Kemukjizatan
Al-Qur’an
1.
Pengertian
Mukjizat
Mukjizat adalah kejadian
(peristiwa) ajaib yg sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia[1]. Kata mukjizat terambil dari bahasa Arab أعجز (a’jaza) yang berarti
melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Sedangkan kata أعجز (a’jaza) itu sendiri
berasal dari kata عجز
(‘ajaza) yang berarti tidak mempunyai kekuatan (lemah). Pelakunya (yang
melemahkan) dinamai mukjiz, dan bila kemampuannya melemahkan pihak lain amat
menonjol sehingga mampu membungkam lawan, maka dinamaiمعجزة (mu’jizat). Tambahan ta
marbuthah pada akhir kata itu mengandung makna mubalaghah (superlatif). I’jaz
(kemukjizatan) dalam bahasa Arab adalah menisbatkan kepada orang lain.[2] Maksud dari I’jaz disini adalah menampakkan
kebenaran Nabi dalam pengakuannya sebagai Rasul dengan menampakkan kelemahan
orang Arab untuk menghadapi mukjizatnya yang abadi, yaitu Qur’an dan kelemahan
generasi-generasi sesudah mereka.[3]
Mukjizat adalah sesuatu yang luar biasa yang bertentangan dengan adat dan
keluar dari batas-batas yang telah diketahui.
2.
Ragam
Mukjizat
Secara garis
besar, mukjizat dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu mukjizat yang bersifat
material indrawi yang tidak kekal dan mukjizat immaterial, logis, dan dapat
dibuktikan sepanjang masa. Mukjizat nabi-nabi terdahulu merupakan jenis
pertama. Mukjizat mereka bersifat material dan indrawi dalam arti keluarbiasaan
tersebut dapat disaksikan dan dijangkau langsung lewat indra oleh masyarakat
tempat mereka menyampaikan risalahnya.[4]
3.
Fungsi
Mukjizat
Mukjizat
berfungsi sebagai bukti kebenaran para Nabi. Keluarbiasaan yang tampak atau terjadi melalui mereka itu
diibaratkan sebagai ucapan Tuhan : ” Apa yang dikatakan oleh sang Nabi adalah
benar,dia adalah utusan-Ku,dan buktinya adalah Aku melakukan mu’jizat itu.”[5] Sumber
daya manusia sungguh sangat besar dan tidak dapat dibayangkan kapasitasnya.
Potensi kalbu yang merupakan salah satu sumber daya manusia dapat menghasilkan
hal-hal yang luar biasa yang boleh jadi tidak diakui oleh orang yang tidak
mengenalnya,hal ini sama dengan penolakan generasi terdahulu tentang banyaknya
kenyataan masa kini yang lahir dari pengembangan daya pikir. Sama sekali bukan
suatu hal yang mustahil apabila kesucian jiwa para Nabi dapat menghasilkan
melalui bantuan Allah peristiwa luar biasa dipandang dari ukuran hukum-hukum
alam yang diketahui umum,padahal sesungguhnya ia mempunyai hukum-hukumnya
tersendiri dan yang dapat dilakukan oleh siapapun selama terpenuhi
syarat-syaratnya.
4.
Argumentasi
Kemukjizatan Al-Qur’an
Para
ulama sepakat bahwa kemukjizatan Al-Qur’an itu karena zatnya, serta tak seorang
pun yang sanggup mendatangkan sesamanya, namun mereka berbeda pendapat dalam
meninjau kemukjizatannya itu, seperti berikut ini:
a)
Sebagian ulama berpendapat
bahwa segi kemukjizatan Al-Qur’an adalah sesuatu yang terkandung dalam
Al-Qur’an itu sendiri, yaitu susunan yang tersendiri dan berbeda dengan bentuk
puisi orang Arab maupun bentuk prosanya, baik dalam permulaan, suku kalimatnya
maupun dalam pungtuasinya.
b)
Sebagian ada yang berpendapat
bahwa segi kemukjizatan itu terkandung dalam lafal-lafalnya yang jelas,
redaksinya yang bernilai sastra dan susunannya yang indah, karena nilai sastra
yang terkandun dalam Al-Qur’an itu sangat tinggi dan tidak ada bandingannya.
