Copyright © Muslimische Frau
Design by Dzignine
Rabu, 15 Oktober 2014

Cooperative Learning



BAB II
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
(COOPERATIVE LEARNING)

A.    PENGERTIAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Pembelajaran kooperatif merupakan suatu strategi dalam proses pembelajaran yang membutuhkan partisipasi dan kerja sama dalam kelompok; dengan kerja sama dapat meningkatkan cara kerja peserta didik menuju lebih baik dan memupuk sikap tolong-menolong dalam beberapa perilaku sosial.[1] Menurut Salvin, pembelajaran kooperatif sebagai lingkungan belajar dimana peserta didik bekerja sama dalam suatu kelompok kecil yang kemampuannya berbeda-beda untuk menyelesaikan tugas-tugas akademik.[2] Meskipun pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang mana sistem atau belajar kelompok bukan berarti bahwa pembelajaran kooperatif sama dengan kerja kelompok secara kelompok. Ini dilihat dari pengertian dari metode kerja kelompok itu sendiri yaitu metode kerja kelompok adalah penyajian materi dengan cara pemberian tugas-tugas untuk mempelajari sesuatu kepada kelompok-kelompok belajar yang sudah ditentukan yang dilakukan secara bergotong-royong untuk mencapai tujuan.[3] Tetapi pembelajaran kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok, karena dalam pembelajaran kooperatif ada tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdepeciensi efektif antara anggota kelompok.[4]
Untuk mendapatkan pemahaman tentang strategi pembelajaran kooperatif ini, di sini dikemukakan berbagai pendapat para ahli sesuai dengan sudut pandang mereka masing-masing. Diantaranya yaitu:
1.      Menurut Johnson, et al., belajar kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam pengajaran yang memungkinkan mahasiswa bekerja sama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar dengan angota lainnya dalam kelompok tersebut;[5]
2.      Slavin mengatakan bahwa cooperative learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri-dari 4 sampai 6 orang dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen;
3.      Stahl mengatakan bahwa model pembelajaran cooperative learnig menempatkan siswa sebagai bagian dari suatu sistem kerja sama dalam mencapai suatu hasil yang optimal dalam belajar. Model pembelajaran yang dimaksud disini juga diadaptasi dari pernyataan Slavin yang berangkat dari asumsi mendasar dalam kehidupan masyarakat yaitu getting better together;[6]
4.      Menurut Michaels, Cooperative learning is more effective in increasing motive and ferformance students, maksudnya pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman dan sikapnya sehingga dengan bekerja secara bersama-sama diantara sesama anggota kelompok akan meningkatkan motivasi dan perolehan belajar.
Dari sisi redaksional terdapat perbedaan diantara para ahli, yaitu antara Ibrahim, Kagan, dan Jacob dalam mengemukakan konsep strategi pembelajaran kooperatif tetapi pada prinsipnya sama saja, yaitu suatu strategi untuk membangun kerja sama antara siswa dalam pembelajaran.
1.      Menurut Ibrahim strategi pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang membantu siswa mempelajari isi akademik dan hubungan sosial;
2.      Kagan mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai suatu strategi instruksional yang melibatkan interaksi siswa secara kooperatif dalam mempelajari suatu topik sebagai bagian integral dari proses pembelajaran;[7]
3.      Jacob menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif suatu metode instruksional dimana siswa dalam kelompok kecil bekerja sama dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas akademik.[8]
Secara sederhana pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang didalamnya mengkondisikan para siswa untuk bekerja sama didalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lain dalam belajar; adanya saling ketergantungan positif antara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dan setiap siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses. Melalui pembelajaran kooperatif siswa bukan hanya belajar dan menerima apa saja yang disajikan oleh guru dalam proses belajar mengajar, melainkan bisa juga belajar dari siswanya, dan sekaligus mempunyai kesempatan untuk membelajarkan siswa yang lain. Pembelajaran kooperatif memungkinkan semua siswa dapat menguasai materi pada tingkat penguasaan yang relatif sama atau sejajar.[9]
Pembelajaran kooperatif guru bukan lagi berperan sebagai satu-satunya narasumber dalam proses belajar mengajar, tetapi berperan sebagai mediator, stabilisator, dan manajer pembelajaran. Iklim belajar yang berlangsung dalam suasana keterbukaan dan demokratis akan memberikan kesempatan yang optimal bagi siswa untuk memperoleh informasi yang lebih banyak mengenai materi yang dibelajarkan dan sekaligus melatih sikap dan keterampilan sosialnya sebagai bekal dalam kehidupannya di masyarakat, sehingga perolehan dan hasil belajar siswa akan semakin meningkat.[10]

