Copyright © Muslimische Frau
Design by Dzignine
Selasa, 11 Februari 2014

Kemukjizatan Al-Qur'an




Kemukjizatan Al-Qur’an
1.    Pengertian Mukjizat
       Mukjizat adalah kejadian (peristiwa) ajaib yg sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia[1].  Kata mukjizat terambil dari bahasa Arab أعجز (a’jaza) yang berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Sedangkan kata أعجز (a’jaza) itu sendiri berasal dari kata عجز (‘ajaza) yang berarti tidak mempunyai kekuatan (lemah). Pelakunya (yang melemahkan) dinamai mukjiz, dan bila kemampuannya melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkam lawan, maka dinamaiمعجزة (mu’jizat). Tambahan ta marbuthah pada akhir kata itu mengandung makna mubalaghah (superlatif). I’jaz (kemukjizatan) dalam bahasa Arab adalah menisbatkan kepada orang lain.[2]  Maksud dari I’jaz disini adalah menampakkan kebenaran Nabi dalam pengakuannya sebagai Rasul dengan menampakkan kelemahan orang Arab untuk menghadapi mukjizatnya yang abadi, yaitu Qur’an dan kelemahan generasi-generasi sesudah mereka.[3] Mukjizat adalah sesuatu yang luar biasa yang bertentangan dengan adat dan keluar dari batas-batas yang telah diketahui.

2.    Ragam Mukjizat
Secara garis besar, mukjizat dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu mukjizat yang bersifat material indrawi yang tidak kekal dan mukjizat immaterial, logis, dan dapat dibuktikan sepanjang masa. Mukjizat nabi-nabi terdahulu merupakan jenis pertama. Mukjizat mereka bersifat material dan indrawi dalam arti keluarbiasaan tersebut dapat disaksikan dan dijangkau langsung lewat indra oleh masyarakat tempat mereka menyampaikan risalahnya.[4]

3.    Fungsi Mukjizat
Mukjizat berfungsi sebagai bukti kebenaran para Nabi. Keluarbiasaan  yang tampak atau terjadi melalui mereka itu diibaratkan sebagai ucapan Tuhan : ” Apa yang dikatakan oleh sang Nabi adalah benar,dia adalah utusan-Ku,dan buktinya adalah Aku melakukan mu’jizat itu.”[5] Sumber daya manusia sungguh sangat besar dan tidak dapat dibayangkan kapasitasnya. Potensi kalbu yang merupakan salah satu sumber daya manusia dapat menghasilkan hal-hal yang luar biasa yang boleh jadi tidak diakui oleh orang yang tidak mengenalnya,hal ini sama dengan penolakan generasi terdahulu tentang banyaknya kenyataan masa kini yang lahir dari pengembangan daya pikir. Sama sekali bukan suatu hal yang mustahil apabila kesucian jiwa para Nabi dapat menghasilkan melalui bantuan Allah peristiwa luar biasa dipandang dari ukuran hukum-hukum alam yang diketahui umum,padahal sesungguhnya ia mempunyai hukum-hukumnya tersendiri dan yang dapat dilakukan oleh siapapun selama terpenuhi syarat-syaratnya.
4.    Argumentasi Kemukjizatan Al-Qur’an
Para ulama sepakat bahwa kemukjizatan Al-Qur’an itu karena zatnya, serta tak seorang pun yang sanggup mendatangkan sesamanya, namun mereka berbeda pendapat dalam meninjau kemukjizatannya itu, seperti berikut ini:
a)      Sebagian ulama berpendapat bahwa segi kemukjizatan Al-Qur’an adalah sesuatu yang terkandung dalam Al-Qur’an itu sendiri, yaitu susunan yang tersendiri dan berbeda dengan bentuk puisi orang Arab maupun bentuk prosanya, baik dalam permulaan, suku kalimatnya maupun dalam pungtuasinya.
b)      Sebagian ada yang berpendapat bahwa segi kemukjizatan itu terkandung dalam lafal-lafalnya yang jelas, redaksinya yang bernilai sastra dan susunannya yang indah, karena nilai sastra yang terkandun dalam Al-Qur’an itu sangat tinggi dan tidak ada bandingannya.
c)      Ulama lain berpendapat bahwa kemukjizatan itu karena Al-Qur’an terhindar dari adanya pertentangan, dan mengandung arti yang lembut dan hal-hal gaib di luar kemampuan manusia dan di luar kekuasaan mereka untuk mengetahuinya sehingga Al-Qur’an mampu menjauhi adanya pertentangan dan perselisihan pendapat.
d)      Ada lagi ulama yang berpendapat bahwa segi kemukjizatan Al-Qur’an adalah keistimewaan-keistimewaan yang nampak keindahan-keindahan yang terkandung dalam Al-Qur’an , baik dalam permulaan, tujuan maupun dalam menutup setiap surat. Pendapat yang diyakini mereka yaitu: jelas dalam lafal atau bunyinya, bernilai sastra dalam makna-maknya, bentuk susunannya yang indah.
Apapun argumentasi jumhur ulama ini tidak keluar dari Ilmu bayan yang menjadi keistimewaan Al-Qur’an. Pendapat ini meskipun benar namun kemukjizatan Al-Qur’an itu bukan hanya terdapat pada kejelasan dan kesusteraan saja, tetapi ada lagi segi-segi lain yang bisa menimbulkan kemukjizatan.[6]