c)
Ulama lain berpendapat bahwa
kemukjizatan itu karena Al-Qur’an terhindar dari adanya pertentangan, dan
mengandung arti yang lembut dan hal-hal gaib di luar kemampuan manusia dan di
luar kekuasaan mereka untuk mengetahuinya sehingga Al-Qur’an mampu menjauhi
adanya pertentangan dan perselisihan pendapat.
d)
Ada lagi ulama yang
berpendapat bahwa segi kemukjizatan Al-Qur’an adalah keistimewaan-keistimewaan
yang nampak keindahan-keindahan yang terkandung dalam Al-Qur’an , baik dalam
permulaan, tujuan maupun dalam menutup setiap surat. Pendapat yang diyakini
mereka yaitu: jelas dalam lafal atau bunyinya, bernilai sastra dalam
makna-maknya, bentuk susunannya yang indah.
Apapun argumentasi jumhur ulama ini tidak
keluar dari Ilmu bayan yang menjadi keistimewaan Al-Qur’an. Pendapat ini
meskipun benar namun kemukjizatan Al-Qur’an itu bukan hanya terdapat pada kejelasan
dan kesusteraan saja, tetapi ada lagi segi-segi lain yang bisa menimbulkan
kemukjizatan.[6]
5.
Aspek-Aspek
Kemukjizatan Al-Qur’an
Al-Qur’an
memiliki i’ja>z yang sangat
luar biasa dari segala segi baik dari sistematika susunan dalam mushaf, gaya bahasa,
penempatan satu kata dalam kalimat serta makna yang dikandungn dalamnya.
Adapun aspek-aspek kemukjizatan al-Quran, sebagai berikut:
a) Al-Qur’an
mengandung berita yang ghoib yang tidak ada seorangpun mampu manandinginya.[7] Adapun
berita-berita ghoib itu, sebagai berikut:
1) Keghaiban
masa lampau, seperti kisah Nabi Musa AS, kisah Fir’aun, as}hab al-kahfi, dan
kaum ‘Ad dan Tsamud. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 67
kisah Nabi Musa dan kisah Fir’aun dalam surat al-Qas}os ayat 4.
2) Keghaiban masa yang akan
datang, seperti kisah kemengangan Romawi setelah kekalahannya, kasus al-Walid
bin al-Mughiroh dan kasus Abu Jahal. Sebagaimana firman Allah surat ar-Ru>m
ayat 1-5 tentang kemenagan Romawi dan kekalahannya.
3) Keghaiban
masa sekarang. Terbukanaya niat busuk orang munafik dimasa Rasulullah Saw.
Sebagaimana firman Allah :
Dan di
antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu,
dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, Padahal ia
adalah penantang yang paling keras. (QS. Al-Baqarah [2]: 4).
b) Pemberitahuan tentang kondisi Nabi sebagai
orang yang ummi, Nabi yang tidak bisa membaca dan menulis. Begitu pula
pemberitahuan mengenai kondisi beliau yang sama sekali tidak tahu kitab-kitab
terdahulu, baik tentang kisah, berita, maupun riwayat mereka. Dalam keadaan
seperti itu, tiba-tiba menyampaikan kepada beliau ringkasan peristiwa yang
pernah terjadi, yakni persoalan besar dan sejarah yang sangat pentng; dimulai
sejak Allah menciptakan Adam as. yang mencakup permulaan penciptaannya,
persoalan yang dihadapinya hingga perbuatan yang mengakibatkannya diusir dari
surga, kemudian diterangkan secara ringkas persoalan anak-anaknya, kondisi dan
pertaubatannya. Begitu pula, dengan kisah Ibrahim as. dan nabi-nabi yang
tertulis dalam al-Qur’an. Beliau tidak mungkin memperoleh pengetahuan seperti itu
jika bukan melalui wahyu.[8]
Sebagaimana firman Allah surat al-Ankabu>t ayat 48 :
Dan kamu
tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak
(pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah
membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). (QS.