B.     TUJUAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF
      Strategi pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya ada tiga tujuan pembelajaran seperti yang disarikan menurut Ibrahim dkk yaitu sebagai berikut:
1.      Pembelajaran kooperatif tidak hanya meliputi berbagai macam tujuan sosial, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa strategi ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Strategi struktur penghargaan kooperatif juga telah dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar;
2.      Penerimaan yang luas terhadap orang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, maupun ketidak-mampuan. Pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain;
3.      Pembelajaran kooperatif bertujuan mengajarkan kepada siswa keterampilan kerja sama dan kolaborasi. Keterampilan ini penting karena banyak anak muda dan orang dewasa masih kurang dalam keterampilan sosial.[11]
     Untuk menambah pengetahan pembaca untuk lebih jelasnya ada beberapa tujuan pembelajaran kooperatif yang dapat dicapai dalam proses pembelajaran menurut Ramayulis yaitu sebagai berikut:
1.      Hasil belajar akademik
         Dengan belajar kooperatif dapat memperbaiki prestasi peserta didik atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Para ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu peserta didik memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik sehingga terjadi perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Selain itu pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada kelompok bawah maupun kelompok kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan rugas akademik.
2.      Penerimaan terhadap perbedaan individu
         Model pembelajaran kooperatif dapat diterima secara baik oleh peserta didik yang berbeda ras, budaya, strata sosial, dan agama. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi peserta didik dari berbagai latar belakang yang berbeda untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif peserta didik akan belajar saling menghargai sesama mereka.[12]
3.      Pengembangan keterampilan sosial
         Dengan pembelajaran kooperatif dapat mendidik peserta didik terampil dalam bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan sosial ini penting dimiliki oleh peserta didik mengingat saat ini banyak generasi muda yang rendah keterampilan sosialnya.
4.      Penghargaan terhadap orang lain
     Dengan pembelajaran kooperatif para peserta didik dapat menghargai pendapat orang lain dan saling membetulkan kesalahan secara bersama, mencari jawaban yang paling tepat dan benar dengan cara mencari sumber-sumber pembelajaran mana saja seperti buku paket, buku-buku yang ada di perpustakaan dan buku-buku pelajaran yang tersedia di internet dan berbagai sumber lainnya yang bisa dijadikan pembantu dalam mencari jawaban yang baik; benar serta untuk memperoleh pemahaman terhadap materi pembelajaran yang disediakan dalam silabus.[13]

C.    KARAKTERISTIK DAN PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN KOOPERATIF
1.      Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
Suatu pembelajaran kooperatif ditandai dengan karakteristik tertentu. Karakteristik inilah yang membedakan dengan model lainnya. Karakteristik tersebut adalah sebagai berikut:
a.        Menciptakan peluang kemenangan bersama karena setiap anggota memberikan sumbangan kepada kelompoknya nilai hasil belajarnya, hal ini dapat dilakukan dengan cara dimana setiap anggota kelompoknya berusaha memperoleh yang terbaik;[14]
b.       Menekankan penilaian atau penghargaan kelompok. Penilaian kelompok diberikan pada usaha bersama dengan anggota kelompok dan penghargaan kelompok biasanya diberikan apabila suatu kelompok yang menang diantara kelompoknya;
c.       Menekankan peran anggota, karena setiap anggota memiliki tugas dan fungsi yang jelas;
d.      Menekankan interaksi, setiap anggota kelompok berinteraksi secara tatap muka dalam kelompok secara terarah;
e.        Mengutamakan hubungan pribadi ini disebabkan semua anggota kelompok perlu bergaul satu sama lain dan saling tolong-menolong dalam belajar kelompok;
f.       Mengutamakan tanggung jawab individu. Kemenangan kelompok bergantung kepada hasil belajar individu terhadap pembelajaran. Setiap anggota kelompok memberikan bimbingan satu sama lain terhadap bahan pelajaran yang belum dipahami;
g.      Keberhasilan kelompok dicapai bersama oleh semua anggota kelompok;[15]
h.      Terdapat saling ketergantungan yang positif diantara anggota kelompok;[16]
i.        Produktif dalam berbicara atau saling mengemukakan pendapat;
j.        Membentuk keterampilan sosial;
k.      Efektivitas belajar tergantung pada kelompok;
l.        Belajar dari teman sendiri dalam kelompok;
m.    Peran guru atau dosen mengamati proses belajar siswa[17]
2.      Prinsip-Prinsip Pembelajaran Kooperatif
Seorang pendidik akan dapat menggunakan pembelajaran ini secara efektif apabila ia dapat mengenal dan memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a.       Peserta didik harus memiliki persepsi bahwa mereka tenggelam dan berenang secara bersama;
b.      Peserta didik memiliki tanggung jawab terhadap anggota lain dalam kelompok disamping tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi pembelajaran yang dihadapi;
c.       Peserta didik harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama;
d.      Peserta didik harus berbagi tugas dan berbagi tanggung jawab sama besarnya diantara para anggota kelompok;
e.       Peserta didik akan diberi suatu evaluasi atau penghargaan, yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok;
f.       Peserta didik berbagi kepemimpinan, sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja selama belajar;
g.      Peserta didik akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang dipelajari dalam kelompok kooperatif.[18]
Semua karakteristik dan prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif harus dipahami dan dilaksanakan oleh pendidik maupun peserta didik. Dengan memahami dan melaksanakan semua karakteristik dan prisip-prinsip ini maka pendidik akan berhasil dalam melaksanakan pembelajaran dengan baik. Selanjutnya peserta didik akan berhasil dalam mencapai tujuan pembelajaran secara baik apabila ia memahami dan melaksanakannya dalam pembelajaran.[19]

