A.
Tujuan Psikologi Pembelajaran
Tujuan adalah
sesuatu yang ingin di capai atau diraih, jika suatu kegiatan dilakukan tanpa
rencana maka itu adalah suatu hal yang tidak memiliki kepastian untuk menetukan
ke arah mana kegiatan akan dituju.[1]
Jika dilihat dari sejarahnya tujuan pembelajaran pertama
kali diperkenalkan oleh B.F Skinner pada tahun 1950 yang kemudian diterapkanya
dalam ilmu perilaku (behaviorial
science), dengan maksud untuk meningkatkan mutu pembelajaran.[2]
Di dalam pendidikan dan pengajaran tujuan dapat diartikan
sebagai suatu usaha untuk memberikan rumusan hasil yang diharapkan dari siswa
atau subjek belajar, setelah menyelesaikan atau memperoleh pengalaman belajar.
Pada
garis besarnya orang mempelajari psikologi adalah untuk menjadikan agar
hidupnya menjadi baik, bahagia dan sempurna. Begitu juga hakikatnya dengan
pembelajaran yang memiliki arti sebagai perencanaan dan perancangan sebagai upaya untuk membelajarkan siswa,
itulah sebabnya dalam belajar, siswa tidak hanya berinteraksi dengan
keseluruhan sumber belajar yang dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
diinginkan. Oleh karena itu suatu pelajaran memusatkan perhatian pada
bagaimana membelajarkan siswa. Psikologi pembelajaran sangat penting dalam rangka
menciptakan kemampuan guru
untuk mengelola proses belajar mengajar sesuai dengan prinsip-prinsip kejiwaan
peserta didik. Sebab dimanapun proses pendidikan
berlangsung, alasan utama kehadiran guru adalah untuk membantu mendorong siswa agar belajar dengan
sebaik-baiknya.[3]
Berdasarkan
uraian-uraian yang telah disebutkan diatas dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa
tujuan mempelajari psikologi itu adalah:
1. Untuk memperoleh faham tentang
gejala-gejala jiwa dan pengertian yang lebih sempurna tentang tingkah laku sesama
manusia pada umumnya dan anak-anak pada dasarnya.
2. Untuk mengetahui perbuatan-perbuatan
jiwa serta kemampuan jiwa sebagai sarana untuk mengenal tingkah laku manusia
atau anak.
3. Untuk mengetahui penyelenggaraan
pendidikan dengan baik.[4]
4. Memahami siswa sebagai pelajar meliputi
perkembangannya, tabiat, kemampuan, kecerdasan, motivasi, minat, fisik, sera
tentang pengalaman pribadinya.
5. Memahami prinsip-prinsip dan teori
pembelajaran.
6. Mencipakan situasi pembelajaran dan
pengajaran yang kondusif.
7. Membantu peserta didik yang mendapat
kesulitan dalam pembelajaran.
8. Memahami dan mengembangkan kepribadian
dan profesi guru.
9. Membimbing perkembangan siswa.[5]
10. Untuk membantu para guru dan calon guru, agar menjadi lebih
bijaksana dalam usahanya membimbing anak didiknya dalam hubungannya dengan
proses pertumbuhan belajar.
11. Agar para guru dan calon memiliki dasar-dasar yang luas
dalah hal mendidik pada umumnya, dan dalam bidang keahliannya pada khususnya,
sehingga anak didik bisa bertambah baik dalam cara belajarnya.
12. Agar para guru dan calon
guru dapat menciptakan suatu sistem pendidikan yang efisien dan efektif dengan
jalan mempelajari, menganalisis, tingkah laku anak didik dalam proses
pendidikan untuk kemudian mengarahkan proses-proses pendidikan yang berlangsung
itu, guna meningkatkan kearah yang lebih baik.[6]
Jadi tegasnya ilmu jiwa
adalah bertujuan untuk memberi kesenangan dan kebahagiaan hidup manusia, serta
orang yang ingin sukses dalam segalanya, selain itu soal-soal penting di dalam
mengajar dan mendidik dapa benar-benar diketahui.
