Copyright © Muslimische Frau
Design by Dzignine
Rabu, 12 Februari 2014

Kedudukan Akhlaq Dalam Islam



Kedudukan Akhlaq dalam Islam
Berabad-abad sebelum lahirnya agama Islam, dunia ini dipenuhi dengan kegelapan dengan runtuhnya peradaban manusia. Manusia tidak lagi memiliki moral, hidup semaunya, dan hanya mengikuti hawa nafsu semata. Hal tersebut terjadi karena terjadinya penyimpangan manusia dari agama Tauhid yang telah dianut leluhurnya, sejak Nabi Adam hingga Nabi Isa AS.
Agama tauhid yang dibawa oleh para Nabi-nabi terdahulu sampai masa sebelum lahirnya Agama Islam. Selalu menjada martabat manusia agar tidak mengalami penurunan moral yang mengakibatkan menyamai martabat binatang. Tetapi apa yang di kawatirkan olaeh Nabi-nabi, benaar-benar terjadi di kalangan Manusia. Dimana mereka merusak dirinya dengan berbagai macam kezaliman bahkan Nabi-Nya juga dimusuhi. Dengan alasan bahwa dialah yang menghalang-halangi kebebasan mereka melakuka hal-hal yang dikehendakinya.[1]
Dapat dilihat didalam Al-Quran seruan-seruan Nabi-nabi dalam yang mengajak umatnya menyembah Allah. Karena keadaannya sudah terlalu sesat dalam kemusyrikan, dan mereka sudah terlamapau jauh dari kedudukannya sebagai hamba Allah. Yang seharusnya bertugas untuk menyembahnya. Serta semakin bergeser darikedudukannya sebagai khalifah dibumi, yang seharusnya bertugas untuk memakmurkan dunia beserta penghuninya.
Kedua macam tugas tersebut \, harus diperkuat dengan  jiwa tauhid, yang dipelihara dengan ibadah kepada Allah SWT. Seruan-seruan para nabi yang merangkai perintah ibadah dengan perkataan yang mengandung perintah untuk meng-Esa-kan Allah. Hal ini dapat dilihat pada ayat-ayat Al-Qur’an yang berbuunyi:
  
1.      Q.S. Huud(11:25-26)
(25). dan Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, (26). agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan".
2. Q.S. Huud(11:5)
5. Ingatlah, Sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk Menyembunyikan diri daripadanya (Muhammad)[708]. Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala isi hati.
[708] Maksudnya: Menyembunyikan perasaan permusuhan dan kemunafikan mereka terhadap Nabi Muhammad s.a.w.
3. Q.S. Huud(11:61)
61. dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[726], karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku Amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)."
[726] Maksudnya: manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.
Untuk mengetahui akhlak dalam Islam, maka perlu diuraikan bahwa ada tiga macam sendi Islam, yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya sehingga kualitas seorang muslim selalu dapat diukur dengan pelaksanaannya terhadap tiga macam sendi tersebut, yang mencakup:
1.       Masalah Aqidah, yang meliputi enam macam rukun iman, dengan kewajiban percaya kepada Allah, Malaikat-malaikatnya, Kitab-kitabnya,Rasul-rasulnya,, hari akhirat,  Qada dan Qadar. Yang semuanya dibahas secara rinci dalam Ilmu Tauhid.
2.       Masalah Syari’ah; yang meliputi pengabdian hamba  terhadap tuhan-Nya, yang dapat dilihat pada rukun islam yang lima, dengan kewajiban mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat,mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan serta menunaikan haji di baitullah. Dan mu’amalah juga termasuk dalam syari’at, yangmeliputi perkawinan, pewarisan, hubungan perekonomian, perlindungan hak dan kewajiban manusia dan sebagainya. Yang telah dibahas secara rinci dalam Ilmu Fiqih.
3.       Masalah ihsan ; yang meliputi hubungan baik terhadap Allah, terhadap sesama manusia, serta terhadap seluruh makhluk  di dunia ini. Pembahasan secara rinci terdapat dalam ilmu Akhlak dan ilmu Tasawuf.
Jadi kita ketahui bahwa akhlak dalam Islam menempati sendi yang ketiga dengan fungsi selalu mewarnai sikap dan prilaku manusia dalam memanifestasikan keimanannya, ibadahnya serta muamalahnya terhadap sesama manusia. maka kita sering mendapati kitab yang membahas masalah akhlak.
Masyarakat islam tidak boleh rusak tatanannya, sebagaimana halnya umat-umat terdahulu. Maka Rasulullah diuttus untuk menyempurnakan akhlak mulia, sebagai suatu ajaran dalam Islam dalam islam yang bermaksud untuk memperbaiki kepribadian manusia. Maka dalam hal ini ada sebuah hadis yang menerangkan sebagai berikut:
Artinya: bersabda Rasulullah SAW. Bahwa sanya aku diutus ( sebagai Rasul) untuk menyempurnakan akhlak mulia H.R. Al-Bukhari. Yang bersumber dari abi hurairah.
Ibnu ‘Abdi Rabbih mengatakan kesempurnaan aklhlak yang dimaksud hadist itu, bila seseorang sudah melaksanakan perintah ayat 199 surah Al-A’raaf. Yang menekankan tiga perintah
1.       Jadilah engkau pemaaf
Selalu menghubungkan silaturahmi dan berdamai dengan orang-orang yang telah berbuat zalim kepada kita.
2.       Suruhlah orang melaksanakan yang ma’ruf
Dengan cara bertaqwa kepada Allah. Dan menjaga perkataan dari kebohongan.
3.       Berpalinglah dari orang-orang yang jahil
Dengan cara tidak menyamai sikap dan prilakunya serta tidak memberikan peluang bagi mereka untuk mempengaruhi orang-orang baik untuk menjadi jahil.
Akhlak mullia selalu melengkapi keimanan untuk menuju kepada kesempurnaan kepribadian manusia, sebagaimana keterangan hadits yang berbunyi:
Artinya : Bersabda Rasulullah SAW, paling sempurna keimanan orang-orang mu’min( kalau) akhlaknya lebih baik...H.R. At-Tirmidzify
       


[1] Drs. Mahyuddin, Kuliah Akhlaq Tasawuf, Jakarta:Kalam Mulia, 2003, hlm. 135

0 komentar:

Posting Komentar