D.    BEBERAPA TEORI YANG MENDASARI PEMBELAJARAN KOOPERATIF
1.      Teori Pembelajaran Ausabel
Menurut Ausabel, subjek yang dipelajari peserta didik haruslah bermakna (meaning full). Pembelajaran bermakna terjadi apabila peserta menghubungkan fenomena baru kedalam struktur pengetahuan mereka. Artinya materi yang diajarkan mesti sesuai dengan keterampilannya dan dengan struktur kognitif yang dimilikinya.[20]
2.       Teori Pembangun Kognitif
Teori ini dikemukakan oleh Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Menurut Jean Piaget ketika individu bekerja sama, konflik sosial kognitif terjadi dan menciptakan ketidak seimbangan yang menstimulus pandangan, mengangkat kemampuan dan pemikiran. Piaget memandang anak-anak sebagai pembelajaran lewat penemuan individual.[21] Jean piaget menyebut bahwa struktur kognitif ini sebagai skemata (schemas), yaitu kumpulan dan skema-skema. Seseorang individu dapat mengikat, memahami, dan memberikan respon terhadap stimulus disebabkan karena bekerjanya skemata ini. Skemata ini berkembang secara kronologis, sebagai hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya. Dengan demikian, seorang individu yang lebih dewasa memiliki struktur kognitif yang lebih lengkap dibandingkan ketika ia masih kecil.[22]
Sedangkan menurut teori Lev Vygotsky menyajikan pengetahuan yang menekankan pada bakat sosial dalam pembelajaran dan lebih menekankan peranan orang dewasa dan anak-anak lain dalam memudahkan perkembangan si anak. Kemudian menurut Vygotsky keterampilan-keterampilan dalam keberfungsian mental berkembang melalui interaksi sosial langsung yang berada di dalam suatu latar belakang kebudayaan perkembangan si anak menjadi matang.[23] Kualitas berfikir peserta didik dibina dan dikembangkan dalam ruangan belajar dalam bentuk kerja sama sesama mereka yang lebih mampu dibawah bimbingan pendidik.[24]
3.      Teori Ketergantungan Sosial
Teori ketergantungan sosial ini diciptakan pertama kali oleh Morton Deutsch.[25] Ketergantungan sosial terjadi ketika setiap individu berbagi tujuan umum dan setiap individu mendapatkan dampak dan kegiatan yang lain. interaksi dengan orang lain adalah Inti dan perjuangan manusia. Dalam situasi pendidikan ketergantungan sosial untuk melihat usaha-usaha siswa untuk mencapai, pengembangan hubungan positif, melakukan penyesuaian secara psikologis dan menunjukkan kemampuan sosial.
Ketergantungan sosial pada pembelajaran kooperatif mensyaratkan bahwa pada proses ketergantungan sosial menentukan struktur cara seseorang berinteraksi dengan yang lainnya. Oleh karena itu, satu unsur kooperatif yang harus disusun dalam kelas adalah ketergantungan positif atau kerja sama. Ketika telah dilaksanakan hasil kerja dalam interaksi yang naik tingkatan sebagaimana dorongan anggota kelompok dan mudah satu sama lain berusaha untuk belajar. Ketergantungan ini dapat dicapai melalui:
a.       saling ketergantungan pencapaian tujuan;
b.      saling ketergantungan dalam meyelesaikan tugas;
c.       saling ketergantungan bahan atau sumber;
d.      saling ketergantungan peran;
e.       saling ketergantungan reward atau hadiah.[26]
4.      Teori Belajar Behaviorisme
Menurut behaviorisme belajar dapat diartikan sebagai perubahan yang relatif sementara dalam perilaku yang dibawa dari hasil pengalaman atau praktek. Tujuan pendekatan behaviorisme adalah bagaimana lingkungan yang berdampak pada perilaku. Teori belajar behaviorisme menjelaskan bahwa belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkrit. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak baik yang internal maupun yang eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respon adalah akibat atau dampak berupa reaksi terhadap stimulan. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan kecendrungan perilaku S-R (Stimulus-Respon).[27]