Sebetulnya setiap orang dewasa yang normal
sedikit banyaknya telah mengetahui psikologi, meskipun pengetahuan mereka itu
tidak sistematis jadi sebetulnya kita mempelajari psikologi itu, bukanlah
sesuatu hal yang baru bagi seseorang. Semua pengertian-pengertian yang
diajarkan oleh psikologi telah kita rasakan bersama. Oleh karena itu, barang
siapa dapat mengetahui psikologi, ia akan dapat menempatkan dirinya sedemikian
rupa di mana ia berada. Pendidikan adalah merupakan praktek dari psikologi,
oleh karena itu sebetulnya seorang ahli didik hendaknya juga seorang psikolog.
Sebab kalau tidak demikian si pendidik itu akan berbuat sesuatu dengan tanpa
berpedoman atau berlandasan pada teori-teori yang semestinya. Psikologi
dapat memberikan sumbangan pada
pendidikanya misalnya bagaimana cara seorang anak itu belajar, berpikir,
mengingat dan memperhaikan.[7] Selain itu ada
yang di sebut sebagai tujuan instruksional, yang mana merupakan bagian yang
penting dalam belajar dan mengajar, sehingga mendapat perhatian khusus dalam
tiap model pengajaran. Ada tiga jenis yang masing-masing berbeda satu sama
lainya, yakni tujuan sekolah, tujuan guru dan tujuan murid.
a. Tujuan Sekolah
Tujuan sekolah menunjuk pada tujuan-tujuan
yang luas sesuai dengan keinginan suatu bangsa dan masyarakatnya, yang diusahakan
pencapainnya melalui sistem pendidikan dan administrasi sekolah. Tujuan sekolah
ini memiliki kerangka yang luas dan umum yang mengandung kemungkinan terjadinya
rumusan tujuan guru dan tujuan siswa yang berbeda-beda.
Untuk menghindari terjadinya perbedaan
kontroversial dalam rumusan tujuan umum ini maka diadakan kesepakatan nasional,
baik mengeni isi rumusannya maupun cara mencapai tujuan itu. Dalam konteks ini
tujuan sekolah mengandung dua makna sekaligus, yakni tujuan kelembagaan dan tujuan
kurikulum. Tujuan kelembagaan adalah tujuan yang hendak dicapai oleh suau
lembaga pendidikan, misalnaya tujuan pendidikan sekolah dasar, tujuan sekolah
menengah tingkat pertama, tujuan kurikuler adalah tujuan yang hendak dicapai
oleh kurikulum yang dinyatakan sebagai tujuan bidang pengajaran atau mata
pelajaran, dalam hal ini mislanya tujuan pendidkan kewarganegaraan serta tujuan ilmu pengetahuan sosial. Tujuan-tujuan
yang terakhir inilah yang erat kaitanya dengan tujuan instruksional.
Usaha
lain untuk mengembangkan tujuan sekolah juga dilakukan oleh The Russell Sage
Foundation dengan cara membuat kategori yang lebih sempit untuk memudahkan huru
menggunakannya. Yayasan ini mengembangkan dua garis besar tujuan sekolah yakni,
kategori tujuan tingkah
laku untuk sekolah dasar dan sekolah menengah.[8]
Pada sekolah
dasar pendidikan berfungsi memberikan bekal dasar pengembangan kehidupan, baik
kehidupan pribadi maupun masyarakat. Disamping itu
juga berfungsi mempersiapkan anak didik untuk mengikuti pendidikan ditingkat
menengah pertama sereta membekali sikap
pengetahuan dan keterampilan dasar.
b. Tujuan Guru
Ruang
lingkup tujuan guru lebih sempit dibandingkan dengan tujuan sekolah. Tujuan
guru dimaksudkan untuk memberikan rujukan dalam memilih, menitik beratkan, dan
mengurangi atau menghilangkan mata ajaran, material, dan kegiatan-kegiatan
sewaktu mempersiapkan rencana pelajaran, pengajaran kelas, atau studi lapangan.
Tujuan guru dapat dinyatakan
dalam aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Dalam rencana pelajaran,
tujuan-tujuan guru digunakan sebagai pengantar bagi deskripsi mata ajaran dan
kegiatan yang lebih spesifik.[9]
c. Tujuan siswa
Perkembangan
teori dalam psikologi belajar antara lain ditandai oleh pemberian kesempatan
kepada siswa untuk turut
menetukan apa yang mereka ingin pelajari, serta bagaimana cara mempelajarinya.
