A.
Makna Tasawuf, Aktual, Insan, dan Kamil
Tasawuf
berasal dari kata sufi maknanya orang yang suci atau diliputi kesucian.[1]
Maksud terdalam dari tasawuf adalah tashfiyatul qulub; membersihkan atau
menggosok hati, sehingga bisa berganti dari pakaian yang penuh gebyar
kemewahan—pakaian hayawaniyah—menjadi pakaian kesederhanaan, tawadhu’,
penuh dengan rasa keilahian. Sehingga akhirnya tasawuf dapat diartikan kesucian
jiwa yang mendatangkan peningkatan amal baik. Ini sejalan dengan pernyataan
Al-Qusyairi yang mengartikan tasawuf sebagai kemurnian, yakni orientasi hanya
kepada Tuhan, dia tidak merosot kepada derajat umat manusia pada umumnya,
hingga kejadian-kejadian dunia tidaklah mempengaruhinya.[2] Menurut
kamus besar bahasa Indonesia aktual adalah betul-betul ada.
Secara harfiah insan berarti manusia,
dan kamil berarti sempurna. Dengan demikian insan kamil berarti manusia yang
sempurna. Selanjutnya Jamil Shaliba mengatakan bahwa kata insan menunjukkan
pada sesuatu yang secara khusus digunakan untuk arti manusia dari segi
sifatnya, bukan fisiknya. Dalam bahasa Arab kata insan mengacu kepada sifat
manusia yang terpuji seperti kasih sayang, mulia dan lainnya. Selanjutnya kata
insan digunakan oleh para filosof klasik sebagai kata yang menunjukkan pada
arti manusia secara totalitas yang secara langsung mengarah pada hakikat
manusia.[3] Adapun
kata kamil dapat pula berarti suatu keadaan yang sempurna, dan digunakan untuk
menunjukkan pada sempurnanya zat dan sifat, dan hal itu terjadi melalui
terkumpulnya sejumlah potensi dan kelengkapan seperti ilmu, dan sekalian sifat
yang baik lainnya.[4]
Menjadi insan kamil merupakan perjalanan
jiwa. Tujuannya Allah. Bekalnya adalah akhlak mulia dan amal shaleh. Dengan
bekal ini, seorang muslim berharap mendapat petunjuk Tuhan yang selalu
membimbingnya. Tuhan meluruskan jalan dan memberkati apa yang diperoleh, meski
sedikit jumlahnya. Itu karena Allah telah menjanjikan orang-oran yang menghadap
kepadaNya dengan bahasan yang lebih baik.
Barangsiapa
yang membawa kebaikan, Maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari
padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada
kejutan yang dahsyat pada hari itu.
(Q.S. Al-Naml
[27] : 89).
B.
Landasan Insan Kamil
1.
Substansi Iman
Iman adalah pengetahuan yang telah
mencapai derajat keyakinan yang diiringi dengan kepastian dibarengi dengan
pembenaran yang sempurna. Rasa iman kepada Allah juga mencakup dua hal secara
bersamaan. Pertama yang sifatnya nalar-teoritis, kedua yang sifatnya roh
kejiwaan. Demikianlah hakikat adanya iman antara satu jiwa dengan jiwa lainnya
berbeda-beda tingkatannya,sesuai dengan perbedaan kedalaman atau kedangkalan
keyakinan yang dimiliki masing-masing. Ada orang-orang yang mencapai tingkat
Arifin yaitu mereka yang mengetahui Tuhannya dengan pengetahuan yang murni,
cakrawala pengetahuannya luas dan tingkat kedekatannya sangat tinggi, seolah
mereka adalah para pengkaji yang sangat memahami dan menguasai objek kajiannya.[5]
yang
menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa,
kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) yang Maha pemurah, Maka
Tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang
Dia.
(Q.S. Al-Furqan
[25]: 59).