E.     UNSUR-UNSUR PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Seperti yang diuraikan sebelumnya bahwa metode kerja kelompok tidak sama dengan pembelajaran kooperatif. Dalam pembelajaran kooperatif, semua peserta didik akan menguasai materi pembelajaran dengan hasil yang relatif yang sama mutu maupun kualitsnya. Sehubungan dengan hal yang diatas, ada beberapa unsur pembelajaran kooperatif yang harus dipahami yaitu:
1.      Saling Ketergantungan Positif
Setiap anggota harus sadar bahwa keberhasilan seseorang merupakan keberhasilan yang lain atau sebaliknya. Jadi, keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya. Dengan demikian diantara sesama anggota saling membantu menyelesaikan tugas-tugasnya oleh karena itu, mau tidak mau setiap anggota merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya agar yang lain berhasil.[28]
2.      Tanggung Jawab Perseorangan
Adanya ketergantungan yang positif dalam pembelajaran kooperatif dapat memotivasi peserta didik untuk mempertanggungjawabkan hasil kerjanya kepada kelompoknya, sehingga dalam pembelajaran setiap peserta didik dituntut untuk memiliki kemampuan berpartisipasi secara aktif. Hal ini karena tujuan utama pembelajaran bukan hanya dapat menyelesaikan tugas yang diberikan pada kelompok, tetapi juga peserta didik diharapkan mampu mengajarkannya kembali kepada anggota kelompok.
3.      Adanya Tatap Muka antara Sesama Anggota Kelompok
Setiap anggota kelompok memiliki latar belakang, pengalaman dalam keluarga, sosial ekonomi dan tingkat pemahaman yang berbeda. Perbedaan ini menjadi modal utama dalam bertukar pikiran untuk memecahkan berbagai permasalahan. Para anggota kelompok diberi kesempatan saling mengenal dan menerima satu sama lain dalam kegiatan tatap muka dan interaksi pribadi sehingga terjadi hubungan yang akrab dan harmonis.
4.      Komunikasi antar Sesama Anggota
Dalam pembelajaran kooperatif peserta didik dituntut untuk memiliki kemampuan berinteraksi dengan temannya sehingga sebelum menugaskan mereka dalam kelompok, mereka perlu dibekali oleh pendidik bagaimana cara berkomunikasi yang baik. Hal ini karena tidak setiap peserta didik mempunyai keahlian, dalam mendengarkan dan berbicara. Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka dalam mengutarakan pendapatnya. Sikap interaksi sosial yang diharapkan adalah bagaimana cara menyampaikan pendapat, bertanya dan menjawab yang baik dan benar sesuai dengan nilai-nilai demokrasi.[29]
5.      Evaluasi Proses dan Hasil Karya Kelompok
Dalam melakukan evaluasi pendidik hendaknya dapat menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu dilaksanakan setiap kali ada kerja kelompok melainkan bisa diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa kali peserta didik terlibat dalam kerja kelompok. Evaluasi dan informasi yang diberikan harus terkait dengan:
a.       tujuan yang dicapai oleh kelompok;
b.      cara kerja sama dalam kelompok dan;
c.       semua mereka bersikap positif agar berhasil secara baiksecara individu dan secara kelompok.
Dalam evaluasi ini pendidik bersama anggota kelompok dapat menilai kelompok mana yang paling baik dan paling benar jawabannya. Pemberian reward perlu diberikan untuk menambah semangat serta motivasi berprestasi kelompok.[30]