Al-Ankabuut [29]: 48)
c) Mengandung unsur balaghah yang sangat
tinggi. Sebagaimana kita ketahui, bahwa orang Arab pandai dalam berbahasa arab,
sastra serta membuat sya’ir-sya’ir ataupun puisi. Namun ketika mereka
dihadapkan kepada Al-Qur’an mereka tiada bandingannya. Struktur yang mengadung
mukjizat diantaranya ada yang bertumpu pada bentuk global, yakni struktur
al-Qur’an dilihat dari berbagai aspek dan penjelasan modelnya yang berada
diluar struktur kalimat yang bisa digunakan oleh orang Arab. Al-Qur’an memiliki
gaya bahasa yang istimewa; sangat berbeda dengan gaya bahasa percakapan yang
dilakukan seperti biasanya. Hal itu karena cara-cara yang digunakan kalimat
yang indah strukturnya terbagi menjadi mantra-mantra syair dengan berbagai
perbedaannya, aneka kalimat berima tak bersajak, kalimat berirama dan bersajak,
serta kalimat bebas. Melalui cara-cara ini, ketepatan dan manfaat diusahakan,
begitu pula dengan pemahaman makna yang dikemukakan dengan indah, gaya bahasa
yang tertib dan lembut. Selain itu, bagi orang Arab tidak mungkin memiliki fas}ahah
kalimat yang demikian halus, kaidah yang luar biasa, keselarasan dengan balaghah,
penggunaan istilah yang samar dan mahir yang demikian panjang dan mencukupi.
Orang-orang bijak dikalangan mereka biasanya hanya mampu membuat kata-kata yang
beragam dan sedikit lafalnya, sedangkan al-Qur’an mengkolerasikan semuanya dan tetap
terjaga fas}ahah nya. Sebagaimana firman Allah surat az-Zumar ayat 23:
Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran
yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit
orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka
di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki
siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak
ada baginya seorang pemimpinpun. (QS. Az-Zumar [39]: 23)
d) Al-Qur’an mengandung bermacam-macam ilmu
pengetahuan dan hikmah yang sangat mendalam. Pada hakikatnya, Al-Qur’an
merupakan mukjizat dengan segala makna yang dibawakan dan dikandung oleh
lafaz}-lafaz}nya, yaitu:
1) Mukjizat
dalam lafaz} dan keindahan susunan kalimat (uslub). Maksudnya yaitu
satu huruf dari al-Qur’an merupakan i’ja>z dalam susunan kata
(kalimat) dan susunan kata merupakan i’ja>z dalam jumlah dan jumlah
dalam al-Qur’an merupakan mukjizat dalam surah.
2) Mukjizat
dalam bayan (penjelasan) dan naz}am. Seorang pembaca akan menemukan
gambaran hidup bagi kehidupan, alam dan manusia. Maknanya menyingkap tabir
hakikat kemanusiaan dan pesan alam.
3) Mukjizat
dalam tasyri’ dan pemeliharaannya terhadap hak-hak asasi manusia.[9]
[1]Kamus Besar Bahasa Indonesia
[2]Prof. Dr. Muhammad Ali
Ash-Shaabuuniy, Studi Ilmu Al-Qur’an, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), hlm. 118.
[3] Manna Khalil Al-Qattan, Studi
Ilmu-Ilmu Qur’an,(Bogor: Pustaka AntarNusa, 2011), hlm. 369
[4]Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an, (Jakarta: Mizan,
1997), hlm. 38.
[6]Manna Khalil Al-Qattan, Op.Cit.,
hlm. 136-137.
[7]Jalaluddin al-Suyuti, al-Itqa>n
fi Ulu>m Al-Qur’an, (Beiru>t: Dar al-Fikr,2008), hlm. 610.
[8]Issa J. Boullata, Al-Qur’an
Yang Menakjubkan, (Jakarta: Lentera Hati, 2008), hlm. 116.
[9]Manna Khalil Al-Qattan, Op. Cit,
hlm 377.

0 komentar:
Posting Komentar