Iman yang dimaksudkan adalah keyakinan
yang menjadikan pengetahuan yang benar tentang Allah sebagai ruh (inti)
keyakinan yang benar dan dapat diterima di sisi Nya. Al-Qur’an penuh dengan
ayat-ayat yang memperkenalkan Allah kepada hamba-hamba Nya dengan gambaran yang
bebasa dari kesesatan dan penyelewengan, seraya menancapkan kebenaran tepat
pada sasarannya.[6]
2.
Substansi Islam
Substansi
iman yang murni akan menumbuhkan sikap tunduk kepada Allah, yaitu ketundukkan
yang berpadu didalamnya antara cinta dan rasa takut. Orang yang tau dan
merasakan keagungan Allah, memahami sifat-sifat Nya yang agung dan nama Nya
yang mulia maka ketundukkan seorang mukmin sejati akan meliputi hatinya, taat dan patuh akan menjadi dasar
hubungan dengan Tuhannya. Agama adalah penyerahan total kedada Allah dan
kepasrahan sepenuhnya kepada segala hukum-hukumNya.
Maka demi
Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu
hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa
dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan
mereka menerima dengan sepenuhnya. (Q.S. Al-Nisa [4] : 65).
Arti kata Islam baik secara etimologi
maupun secara terminologi syar’i, mengacu pada makna seperti yang telah
disebutkan dalam ayat diatas. Ia bukan penyerahan yang parsial, atau
ketundukkan bersyarat atau kepatuhan yang dipaksakan. Ia adalah penyerahan yang
total dan sempurna secara suka rela kepada Allah, yang telah membawa iman berada
dalam lubuk hati kepada amal praktis dengan anggota badannya. Menerjemahkan
keyakinan yang tersembunyi dalam hati kepada ketaatan yang nampak dalam
kehidupan nyata, baik kehidupan individual maupun sosial.[7]
3.
Substansi Ihsan
Ketika iman dan Islam dimiliki dengan
benar dan dijalankan dengan sempurna, datanglah Ihsan sebagai konsekuensi yang
logis dari keduanya. Allah berfirman:
Sesunggunya
mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan
pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.
(Q.S. Al-Kahfi
[18] : 30)
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa
iman adalah pengetahuan yang benar tentang Allah dan kepercayaan yang mendalam
kepada Nya . sedangkan Islam adalah penerimaan serta ketundukkan sepenuhnya
terhadap ajaran-ajaran Nya, serta ibadah yang tulus untuk memperoleh ridha Nya.
Jika unsur-unsur ini telah terpenuhi sehingga menimbulkan rasa yakin yang
mendalam dan membuahkan amal-amal shaleh yang matang, ketika itu seseorang
layak untuk mendapatkan predikat Muhsin. Kutipan dari hadis pengertian
Ihsan yaitu “kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihatNya. Jika kamu
melihatNya, maka sesungguhnya Ia melihatmu. Perasaan seperti melihat Allah
ketika beramal merupakan motivasi untuk melakukannya dengan sebaik-baik mungkin
dan sepenuh hati. Melihat Allah bukanlah khayalan tentang sesuatu yang fiktif,
melainkan perasaan akan Wujud yang mengawasi, serta menangkap hak-hak Nya yang
harus dipenuhi.[8]
Ihsan adalah pribadi yang konsisten,
watak yang terbentuk dari kecintaan terhadap kesungguhan, dedikasi dan
kesempurnaan dalam berkarya, membiasakan zikir kepada Allah dan merasa selalu
bersamaNya.
4.
Substansi Syahadatain
Persaksian dan tiket awal dari ajaran
Islam adalah kesaksian “tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul
Allah”. Arti kalimat ini bukan sekedar pemberitaan biasa. Maknanya tidak sama
dengan pemberitaaan kepada seorang temannya. Lain halnya dengan kesaksian tauhid.
Ketika mengucapkannya dikehidupan maka tidak sedang mengunkapkan suatu
berita tentang apa yang bisa dilakukan atau diucapkan manusia. Ini merupakan
kesaksian yang bermakna pernyataan bahwa kebenaran adalah benar dan kebatilan
adalah batil. Syahadat bukan hanya sebagai bukti iman. Lebih dari itu
ini merupakan dasar sikap dan perilaku. Syahadat adalah pembuktian atas apa
yang tersimpan dalam hati menjadi kenyataan dalam lapangan kehidupan nyata. Ini
merupakan panji kehidupan yang terpateri dalam jiwa yang mengetahui Allah.
