka itu tidak sistematis jadi sebetulnya kita mempelajari psikologi itu, bukanlah sesuatu hal yang baru bagi seseorang. Semua pengertian-pengertian yang diajarkan oleh psikologi telah kita rasakan bersama. Oleh karena itu, barang siapa dapat mengetahui psikologi, ia akan dapat menempatkan dirinya sedemikian rupa di mana ia berada. Pendidikan adalah merupakan praktek dari psikologi, oleh karena itu sebetulnya seorang ahli didik hendaknya juga seorang psikolog. Sebab kalau tidak demikian si pendidik itu akan berbuat sesuatu dengan tanpa berpedoman atau berlandasan pada teori-teori yang semestinya. Psikologi dapat  memberikan sumbangan pada pendidikanya misalnya bagaimana cara seorang anak itu belajar, berpikir, mengingat dan memperhaikan.[7]                                                                        Selain itu ada yang di sebut sebagai tujuan instruksional, yang mana merupakan bagian yang penting dalam belajar dan mengajar, sehingga mendapat perhatian khusus dalam tiap model pengajaran. Ada tiga jenis yang masing-masing berbeda satu sama lainya, yakni tujuan sekolah, tujuan guru dan tujuan murid.
a.       Tujuan Sekolah
       Tujuan sekolah menunjuk pada tujuan-tujuan yang luas sesuai dengan keinginan suatu bangsa dan masyarakatnya, yang diusahakan pencapainnya melalui sistem pendidikan dan administrasi sekolah. Tujuan sekolah ini memiliki kerangka yang luas dan umum yang mengandung kemungkinan terjadinya rumusan tujuan guru dan tujuan siswa yang berbeda-beda.
       Untuk menghindari terjadinya perbedaan kontroversial dalam rumusan tujuan umum ini maka diadakan kesepakatan nasional, baik mengeni isi rumusannya maupun cara mencapai tujuan itu. Dalam konteks ini tujuan sekolah mengandung dua makna sekaligus, yakni tujuan kelembagaan dan tujuan kurikulum. Tujuan kelembagaan adalah tujuan yang hendak dicapai oleh suau lembaga pendidikan, misalnaya tujuan pendidikan sekolah dasar, tujuan sekolah menengah tingkat pertama, tujuan kurikuler adalah tujuan yang hendak dicapai oleh kurikulum yang dinyatakan sebagai tujuan bidang pengajaran atau mata pelajaran, dalam hal ini mislanya tujuan pendidkan kewarganegaraan  serta tujuan ilmu pengetahuan sosial. Tujuan-tujuan yang terakhir inilah yang erat kaitanya dengan tujuan instruksional.
       Usaha lain untuk mengembangkan tujuan sekolah juga dilakukan oleh The Russell Sage Foundation dengan cara membuat kategori yang lebih sempit untuk memudahkan huru menggunakannya. Yayasan ini mengembangkan dua garis besar tujuan sekolah yakni, kategori tujuan tingkah laku untuk sekolah dasar dan sekolah menengah.[8]
     Pada sekolah dasar pendidikan berfungsi memberikan bekal dasar pengembangan kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun masyarakat.     Disamping itu juga berfungsi mempersiapkan anak didik untuk mengikuti pendidikan ditingkat menengah pertama  sereta membekali sikap pengetahuan dan keterampilan dasar.
b.      Tujuan Guru
       Ruang lingkup tujuan guru lebih sempit dibandingkan dengan tujuan sekolah. Tujuan guru dimaksudkan untuk memberikan rujukan dalam memilih, menitik beratkan, dan mengurangi atau menghilangkan mata ajaran, material, dan kegiatan-kegiatan sewaktu mempersiapkan rencana pelajaran, pengajaran kelas, atau studi lapangan.
       Tujuan guru dapat dinyatakan dalam aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Dalam rencana pelajaran, tujuan-tujuan guru digunakan sebagai pengantar bagi deskripsi mata ajaran dan kegiatan yang lebih spesifik.[9]
c.       Tujuan siswa
       Perkembangan teori dalam psikologi belajar antara lain ditandai oleh pemberian kesempatan kepada siswa untuk turut menetukan apa yang mereka ingin pelajari, serta bagaimana cara mempelajarinya. Pandangan ini berbeda dengan teori sebelumnya yang menitikberatkan kekuasaan guru untuk menetukan  apa saja yang berkenaan dengan pelajaran di dalam kelas. Tujuan siswa menunjuk pada option dan rencana yang dinyatakan dan di ajukan oleh siswa. Para siswa mungkin punya alasan tertentu untuk mempelajari materi atau mata ajaran tertentu. Tujuannya mungkin untuk memperoleh pengetahuan yang dianggapnya berguna dalam pekerjaan, atau untuk mencapai tingkat dengan mudah.