5.    Aspek-Aspek Kemukjizatan Al-Qur’an
Al-Qur’an memiliki i’ja>z  yang sangat luar biasa dari segala segi baik dari sistematika susunan dalam mushaf,  gaya bahasa,  penempatan satu kata dalam kalimat serta makna yang dikandungn dalamnya. Adapun aspek-aspek kemukjizatan al-Quran, sebagai berikut:
a) Al-Qur’an mengandung berita yang ghoib yang tidak ada seorangpun   mampu manandinginya.[7] Adapun berita-berita ghoib itu, sebagai berikut:
1) Keghaiban masa lampau, seperti kisah Nabi Musa AS, kisah Fir’aun, as}hab al-kahfi, dan kaum ‘Ad dan Tsamud. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 67 kisah Nabi Musa dan kisah Fir’aun dalam surat al-Qas}os ayat 4.
2) Keghaiban masa yang akan datang, seperti kisah kemengangan Romawi setelah kekalahannya, kasus al-Walid bin al-Mughiroh dan kasus Abu Jahal. Sebagaimana firman Allah surat ar-Ru>m ayat 1-5 tentang kemenagan Romawi dan kekalahannya.
3) Keghaiban masa sekarang. Terbukanaya niat busuk orang munafik dimasa Rasulullah Saw. Sebagaimana firman Allah :
  
Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, Padahal ia adalah penantang yang paling keras. (QS. Al-Baqarah [2]: 4).
b) Pemberitahuan tentang kondisi Nabi sebagai orang yang ummi, Nabi yang tidak bisa membaca dan menulis. Begitu pula pemberitahuan mengenai kondisi beliau yang sama sekali tidak tahu kitab-kitab terdahulu, baik tentang kisah, berita, maupun riwayat mereka. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba menyampaikan kepada beliau ringkasan peristiwa yang pernah terjadi, yakni persoalan besar dan sejarah yang sangat pentng; dimulai sejak Allah menciptakan Adam as. yang mencakup permulaan penciptaannya, persoalan yang dihadapinya hingga perbuatan yang mengakibatkannya diusir dari surga, kemudian diterangkan secara ringkas persoalan anak-anaknya, kondisi dan pertaubatannya. Begitu pula, dengan kisah Ibrahim as. dan nabi-nabi yang tertulis dalam al-Qur’an. Beliau tidak mungkin memperoleh pengetahuan seperti itu jika bukan melalui wahyu.[8] Sebagaimana firman Allah surat al-Ankabu>t ayat 48 :

Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). (QS. Al-Ankabuut [29]: 48)
c) Mengandung unsur balaghah yang sangat tinggi. Sebagaimana kita ketahui, bahwa orang Arab pandai dalam berbahasa arab, sastra serta membuat sya’ir-sya’ir ataupun puisi. Namun ketika mereka dihadapkan kepada Al-Qur’an mereka tiada bandingannya. Struktur yang mengadung mukjizat diantaranya ada yang bertumpu pada bentuk global, yakni struktur al-Qur’an dilihat dari berbagai aspek dan penjelasan modelnya yang berada diluar struktur kalimat yang bisa digunakan oleh orang Arab. Al-Qur’an memiliki gaya bahasa yang istimewa; sangat berbeda dengan gaya bahasa percakapan yang dilakukan seperti biasanya. Hal itu karena cara-cara yang digunakan kalimat yang indah strukturnya terbagi menjadi mantra-mantra syair dengan berbagai perbedaannya, aneka kalimat berima tak bersajak, kalimat berirama dan bersajak, serta kalimat bebas. Melalui cara-cara ini, ketepatan dan manfaat diusahakan, begitu pula dengan pemahaman makna yang dikemukakan dengan indah, gaya bahasa yang tertib dan lembut. Selain itu, bagi orang Arab tidak mungkin memiliki fas}ahah kalimat yang demikian halus, kaidah yang luar biasa, keselarasan dengan balaghah, penggunaan istilah yang samar dan mahir yang demikian panjang dan mencukupi. Orang-orang bijak dikalangan mereka biasanya hanya mampu membuat kata-kata yang beragam dan sedikit lafalnya, sedangkan al-Qur’an mengkolerasikan semuanya dan tetap terjaga fas}ahah nya. Sebagaimana firman Allah surat az-Zumar ayat 23:
  
Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. (QS. Az-Zumar [39]: 23)
d) Al-Qur’an mengandung bermacam-macam ilmu pengetahuan dan hikmah yang sangat mendalam. Pada hakikatnya, Al-Qur’an merupakan mukjizat dengan segala makna yang dibawakan dan dikandung oleh lafaz}-lafaz}nya, yaitu:
1) Mukjizat dalam lafaz} dan keindahan susunan kalimat (uslub). Maksudnya yaitu satu huruf dari al-Qur’an merupakan i’ja>z dalam susunan kata (kalimat) dan susunan kata merupakan i’ja>z dalam jumlah dan jumlah dalam al-Qur’an merupakan mukjizat dalam surah.
2)  Mukjizat dalam bayan (penjelasan) dan naz}am. Seorang pembaca akan menemukan gambaran hidup bagi kehidupan, alam dan manusia. Maknanya menyingkap tabir hakikat kemanusiaan dan pesan alam.
3)  Mukjizat dalam tasyri’ dan pemeliharaannya terhadap hak-hak asasi manusia.[9]


[1]Kamus Besar Bahasa Indonesia
[2]Prof. Dr. Muhammad Ali Ash-Shaabuuniy, Studi Ilmu Al-Qur’an, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), hlm. 118.
[3] Manna Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an,(Bogor: Pustaka AntarNusa, 2011), hlm. 369
[4]Quraish Shihab,  Mukjizat Al-Qur’an, (Jakarta: Mizan, 1997), hlm. 38.
[5]Ibid.,  hlm. 35
[6]Manna Khalil Al-Qattan, Op.Cit., hlm. 136-137.
[7]Jalaluddin al-Suyuti, al-Itqa>n fi Ulu>m Al-Qur’an, (Beiru>t: Dar al-Fikr,2008), hlm. 610.
[8]Issa J. Boullata, Al-Qur’an Yang Menakjubkan, (Jakarta: Lentera Hati, 2008), hlm. 116.
[9]Manna Khalil Al-Qattan, Op. Cit, hlm 377.

0 komentar:

Posting Komentar