F.     LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN KOOPERATIF
1.      Penjelasan Tentang Tujuan dan Materi Pembelajaran
Tahap penjelasan diartikan sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pembelajaran dan tujuan pembelajaran dicapai, sebelum peserta didik belajar dalam kelompok. Tujuannya agar masing-masing memahami tujuan dan materi pembelajaran. Pada tahap ini menggunakan metode ceramah, curah pendapat dan tanya jawab, bahkan kalau diperlukan pendidik dapat menggunakan demonstrasi. Disamping pendidik juga dapat menggunakan berbagai media pembelajaran agar proses penyampaian dapat lebih menarik.[31]
2.      Mengelompokkan Peserta Didik Kedalam Kelompok Belajar
Pada tahap ini pendidik bersama peserta didik membentuk kelompok dengan berbagai bentuk kelompoknya. Pengelompokkan itu bersifat heterogen artinya kelompok dibentuk berdasarkan perbedaan-perbedaan setiap anggotanya, baik perbedaan gender, latar belakang agama, sosial ekonomi, dan etnik serta perbedaan kemampuan akademik.[32]
3.      Belajar Dalam Kelompok
Setelah pendidik menjelaskan gambaran umum tentang tujuan pembelajaran pokok-pokok materi pembelajaran selanjutnya peserta didik diminta untuk belajar pada setiap kelompoknya masing-masing yang telah dibentuk sebelumnya. Sehingga masing-masing anggota mempunyai persepsi yang sama tentang tujuan pembelajaran dan mengetahui materi pembelajaran. Belajar dalam kelompok ini menyebabkan masing-masing anggota didorong untuk tukar-menukar informasi (sharing) informasi dan mendiskusikan permasalahan secara bersama, membandingkan jawaban dan mengoreksi kesalahan.
4.      Melakukan Penilaian
Penilaian ini bisa dilakukan dengan tes atau kuis dan bisa dilakukan secara individual maupun perkelompok. Tes individual nantinya akan memberikan informasi kemampuan setiap kelompok akan memberikan informasi kemampuan setiap kelompok. Nilai akhir penggabungan antara nilai individual dan nilai kelompok kemudian dibagi dua dan nilai setiap kelompok sama dalam kelompoknya karena nilai bersama dalam kelompoknya yang merupakan hasil kerja sama setiap anggota kelompok.
5.      Pengakuan dan Penghargaan Kepada Kelompok
Pengakuan terhadap kelompok ini disebabkan ada penetapan kelompok yang dianggap paling menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah. Pengakuan penghargaan ini dapat memotivasi kelompok yang berprestasi dan sekaligus membangkitkan motivasi kelompok lain untuk mampu meningkatkan prestasi mereka dimasa yang akan datang.[33]