B. Pendekatan dalam Psikologi Pembelajaran
       Pendekatan adalah “usaha mendekati” yang dilakukan oleh seseorang sebagai upaya untuk memberikan respon kepada orang yang didekati. Telah ada pendanangan mengenai pendekatan untuk pembelajaran, diantaranya adalah pendekatan kognitif, pendekatan behaviorial dan pendekatan terapan.
a.       Pendekatan Behaviorialisme
       Pendekatan behaviorialisme menekankan arti penting dari bagaimana anak membuat hubungan antara pengalaman dan perilaku. Selain itu  pendekatan behaviorial adalah pandangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat di amati bukan dengan proses mental, menurut para kaum behaviorisme, perilaku adalah segala sesuatu yang kita lakukan dan bisa dilihat secara langsung. Contohnya seperti: murid membuat gambar lalu diperlihatkan kepada gurunya, kemudian guru tersebut tersenyum melihat anak yang melihatkan gambar, hal tersebut merupakan perilaku guru terhadap muridnya agar anak tersebut senang dengan yang dilakukan. Hal tersebut adalah salah satu cara unuk mendekati murid dengan respon yang diberikan oleh guru terhadap murid.
        Selain itu ada juga yang disebut sebagai proses mental yang didefenisikan oleh para psikologi sebagai pikiran, perasaan, dan motif yang  kita alami, namun tidak bisa dilihat oleh orang lain. Meskipun tidak bisa melihat pikiran, perasaan, dan motif secara langsung, semua itu adalah sesuatu yang nyata, seperi pemikiran anak tenang cara membuat poster, perasaan senang seorang guru kepada muridnnya, juga dalam hal motivasi anak untuk mengontrol perilakunya.
       Menurut behaviorisme, pemikiran, perasaan, dan motif, ini bukan merupakan subjek yang tepat untuk ilmu perilaku, sebab semuanya itu tidak bisa di lakukan observasi secara langsung. [10]
       Untuk mengefektifitaskan aktifitas pembelajaran, Skinner mendeskripsikan empat teori pembelajaran sebagai berikut.  Pertama peran pendidikan hakikatnya adalah menciptakan kondisi agar hanya tingkah laku yang dinginkan saja yang diberi penguat. Kedua stimulus yang bersifat diskriptif hendaknya diberikan sebagai penunjang aktivitas belajar. Ketiga mempreskripsikan agar para pendidik membuat catatan kemajuan mengenai peserta didiknya. Keempat  mempreskripsikan agar pendidik membuat rekomendasi tentang tugas-tugas belajar mana yang seharusnya di coba dahulu, serta hasil-hasil apa saja yang diharapkan dengan keseluruhan aktivitas yang telah di programkan itu.[11]