Kemana pu jiwa itu pergi, nama dan kehadiran Nya selalu menyertainya.
Kalimat tauhid menempati posisi sebagai
pimpinan dalam kehidupan seorang muslim. Diatas kehidupan seorang muslim dan
masyarakat muslim. Diatas kalimat itulah tertumpu beragam jenis ketaatan yang
diajarkan oleh Islam. Dan oleh karena Islam adalah ketundukkan sepenuhnya
kepada Allah, maka pertama-tama tidak pantas kalau ada seorang muslim melakukan
penyelewengan dan terpuruk dalam kemaksiatan. Sebab kemaksiatan bertentangan
dengan arti hakiki ketundukkan.[9]
C.
Ciri-ciri Insan Kamil
1.
Berfungsi Akalnya Secara Optimal
Fungsi
akal secara optimal dapat dijumpai pada pendapat kaum Mu’tajzilah. Menurutnya
manusia yang akalnya berfunsi secara optimal dapat mengetahui bahwa segala
perbuatan baik seperti adil, jujur, berakhlak sesuai dengan esensinya dan
merasa wajib melakukan hal semua itu walaupun tidak diperintahkan oleh wahyu.
Manusia yang berfungsi akalnya sudah merasa wajib melakukan perbuatan yang
baik. Dan manusia yang demikianlah yang dapat mendekati tingkat insan kamil.
Dengan demikian insan kamil akalnya dapat mengenali perbuatan yang baik dan
perbuatan buruk karena hal itu telah terkandung pada esensi perbuatan tersebut.
2.
Berfungsi Intuisinya
Insan Kamil dapat juga dicirikan dengan
berfungsinya intuisi yang ada dalam dirinya. Intuisi ini dalam pandangan Ibn
Sina disebut jiwa manusia (rasional soul). Menurutnya jika yang berpengaruh
dalam diri manusia adalah jiwa manusianya, maka orang itu hampir menyerupai
malaikat dan mendekati kesempurnaan.
3.
Mampu Menciptakan Budaya
Sebagai bentuk pengamalan dari berbagai
potensi yang terdapat pada dirinya sebagai insan, manusia yang sempurna adalah
manusia yang mampu mendayagunakan seluruh potensi rohaniahnya secara optimal.
Menurut Ibn Khaldun manusia adalah makhluk berfikir. Sifat-sifat semacam ini
tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Lewat kemampuan berfikirnya itu, manusia
tidak hanya membuat kehidupannya, tetapi juga menaruh perhatian terhadap
berbagai cara guna memperoleh makna
hidup. Proses-proses semacam ini melahirkan peradaban.
4.
Menghiasi Diri Dengan Sifat-Sifat Ketuhanan
Manusia merupakan makhluk yang mempunyai
naluri ketuhanan (fitrah). Ia cenderung kepada hal-hal yang berasal dari Tuhan,
dan mengimaninya. Sifat-sifat tersebut membuat ia menjadi wakil Tuhan di muka
bumi. Manusia seabagai khalifah yang demikian itu merupakan gambaran ideal.
Yaitu manusia yang berusaha menentukan nasibnya sendiri, baik sebagai kelompok
masyarakat maupun sebagai individu. Yaitu manusia yang memiliki tanggung jawab
yang besar, karena memiliki daya kehendak yang bebas.
5.
Berakhlak Mulia
Insan kamil juga adalah manusia yang
berakhlak mulia. Hal ini sejalan dengan pendapat Ali Syari’ati yang mengatakan
bahwa manusia yang sempurna memiliki tiga aspek, yakni aspek kebenaran,
kebajikan dan keindahan. Dengan kata lain ia memiliki pengetahuan, etika dan
seni. Semua ini dapat dicapai dengan kesadaran, kemerdekaan dan kreativitas.