G.    KETERAMPILAN KOOPERATIF SISWA DALAM PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Pembelajaran kooperatif bukan hanya mempelajari materi saja, tetapi peserta didik atau siswa juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Fungsi keterampilan kooperatif adalah untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Untuk membuat keterampilan kooperatif dapat bekerja, guru harus mengajarkan keterampilan-keterampilan kelompok dan sosial yang dibutuhkan. Keterampilan-keterampilan itu yaitu sebagai berikut:
1.      Keterampilan Sosial
Keterampilan sosial melibatkan perilaku yang menjadikan hubungan sosial berhasil dan memungkinkan seseorang bekerja secara efektif dengan orang lain.[34] Kemampuan sosial lainnya adalah memberikan dukungan yang meliputi menerima perbedaan, ramah, dan menyemangati orang lain. Keterampilan sosial disini juga mencakup mendengarkan orang lain tanpa menginterupsi, dapat merangkum gagasan orang lain, menggabungkannya kedalam diskusi yang berlangsung.[35] Para siswa yang kekurangan kemampuan sosial mungkin bersikeras mengerjakan hal-hal dengan cara mereka sendiri, berulang kembali berdebat, mengabaikan kontribusi siswa lainnya atau tidak terlibat dalam kerja kelompok. Kemampuan bekerja dalam sebuah kelompok bergantung pada kemanpuan sosial, sehingga para guru biasanya menekankan pengembangan kemampuan ini dan para guru sebaiknya juga memperkuat penggunaan kemampuan sosial yang sesuai disepanjang tahun ajaran tersebut.[36]
2.      Keterampilan  Menjelaskan
Keterampilan menjelaskan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam tugas kelompok dan sangat penting untuk pengembangan hasil akademik. Indikator keterampilan menjelaskan adalah komentar yang menjelaskan sebuah masalah, tugas, dan tujuan. Komponen penting lainnya dari proses menjelaskan adalah mencari penjelasan dari siswa lainnya. Ini mungkin melibatkan para siswa yang menjelaskan apa yang mereka mengerti dan tidak mengerti serta meminta bantuan anggota kelompok lainnya. Permintaan itu kemungkinan tidak diajukan kecuali siswa lainnya kecuali siswa lainnya dalam kelompok menerapkan keterampilan sosial yang baik.
3.      Keterampilan Kepemimpinan
Para guru dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan kepemimpinan mereka dengan memberikan peran seperti pemimpin diskusi atau presenter, yang memberikan kesempatan kepada para siswa menunjukkan inisiatif dan mendapatkan rasa percaya diri. Peran-peran seperti itu sebaiknya digilirkan, sehingga setiap siswa mendapatkan kesempatan bagi penerapan. Sebagian besar guru sangat menghargai kemampuan ini dan berusaha membentuk kelompok dengan setidaknya satu siswa yang menunjukkan kemampuan tersebut secara alamiah. Meskipun kemampuan kepemimpinan berkembang sesuai dengan waktu dan para siswa menguasainya dalam derajat berbeda, seluruh siswa dapat menghasilkan kemajuan terhadap pembelajaran dan mencapainya.[37]
4.      Keterampilan Berbagi
Banyak siswa mengalami kesulitan berbagi waktu dan bahan. Komplikasi ini dapat mendatangkan masalah pengelolahan yang serius selama pelajaran pembelajaran kooperatif. Siswa-siswa yang mendominasi sering dilakukan secara sadar dan tidak memahami akibat perilaku mereka terhadap siswa lain atau terhadap kelompok mereka.[38]
5.      Keterampilan Berperan Serta
Sementara ada sejumlah siswa yang mendominasi kegiatan kelompok, siswa lain tidak mau atau tidak dapat berperan serta. Terkadang siswa yang menghindari kerja kelompok karena malu atau minder. Siswa yang tersisih adalah jenis lain siswa yang mengalami kesulitan berperan serta dalam kegiatan kelompok.
6.      Keterampilan Komunikasi
Kelompok pembelajaran kooperatif tidak dapat berfungsi secara efektif apabila kerja kelompok itu ditandai dengan miskomunikasi. Empat keterampilan kominikasi, mengulang dengan kalimat sendiri, memberikan perilaku, memberikan perasaan, dan mengecek kesan adalah penting dan seharusnya diajarkan kepada siswa untuk memudahkan komunikasi didalam setting kelompok.
7.      Keterampilan Kelompok
Kebanyakan orang telah mengalami bekerja dalam kelompok dimana anggota-anggota secara individu merupakan orang yang baik dan memiliki ketampilan sosial. Sebelum siswa dapat belajar secara efektif didalam kelompok pembelajaran kooperatif, mereka harus belajar tentang memahami satu sama lain dan menghormati perbedaan.[39]