b.      Pendekatan kognitif
       Kognitif  berarti pikiran, sedangkan psikologi lebih bersifat kognitif atau mulai lebih berfokus pada pikiran di akhir abad kedua puluh ini. Penekanan kognitif terus berlanjut hingga hari ini dan menjadi dasar bagi banyak pendekatan pembelajaran. Ada empat macam pendekatan kognitif yaitu: kognitif sosial, pemerosesan informasi kognitif, konstruktivis kognitif dan konstruktivis sosial. Pendekatan kognitif sosial menekankan bagaimana faktor-faktor perilaku, lingkungan dan individu berinteraksi untuk memengaruhi pembelajaran, kemudian pendekatan pemrosesan informasi yang dilakukan melalui perhatian, ingatan, pemikiran dan proses kognitif lainnya dalam pendekatan ini murid mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi yang berkenaan dengan informasi tersebut. Inti dari pendekatan ini adalah bagaimana pemrosesan informasi  anak, anak secara bertahap, mengembangkan kapasitas untuk memproses informasi, dan karenanya bertahap pula mereka bisa mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang kompleks.
       Pendekatan konstruktivis kognitif, menekankan terhadap pengetahuan dan pemahaman. Yang terakhir adalah pendekatan konsruktivis sosial, terfokus pada kolaborasi dengan orang lain untuk menghasilkan pengetahuan dan pemahaman, pendekatan konstruktivis social ini secara bersama melibatkan dengan orang lain untuk membuka kesempatan bagi para murid untuk mengevaluasi dan memperbaiki pemahaman mereka saat mereka bertemu dengan pemikiran orang lain.[12]
c.       Pendekatan terapan
       Sebagai salah satu bagian dari pembelajaran yang diterapkan, pendekatan terapan didasarkan pada asumsi bahwa, setelah melalui pengalaman belajar, para peserta didik dapat menerapkan prinsip dan prosedur pengembangan aktivitas belajar. Adapun landasan pijak pendekatan terapan tersebut adalah teori belajar dari Galperin yang mendeskripsikan belajar adalah upaya untuk mendapatkan pengeahuan melalui empat tahapan kegiatan yang saling berkaitan, yaitu orientasi, latihan, umpan balik, dan fase lanjutan. Sehubungan dengan adanya fase belajar tersebut, maka empat fungsi pembelajaran itu adalah sebagai berikut. Pertama memberikan orientasi materi kepada para murid. Kedua memberikan kesempatan kepada murid untuk berlatih dan menerapkan materi yang di bahas pada tahapan orientasi, kemudian diikuti dengan, ketiga memberi pengertian tentang hasil belajar yang telah dicapai dalam proses belajar yang dilakukan,dan keempat memberikan kesempatan untuk memberikan dan melanjutkan latihan.
       Secara konsepsional, ketiga alternatif pendekatan yang ada berpijak pada teori belajar dan teorama pembelajaran yang berbeda, dengan pendapat yang berbeda, melalui strataegi belajar mengajar yang berbeda dan tujuan pembelajaran dan pengembangan keterampilan yang berbeda pula. Pendekatan behaviorial lebih unggul dalam hal pengembangan keterampilan motorik dan pembentukan kemampuan dasar, melalui proses pembiasaan. Sebaliknya pendekatan kognitif justru lebih unggul dalam upaya pemahaman konsep dasar dan kemampuan menemukan interelasi antar konsep sehingga membentuk prinsip baru, kaidah baru, aturan baru, serta pengembangan kreativitas yang bertumpu pada daya cipta, rasa, karsa pembelajar selaku individu. Adapun pendekatan terapan secara konsepsional memiliki keunggulan dalam hal pengembangan kemampuan srtategi kognitif yang terikat pada pola struktur prosedur dan sistem tertentu.[13]
        Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran dimana siswa belajar dengan cara paling baik ketika lingkungan pembelajaran disesuaikan pada tujuan tertentu, misalnya seperti latar belakang dan pengetahuan yang telah dimiliki siswa, serta pada konteks dimana pembelajaran akan terjadi. Jadi, guru tidak hanya harus memahami prisip-prinsip dasar pembelajaran , tetapi juga harus mengetahui cara-cara untuk menggunakannya secara bijaksana guna memenuhi beragam tujuan pembelajaran dimana kebutuhan-kebutuahan siswa yang berbeda-beda.[14]

Daftar Pustaka

Ahmadi Abu, (2003) Psikologi Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta
Hamalik Oemar, (2012) Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar baru       Algensindo
Santrock Jhon W, (2009) Psikologi Pendidikan. Jakarta: Salemba Humainika
Santrock Jhon w, (20011) Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana
Tohirin, (2008) Psikologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta: Raja Grafindo



         [1]Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag., Drs. Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm. 42
         [2]Dr. Hamzah B. Uno, M.Pd., Perencanaan Pembelajaran, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010), hlm. 34
         [3]Hamzah B Uno., Op.Cit.hlm. 2-3
         [4]Abu Ahmadi, Psikologi Umum, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003) hlm. 30-33
         [5]Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2008), hlm. 14-15
             [7]Abu Ahmadi,Op.Cit. hlm. 33-34
             [8]Dr. Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2012), hlm. 71
                [9]Ibid., hlm.73
             [10]Jhon W Santrock, Psikologi pendidikan, (Jakarta: Salemba Humainika, 2005), hlm. 266-267
             [11]Hamzah B Uno., Op.Cit., hlm.51.
         [12]Jhon W Sanrock, Op. Cit., hlm. 301-302
         [13]Hamzah B Uno, Op.Cit., hlm. 56.
         [14]Jhon W Santrock, Psikologi pendidikan, (Jakarta: Salemba Humainika, 20011), hlm.303

0 komentar:

Posting Komentar