Pandangan ini berbeda dengan teori sebelumnya yang menitikberatkan kekuasaan
guru untuk menetukan apa saja yang
berkenaan dengan pelajaran di dalam kelas. Tujuan siswa menunjuk pada option dan rencana yang dinyatakan dan
di ajukan oleh siswa. Para siswa mungkin punya alasan tertentu untuk mempelajari materi
atau mata ajaran tertentu. Tujuannya
mungkin untuk memperoleh pengetahuan yang dianggapnya berguna dalam pekerjaan,
atau untuk mencapai tingkat dengan mudah.
B.
Pendekatan dalam Psikologi Pembelajaran
Pendekatan
adalah “usaha mendekati” yang dilakukan oleh seseorang sebagai upaya untuk
memberikan respon kepada orang yang didekati. Telah ada pendanangan mengenai
pendekatan untuk pembelajaran, diantaranya adalah pendekatan kognitif, pendekatan behaviorial dan pendekatan terapan.
a. Pendekatan Behaviorialisme
Pendekatan
behaviorialisme menekankan arti penting dari bagaimana anak membuat hubungan
antara pengalaman dan perilaku. Selain itu
pendekatan behaviorial adalah pandangan yang menyatakan bahwa perilaku
harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat di amati bukan dengan proses
mental, menurut para kaum behaviorisme, perilaku adalah segala sesuatu yang kita
lakukan dan bisa dilihat
secara langsung. Contohnya seperti: murid membuat gambar lalu diperlihatkan
kepada gurunya, kemudian guru tersebut tersenyum melihat anak yang melihatkan
gambar, hal tersebut merupakan perilaku guru terhadap muridnya agar anak tersebut
senang dengan yang dilakukan. Hal tersebut adalah salah satu cara unuk
mendekati murid dengan respon yang diberikan oleh guru terhadap murid.
Selain
itu ada juga yang disebut sebagai proses mental yang didefenisikan oleh para
psikologi sebagai pikiran, perasaan, dan motif yang kita alami, namun tidak bisa dilihat oleh
orang lain. Meskipun tidak bisa melihat pikiran, perasaan, dan motif secara
langsung, semua itu adalah sesuatu yang nyata,
seperi pemikiran anak tenang cara membuat poster, perasaan senang seorang guru
kepada muridnnya, juga dalam hal motivasi anak untuk mengontrol perilakunya.
Menurut
behaviorisme, pemikiran, perasaan, dan motif, ini bukan merupakan subjek yang
tepat untuk ilmu perilaku, sebab semuanya itu tidak bisa di lakukan observasi
secara langsung. [10]
Untuk
mengefektifitaskan aktifitas pembelajaran, Skinner mendeskripsikan empat teori
pembelajaran sebagai berikut. Pertama peran pendidikan hakikatnya adalah menciptakan
kondisi agar hanya tingkah laku yang dinginkan saja yang diberi penguat. Kedua stimulus yang bersifat diskriptif
hendaknya diberikan sebagai penunjang aktivitas belajar. Ketiga mempreskripsikan
agar para pendidik membuat catatan kemajuan mengenai peserta didiknya. Keempat mempreskripsikan agar pendidik membuat
rekomendasi tentang tugas-tugas belajar mana yang seharusnya di coba dahulu,
serta hasil-hasil apa saja yang diharapkan dengan keseluruhan aktivitas yang
telah di programkan itu.[11]
b. Pendekatan kognitif
Kognitif berarti pikiran, sedangkan psikologi lebih
bersifat kognitif atau mulai lebih berfokus pada pikiran di akhir abad kedua
puluh ini. Penekanan kognitif terus berlanjut hingga hari ini
dan menjadi dasar bagi banyak pendekatan pembelajaran. Ada empat macam
pendekatan kognitif yaitu: kognitif sosial,
pemerosesan informasi kognitif, konstruktivis kognitif dan konstruktivis sosial. Pendekatan
kognitif sosial
menekankan bagaimana faktor-faktor
perilaku, lingkungan dan individu berinteraksi untuk memengaruhi pembelajaran,
kemudian pendekatan pemrosesan informasi yang dilakukan melalui perhatian,
ingatan, pemikiran dan proses kognitif lainnya dalam pendekatan ini murid
mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi yang berkenaan dengan
informasi tersebut. Inti dari pendekatan ini adalah bagaimana pemrosesan
informasi anak, anak secara bertahap, mengembangkan
kapasitas untuk memproses informasi, dan karenanya bertahap pula mereka bisa
mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang kompleks.