Manusia yang ideal (sempurna) adalah manusia yang memiliki otak yang briliyan
sekaligus memiliki kelembutan hati. Insan Kamil dengan kemampuan otaknya mampu
menciptakan peradaban yang tinggi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi, juga memiliki kedalaman perasaan terhadap segala sesuatu yang
menyebabkan penderitaan, kemiskinan, kebodohan, dan kelemahan.
6.
Berjiwa Seimbang
Menurut Nashr, bahwa manusia modern
sekarang ini tidak jauh meleset dari siratan Darwin. Bahwa hakikat manusia
terletak pada aspek kedalamannya, yang bersifat permanen, immortal yang kini
tengah bereksistensi sebagai bagian dari perjalanan hidupnya yang teramat
panjang. Tetapi disayangkan, kebanyakan dari merekan lupa akan immortalitas
yang hakiki tadi. Manusia modern mengabaikan kebutuhannya yang paling mendasar,
yang bersifat ruhiyah, sehingga mereka tidak akan mendapatkan ketentraman
batin, yang berarti tidak hanya keseimbangan diri, terlebih lagi bila
tekanannya pada kebutuhan materi kian meningkat, maka keseimbangan akan semakin
rusak. Kutipan tersebut mengisyaratkan tentang perlunya sikap seimbang dalam
kehidupan, yaitu seimbang antara pemenuhan kebutuhan material dengan spiritual
atau ruhiyah. Ini berarti perlunya ditanamkan jiwa sufistik yang dibarengi
dengan pengamalan syari’at Islam, terutama ibadah, zikir, tafakkur, muhasabbag
dan seterusnya.[10]
D.
Perilaku Insan Kamil
Adapun tata krama sebagai tujuan berthariqah menurut Hasyim
Asy’ari, yaitu empat tata krama atau akhlak itu adalah:
1.
Menjauhi
semua orang yang bertindak zalim, seperti penguasa atau orang yang kaya berlaku
tidak adil kepada orang lain;
2.
Menghormati
orang yang memusatkan perhatiannya pada akhirat;
3.
Menolong
kaum melarat;
4.
Selalu
melakukan shalat berjamaah dengan orang banyak.[11]
E.
Konsep Insan Kamil menurut Al-Qur’an
Nabi Muhammad Saw disebut sebagai teladan insan kamil atau istilah
populernya di dalam Al-Qur’an yaitu:
Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak
menyebut Allah.
(Q.S. Al-Ahzab
[33] : 21)
Allah SWT tidak membiarkan kita untuk
menginterpretasikan tata nilai tersebut semaunya, berstandar seenaknya, tapi
juga memberikan kepada kita, Rasulullah SAW yang menjadi uswahtun hasanah.
Rasulullah Saw merupakan insan kamil, manusia paripurna, yang tidak ada satupun
sisi-sisi kemanusiaan yang tidak disentuhnya selama hidupnya. Ia adalah ciptaan
terbaik yang kepadanya kita merujuk akan akhlaq yang mulia. Sebagaimana firman
Allah SWT:
dan
Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
(Q.S Al-Qolam
[68] : 4)
Nur
atau cahaya yang menjadi sosok diri Muhammad adalah sebagai seorang Rasulullah
Rahmatan Lil’alamin. Muhammad adalah nabi akhir zaman dan karena itu menjadi
penutup semua nabi terdahulu yang diutus untuk menjadi saksi kehidupan manusia
dan pembawa berita tentang kehidupan mendatang di akhirat sesuai dengan firman
Allah Swt:
15. Hai ahli Kitab,
Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari
isi Al kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya.
Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang
menerangkan[408].
16. dengan
kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan
keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu
dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan
menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
(Q.S Al-Maidah
[5] : 15-16)
Daftar
Pustaka
Sholikhin Muhammad,
(2004) Tasawuf Aktual, Semarang: Pustaka Nuun.
Nata
Abuddin, (2012) Akhlak Tasawuf, Jakarta:
Rajawali Pers.
Noerhidayatullah, (2002) Insan
Kamil –Metoda Islam Memanusiakan Manusia, Bekasi: Intimedia.

0 komentar:
Posting Komentar