Copyright © Muslimische Frau
Design by Dzignine
Selasa, 11 Februari 2014

Tassawuf Aktual Menuju Insan Kamil




A.    Makna Tasawuf, Aktual, Insan, dan Kamil
       Tasawuf berasal dari kata sufi maknanya orang yang suci atau diliputi kesucian.[1] Maksud terdalam dari tasawuf adalah tashfiyatul qulub; membersihkan atau menggosok hati, sehingga bisa berganti dari pakaian yang penuh gebyar kemewahan—pakaian hayawaniyah—menjadi pakaian kesederhanaan, tawadhu’, penuh dengan rasa keilahian. Sehingga akhirnya tasawuf dapat diartikan kesucian jiwa yang mendatangkan peningkatan amal baik. Ini sejalan dengan pernyataan Al-Qusyairi yang mengartikan tasawuf sebagai kemurnian, yakni orientasi hanya kepada Tuhan, dia tidak merosot kepada derajat umat manusia pada umumnya, hingga kejadian-kejadian dunia tidaklah mempengaruhinya.[2] Menurut kamus besar bahasa Indonesia aktual adalah betul-betul ada.
       Secara harfiah insan berarti manusia, dan kamil berarti sempurna. Dengan demikian insan kamil berarti manusia yang sempurna. Selanjutnya Jamil Shaliba mengatakan bahwa kata insan menunjukkan pada sesuatu yang secara khusus digunakan untuk arti manusia dari segi sifatnya, bukan fisiknya. Dalam bahasa Arab kata insan mengacu kepada sifat manusia yang terpuji seperti kasih sayang, mulia dan lainnya. Selanjutnya kata insan digunakan oleh para filosof klasik sebagai kata yang menunjukkan pada arti manusia secara totalitas yang secara langsung mengarah pada hakikat manusia.[3] Adapun kata kamil dapat pula berarti suatu keadaan yang sempurna, dan digunakan untuk menunjukkan pada sempurnanya zat dan sifat, dan hal itu terjadi melalui terkumpulnya sejumlah potensi dan kelengkapan seperti ilmu, dan sekalian sifat yang baik lainnya.[4]
       Menjadi insan kamil merupakan perjalanan jiwa. Tujuannya Allah. Bekalnya adalah akhlak mulia dan amal shaleh. Dengan bekal ini, seorang muslim berharap mendapat petunjuk Tuhan yang selalu membimbingnya. Tuhan meluruskan jalan dan memberkati apa yang diperoleh, meski sedikit jumlahnya. Itu karena Allah telah menjanjikan orang-oran yang menghadap kepadaNya dengan bahasan yang lebih baik.
  
Barangsiapa yang membawa kebaikan, Maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu.
(Q.S. Al-Naml [27] : 89).

B.     Landasan Insan Kamil
1.      Substansi Iman
      Iman adalah pengetahuan yang telah mencapai derajat keyakinan yang diiringi dengan kepastian dibarengi dengan pembenaran yang sempurna. Rasa iman kepada Allah juga mencakup dua hal secara bersamaan. Pertama yang sifatnya nalar-teoritis, kedua yang sifatnya roh kejiwaan. Demikianlah hakikat adanya iman antara satu jiwa dengan jiwa lainnya berbeda-beda tingkatannya,sesuai dengan perbedaan kedalaman atau kedangkalan keyakinan yang dimiliki masing-masing. Ada orang-orang yang mencapai tingkat Arifin yaitu mereka yang mengetahui Tuhannya dengan pengetahuan yang murni, cakrawala pengetahuannya luas dan tingkat kedekatannya sangat tinggi, seolah mereka adalah para pengkaji yang sangat memahami dan menguasai objek kajiannya.[5]
  
yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) yang Maha pemurah, Maka Tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia.
(Q.S. Al-Furqan [25]: 59).
       Iman yang dimaksudkan adalah keyakinan yang menjadikan pengetahuan yang benar tentang Allah sebagai ruh (inti) keyakinan yang benar dan dapat diterima di sisi Nya. Al-Qur’an penuh dengan ayat-ayat yang memperkenalkan Allah kepada hamba-hamba Nya dengan gambaran yang bebasa dari kesesatan dan penyelewengan, seraya menancapkan kebenaran tepat pada sasarannya.[6]
2.      Substansi Islam
       Substansi iman yang murni akan menumbuhkan sikap tunduk kepada Allah, yaitu ketundukkan yang berpadu didalamnya antara cinta dan rasa takut. Orang yang tau dan merasakan keagungan Allah, memahami sifat-sifat Nya yang agung dan nama Nya yang mulia maka ketundukkan seorang mukmin sejati akan meliputi  hatinya, taat dan patuh akan menjadi dasar hubungan dengan Tuhannya. Agama adalah penyerahan total kedada Allah dan kepasrahan sepenuhnya kepada segala hukum-hukumNya.
  
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Q.S. Al-Nisa [4] : 65).
       Arti kata Islam baik secara etimologi maupun secara terminologi syar’i, mengacu pada makna seperti yang telah disebutkan dalam ayat diatas. Ia bukan penyerahan yang parsial, atau ketundukkan bersyarat atau kepatuhan yang dipaksakan. Ia adalah penyerahan yang total dan sempurna secara suka rela kepada Allah, yang telah membawa iman berada dalam lubuk hati kepada amal praktis dengan anggota badannya. Menerjemahkan keyakinan yang tersembunyi dalam hati kepada ketaatan yang nampak dalam kehidupan nyata, baik kehidupan individual maupun sosial.[7]
3.      Substansi Ihsan
       Ketika iman dan Islam dimiliki dengan benar dan dijalankan dengan sempurna, datanglah Ihsan sebagai konsekuensi yang logis dari keduanya. Allah berfirman:
  
Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.
(Q.S. Al-Kahfi [18] : 30)
       Sebagaimana telah kita ketahui bahwa iman adalah pengetahuan yang benar tentang Allah dan kepercayaan yang mendalam kepada Nya . sedangkan Islam adalah penerimaan serta ketundukkan sepenuhnya terhadap ajaran-ajaran Nya, serta ibadah yang tulus untuk memperoleh ridha Nya. Jika unsur-unsur ini telah terpenuhi sehingga menimbulkan rasa yakin yang mendalam dan membuahkan amal-amal shaleh yang matang, ketika itu seseorang layak untuk mendapatkan predikat Muhsin. Kutipan dari hadis pengertian Ihsan yaitu “kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihatNya. Jika kamu melihatNya, maka sesungguhnya Ia melihatmu. Perasaan seperti melihat Allah ketika beramal merupakan motivasi untuk melakukannya dengan sebaik-baik mungkin dan sepenuh hati. Melihat Allah bukanlah khayalan tentang sesuatu yang fiktif, melainkan perasaan akan Wujud yang mengawasi, serta menangkap hak-hak Nya yang harus dipenuhi.[8]
       Ihsan adalah pribadi yang konsisten, watak yang terbentuk dari kecintaan terhadap kesungguhan, dedikasi dan kesempurnaan dalam berkarya, membiasakan zikir kepada Allah dan merasa selalu bersamaNya.
4.      Substansi Syahadatain
       Persaksian dan tiket awal dari ajaran Islam adalah kesaksian “tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah”. Arti kalimat ini bukan sekedar pemberitaan biasa. Maknanya tidak sama dengan pemberitaaan kepada seorang temannya. Lain halnya dengan kesaksian tauhid. Ketika mengucapkannya dikehidupan maka tidak sedang mengunkapkan suatu berita tentang apa yang bisa dilakukan atau diucapkan manusia. Ini merupakan kesaksian yang bermakna pernyataan bahwa kebenaran adalah benar dan kebatilan adalah batil. Syahadat bukan hanya sebagai bukti iman. Lebih dari itu ini merupakan dasar sikap dan perilaku. Syahadat adalah pembuktian atas apa yang tersimpan dalam hati menjadi kenyataan dalam lapangan kehidupan nyata. Ini merupakan panji kehidupan yang terpateri dalam jiwa yang mengetahui Allah. Kemana pu jiwa itu pergi, nama dan kehadiran Nya selalu menyertainya.
      Kalimat tauhid menempati posisi sebagai pimpinan dalam kehidupan seorang muslim. Diatas kehidupan seorang muslim dan masyarakat muslim. Diatas kalimat itulah tertumpu beragam jenis ketaatan yang diajarkan oleh Islam. Dan oleh karena Islam adalah ketundukkan sepenuhnya kepada Allah, maka pertama-tama tidak pantas kalau ada seorang muslim melakukan penyelewengan dan terpuruk dalam kemaksiatan. Sebab kemaksiatan bertentangan dengan arti hakiki ketundukkan.[9]