H.    BEBERAPA TIPE MODEL PEMBELAJARAN KELOMPOK
1.      Tipe Student Team Achievement Division (STAD)
STAD pertama kali dikembangkan oleh Robert Slavin dari universitas John Hopkin. pengelompokkan dalam STAD dengan cara membagi peserta didik dalam satu kelas menjadi beberapa kelompok dengan anggotannya 4-5 orang, setiap kelompok haruslah heterogen yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dan berasal dari suku yang berbeda yang memiliki kemampuan yang berbeda. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau alat pembelajaran untuk menuntaskan materi dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami melalui tutorial, kuis atau diskusi. Secara individual setiap minggu atau setiap dua minggu peserta didik perlu diberi kuis. Kuis itu diberi skor atau diberi nilai dan setiap peserta diberi skor perkembangan. Skor perkembangan ini tidak berdasarkan pada skor mutlak peserta didik, tetapi berdasarkan pada seberapa jauh skor itu melampaui rata-rata skor yang sudah dicapainya semula.[40]
2.      Tipe Pendekatan Struktural
Pendekatan ini dikembangkan oleh Spenser Kagem. Salah satu bentuk pendekatan struktural yang sering dipergunakan adalah think prair share (TPS). Dalam TPS peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok kecil dengan anggota bervariasi dan 2 sampai 5 orang sesuai dengan kepentingan tugas kelompok. Struktur dalam TPS ini menghendaki peserta didik bekerja saling membantu dalam kelompok kecil dan lebih dirincikan oleh penghargaan kooperatif, daripada penghargaan individual.
3.      Tipe Jigsaw
Teknik mengajar jigsaw dikembangkan pertama kali oleh Eliot Aronson di Universitas Texas. Teknik ini bisa digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. Teknik ini menggabungkan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. Pendekatan ini bisa juga digunakan dalam beberapa mata pelajaran seperti ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, matematika, agama dan bahasa dan cocok untuk semua tingkatan.[41] Dengan membentuk pengelompokkan jigsaw setiap peserta didik belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas 4-6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus mereka pelajari. Kemudian mereka menyampaikan hasil yang mereka pelajari tersebut kepada kelompok yang lain dan begitulah seterusnya masing-masing kelompok menyampaikan pula kepada kelompok lainnya.
Setelah itu, terjadilah diskusi antar kelompok untuk mencari hasil yang baik dan benar bagi keseluruhan materi pembelajaran jigsaw yang didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab anggota terhadap pembelajaran sendiri dan pembelajaran orang lain. Peserta didik tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompok yang lain. Dengan demikian peserta didik saling tergantung satu sama lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan.[42]
4.      Tipe Investigasi Kelompok
Tipe ini pertama kali dikembangkan oleh Thelan. Tipe ini termasuk yang paling kompleks dan paling sulit dilaksanakan. Tipe ini lebih menuntut kreativitas dan kemampuan peserta didik sebab mulai perencanaan dalam menentukan topik yang dipelajari maupun bagaimana jalannya penyelidikan yang mereka lakukan. Pendekatan ini memerlukan aturan dan struktur kelas yang lebih, karena keterlibatan peserta didik lebih banyak. Dalam penerapan investigasi kelompok ini peserta didik membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 peserta didik yang heterogen. Dalam beberapa kasus, kelompok dapat dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban persahabatan atau minat yang sama dalam topik tertentu. Selanjutnya peserta didik memilih topik untuk diselidiki, melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih itu. Selanjutnya menyiapkan dan mempersentasikan laporannya kepada seluruh kelompok dan keseluruh peserta didik dalam kelas.[43]

I.       KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Seperti yang diketahui bahwa tidak ada satu strategi pembelajaran yang paling baik diantara strategi pembelajaran yang lain. Demikian halnya dengan strategi pembelajaran kooperatif. Ada sejumlah keunggulan dan kelemahan yang dimilikinya.[44]
1.     keunggulan dari strategi pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
a.     siswa berkelompok sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan;
b.     optimalisasi partisipasi siswa;
c.      adanya struktur yang jelas dan memungkinkan siswa untuk berbagi dengan pasangan dengan sesama siswa dalam suasana gotong-royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi;
d.     adanya struktur yang jelas dan memungkinkan siswa untuk berbagi dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur;
e.      meningkatkan hubungan positif;
f.       motivasi intrinsik makin besar;
g.     menjadikan percaya diri makin tinggi;
h.     peran dalam kelompok mengenai tugas jelas dan dapat berkontribusi lebih pada kelompok;
i.       sikap yang baik terhadap guru dan sekolah;
j.       siswa bertanggung jawab pada hasil belajarnya;
k.     siswa meningkatkan dalam kolaborasi kognitif. Mereka mengorganisasi pikirannya untuk menjelaskan ide pada teman-teman sekelas mereka.[45]
2.     kelemahan strategi pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
a.       siswa yang pandai akan cenderung mendominasi sehingga dapat menimbulkan sikap minder dan pasif dari siswa yang lemah;
b.      dapat terjadi siswa yang sekedar menyalin pekerjaan siswa yang pandai tanpa memiliki pemahaman yang memadai;
c.       pengelompokkan siswa memerlukan pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda serta membutuhkan waktu khusus.[46]