Pendekatan
konstruktivis kognitif, menekankan terhadap pengetahuan dan pemahaman. Yang
terakhir adalah pendekatan konsruktivis sosial,
terfokus pada kolaborasi dengan orang lain untuk menghasilkan pengetahuan dan
pemahaman, pendekatan konstruktivis social ini secara bersama melibatkan dengan
orang lain untuk membuka kesempatan bagi para murid untuk mengevaluasi dan
memperbaiki pemahaman mereka saat mereka bertemu dengan pemikiran orang lain.[12]
c. Pendekatan terapan
Sebagai
salah satu bagian dari pembelajaran yang diterapkan, pendekatan terapan
didasarkan pada asumsi bahwa, setelah melalui pengalaman belajar, para peserta
didik dapat
menerapkan prinsip dan prosedur pengembangan aktivitas belajar. Adapun landasan
pijak pendekatan terapan tersebut adalah teori belajar dari Galperin yang mendeskripsikan belajar
adalah upaya untuk mendapatkan pengeahuan melalui empat tahapan kegiatan yang
saling berkaitan,
yaitu orientasi,
latihan, umpan balik, dan fase lanjutan. Sehubungan dengan adanya fase belajar
tersebut, maka empat fungsi pembelajaran itu adalah sebagai berikut. Pertama memberikan orientasi materi kepada para murid. Kedua memberikan kesempatan kepada murid
untuk berlatih dan menerapkan materi yang di bahas pada tahapan orientasi,
kemudian diikuti dengan, ketiga memberi
pengertian tentang hasil belajar yang telah dicapai dalam proses belajar yang
dilakukan,dan keempat memberikan
kesempatan untuk memberikan dan melanjutkan latihan.
Secara konsepsional, ketiga alternatif
pendekatan yang ada berpijak pada teori belajar dan teorama pembelajaran yang
berbeda, dengan pendapat yang berbeda, melalui strataegi belajar mengajar yang
berbeda dan tujuan pembelajaran dan pengembangan keterampilan yang berbeda
pula. Pendekatan behaviorial lebih unggul
dalam hal pengembangan keterampilan motorik
dan pembentukan kemampuan dasar, melalui proses pembiasaan. Sebaliknya
pendekatan kognitif justru lebih unggul dalam upaya pemahaman konsep dasar dan
kemampuan menemukan interelasi antar konsep sehingga membentuk prinsip baru,
kaidah baru, aturan baru, serta pengembangan kreativitas yang bertumpu pada
daya cipta, rasa, karsa pembelajar selaku individu. Adapun pendekatan terapan
secara konsepsional memiliki keunggulan dalam hal pengembangan kemampuan
srtategi kognitif yang terikat pada pola struktur prosedur dan sistem tertentu.[13]
Pembelajaran
yang baik adalah pembelajaran dimana siswa belajar dengan cara paling baik
ketika lingkungan pembelajaran disesuaikan pada tujuan tertentu, misalnya
seperti latar belakang dan pengetahuan yang telah dimiliki siswa, serta pada
konteks dimana pembelajaran akan terjadi. Jadi, guru tidak hanya harus memahami
prisip-prinsip dasar pembelajaran , tetapi juga harus mengetahui cara-cara
untuk menggunakannya secara bijaksana guna memenuhi beragam tujuan pembelajaran
dimana kebutuhan-kebutuahan siswa yang berbeda-beda.[14]
Daftar
Pustaka
Ahmadi Abu, (2003) Psikologi
Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta
Hamalik Oemar, (2012) Psikologi
Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar baru Algensindo
Santrock Jhon
W, (2009) Psikologi Pendidikan. Jakarta:
Salemba Humainika
Santrock Jhon
w, (20011) Psikologi Pendidikan. Jakarta:
Kencana
Tohirin,
(2008) Psikologi Pembelajaran Agama
Islam. Jakarta: Raja Grafindo

0 komentar:
Posting Komentar