C.    Ciri-ciri Insan Kamil
1.      Berfungsi Akalnya Secara Optimal
      Fungsi akal secara optimal dapat dijumpai pada pendapat kaum Mu’tajzilah. Menurutnya manusia yang akalnya berfunsi secara optimal dapat mengetahui bahwa segala perbuatan baik seperti adil, jujur, berakhlak sesuai dengan esensinya dan merasa wajib melakukan hal semua itu walaupun tidak diperintahkan oleh wahyu. Manusia yang berfungsi akalnya sudah merasa wajib melakukan perbuatan yang baik. Dan manusia yang demikianlah yang dapat mendekati tingkat insan kamil. Dengan demikian insan kamil akalnya dapat mengenali perbuatan yang baik dan perbuatan buruk karena hal itu telah terkandung pada esensi perbuatan tersebut.
2.      Berfungsi Intuisinya
       Insan Kamil dapat juga dicirikan dengan berfungsinya intuisi yang ada dalam dirinya. Intuisi ini dalam pandangan Ibn Sina disebut jiwa manusia (rasional soul). Menurutnya jika yang berpengaruh dalam diri manusia adalah jiwa manusianya, maka orang itu hampir menyerupai malaikat dan mendekati kesempurnaan.
3.      Mampu Menciptakan Budaya
       Sebagai bentuk pengamalan dari berbagai potensi yang terdapat pada dirinya sebagai insan, manusia yang sempurna adalah manusia yang mampu mendayagunakan seluruh potensi rohaniahnya secara optimal. Menurut Ibn Khaldun manusia adalah makhluk berfikir. Sifat-sifat semacam ini tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Lewat kemampuan berfikirnya itu, manusia tidak hanya membuat kehidupannya, tetapi juga menaruh perhatian terhadap berbagai cara guna memperoleh  makna hidup. Proses-proses semacam ini melahirkan peradaban.
4.      Menghiasi Diri Dengan Sifat-Sifat Ketuhanan
       Manusia merupakan makhluk yang mempunyai naluri ketuhanan (fitrah). Ia cenderung kepada hal-hal yang berasal dari Tuhan, dan mengimaninya. Sifat-sifat tersebut membuat ia menjadi wakil Tuhan di muka bumi. Manusia seabagai khalifah yang demikian itu merupakan gambaran ideal. Yaitu manusia yang berusaha menentukan nasibnya sendiri, baik sebagai kelompok masyarakat maupun sebagai individu. Yaitu manusia yang memiliki tanggung jawab yang besar, karena memiliki daya kehendak yang bebas.
5.      Berakhlak Mulia
       Insan kamil juga adalah manusia yang berakhlak mulia. Hal ini sejalan dengan pendapat Ali Syari’ati yang mengatakan bahwa manusia yang sempurna memiliki tiga aspek, yakni aspek kebenaran, kebajikan dan keindahan. Dengan kata lain ia memiliki pengetahuan, etika dan seni. Semua ini dapat dicapai dengan kesadaran, kemerdekaan dan kreativitas. Manusia yang ideal (sempurna) adalah manusia yang memiliki otak yang briliyan sekaligus memiliki kelembutan hati. Insan Kamil dengan kemampuan otaknya mampu menciptakan peradaban yang tinggi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga memiliki kedalaman perasaan terhadap segala sesuatu yang menyebabkan penderitaan, kemiskinan, kebodohan, dan kelemahan.
6.      Berjiwa Seimbang
       Menurut Nashr, bahwa manusia modern sekarang ini tidak jauh meleset dari siratan Darwin. Bahwa hakikat manusia terletak pada aspek kedalamannya, yang bersifat permanen, immortal yang kini tengah bereksistensi sebagai bagian dari perjalanan hidupnya yang teramat panjang. Tetapi disayangkan, kebanyakan dari merekan lupa akan immortalitas yang hakiki tadi. Manusia modern mengabaikan kebutuhannya yang paling mendasar, yang bersifat ruhiyah, sehingga mereka tidak akan mendapatkan ketentraman batin, yang berarti tidak hanya keseimbangan diri, terlebih lagi bila tekanannya pada kebutuhan materi kian meningkat, maka keseimbangan akan semakin rusak. Kutipan tersebut mengisyaratkan tentang perlunya sikap seimbang dalam kehidupan, yaitu seimbang antara pemenuhan kebutuhan material dengan spiritual atau ruhiyah. Ini berarti perlunya ditanamkan jiwa sufistik yang dibarengi dengan pengamalan syari’at Islam, terutama ibadah, zikir, tafakkur, muhasabbag dan seterusnya.[10]

D.    Perilaku Insan Kamil
       Adapun tata krama sebagai tujuan berthariqah menurut Hasyim Asy’ari, yaitu empat tata krama atau akhlak itu adalah:
1.      Menjauhi semua orang yang bertindak zalim, seperti penguasa atau orang yang kaya berlaku tidak adil kepada orang lain;
2.      Menghormati orang yang memusatkan perhatiannya pada akhirat;
3.      Menolong kaum melarat;
4.      Selalu melakukan shalat berjamaah dengan orang banyak.[11]

E.     Konsep Insan Kamil menurut Al-Qur’an
Nabi Muhammad Saw disebut sebagai teladan insan kamil atau istilah populernya di dalam Al-Qur’an yaitu:
  
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.
(Q.S. Al-Ahzab [33] : 21)
       Allah SWT tidak membiarkan kita untuk menginterpretasikan tata nilai tersebut semaunya, berstandar seenaknya, tapi juga memberikan kepada kita, Rasulullah SAW yang menjadi uswahtun hasanah. Rasulullah Saw merupakan insan kamil, manusia paripurna, yang tidak ada satupun sisi-sisi kemanusiaan yang tidak disentuhnya selama hidupnya. Ia adalah ciptaan terbaik yang kepadanya kita merujuk akan akhlaq yang mulia. Sebagaimana firman Allah SWT:
  
dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
(Q.S Al-Qolam [68] : 4)
       Nur atau cahaya yang menjadi sosok diri Muhammad adalah sebagai seorang Rasulullah Rahmatan Lil’alamin. Muhammad adalah nabi akhir zaman dan karena itu menjadi penutup semua nabi terdahulu yang diutus untuk menjadi saksi kehidupan manusia dan pembawa berita tentang kehidupan mendatang di akhirat sesuai dengan firman Allah Swt:
Ÿ  
15. Hai ahli Kitab, Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan[408].
16. dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
(Q.S Al-Maidah [5] : 15-16)


Daftar Pustaka

Sholikhin Muhammad, (2004) Tasawuf Aktual, Semarang:  Pustaka Nuun.

Nata Abuddin,  (2012) Akhlak Tasawuf, Jakarta: Rajawali Pers.

Noerhidayatullah, (2002) Insan Kamil –Metoda Islam Memanusiakan Manusia, Bekasi: Intimedia.


         [1]Muhammad Sholikhin, Tasawuf Aktual, (Semarang:  Pustaka Nuun, 2004), hlm. 4.
         [2]Ibid., hlm. 7.
[3]Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm. 257.
[4]Ibid., hlm. 258.
                [5]KH. Noerhidayatullah, M.A, Insan Kamil –Metoda Islam Memanusiakan Manusia, (Bekasi: Intimedia, 2002),  hlm. 151.
                [6]Ibid., hlm. 153.
                [7]Ibid., hlm. 168.
                   [8]Ibid., hlm. 169.
[9]Ibid., hlm. 211.
                [10]Abuddin Nata, Op. Cit., hlm. 264-267.
                [11]KH. Noerhidayatullah, M.A, Op. Cit., hlm. 333.

0 komentar:

Posting Komentar