Kosa Kata:
1.      interdepeciensi            : saling tergantung;
2.      heterogen                    : berbagai jenis;
3.      redaksional                  : mengenai cara dan susunan kata-kata dalam kalimat;
4.      instruksional                : bersifat pengajaran atau mengandung pelajaran;
5.      mediator                      : perantara;
6.      kolaborasi                    : kerja sama dengan lawan;
7.      interaksi                       : saling mempengaruhi antar hubungan;
8.      tutorial                         : pembimbing kelas oleh seorang pengajar untuk seorang maupun                   kelompok;                                   













BAB II
PENUTUP
A.    kesimpulan
Strategi pembelajaran kooperatif beranjak dari dasar pemikiran setting better together yang menekankan pada pemberian kesempatan belajar yang lebih luas dan dan suasana yang kondusif dimana siswa dapat memperoleh dan mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai serta keterampilan-keterampilan sosial yang bermanfaat bagi kehidupan dimasyarakat. Pada saat siswa belajar dalam kelompok akan berkembang suasana belajar yang terbuka dalam dimensi kesejawatan, karena pada saat itu akan terjadi proses belajar kolaboratif dalam hubungan pribadi yang saling membutuhkan.
B.     saran
Para pendukung penggunaan pembelajaran kooperatif menekankan sifat saling bergantung dari kehidupan sosial termasuk dalam situasi kerja dan keluarga. Juga menekankan sifat sosial dari pembelajaran dan pentingnya interaksi dalam membangun makna kehidupan. Oleh karena itu metode ini sangat efektif jika kita lihat dari pembelajaran sosial yang akan membantu para peserta didik dalam kehidupan lingkungan masyarakatnya kelak.














DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, kamus lengkap bahasa Indonesia, Jakarta: sandro jaya.

Daradjat Zakariah, Metodologi Pengajaran islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.

Djamarah Syaiful Bahri, Guru dan Anak Didik  dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: Rineka Cipta, 2010.

Everton Carolyn M. dan Emmer Edmund T., Manajemen Kelas Untuk Guru Sekolah Dasar, Jakarta: Kencana, 2011.

Raharjo, Soliatin Etin  , Cooperative Learning, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.

Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2012.


[1]Prof. DR. Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2012), hlm. 242.
[2]Prof. DR. Ramayulis, Loc. Cit.
[3]Dr. Zakariah Daradjat, dkk., Metodologi Pengajaran islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 159.
[4]Prof. DR. Ramayulis, Op. Cit., hlm. 242.
[5] Dra. Hj. Etin  Soliatin, M.Pd., Raharjo, S,.Pd., Cooperative Learning, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm. 4.
[6] Ibid., hlm. 5.
[7] Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag., Guru dan Anak Didik  dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm. 356.
[8]  Ibid., hlm. 357.
[9] Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag., Op. Cit., hlm. 357.
[10] Ibid., hlm. 358.
[11] Ibid., hlm. 360.
[12] Prof. DR. Ramayulis, Op. Cit., hlm. 243.
[13] Ibid., hlm. 244.
[14] Ibid., hlm. 245.
[15] Prof. DR. Ramayulis, Loc. Cit.
[16] Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag., Op. Cit., hlm. 359
[17] Ibid., hlm. 359.
[18] Prof. DR. Ramayulis, Op. Cit., hlm. 246.
[19] Ibid., hlm., 246.
[20] Ibid., hlm. 244.
[21] Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag., Op. Cit., hlm. 364.
[22] Ibid., hlm. 365.
[23] Ibid., hlm. 366.
[24] Prof. DR. Ramayulis, Op. Cit., hlm. 244.
[25] Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag., Op. Cit., hlm. 363.
[26] Ibid.,  364.
[27] Ibid., hlm. 365.
[28] Prof. DR. Ramayulis, Op. Cit., hlm. 247.
[29] Ibid., hlm. 248.
[30] Prof. DR. Ramayulis, Loc. Cit.
[31] Ibid., hlm. 248.
[32] Ibid., hlm. 249.
[33] Ibid., hlm. 250.
[34] Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag., Op. Cit., hlm. 360.
[35] Carolyn M. Everton dan Edmund T. Emmer, Manajemen Kelas Untuk Guru Sekolah Dasar, (Jakarta: Kencana, 2011), hlm. 164.
[36] Ibid., hlm. 165.
[37] Ibid., hlm. 166.
[38] Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag., Op. Cit., hlm. 361.
[39] Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag., Loc. Cit.
[40] Ibid., hlm. 250.
[41] Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag., Op. Cit., hlm. 388.
[42] Prof. DR. Ramayulis, Op. Cit., hlm. 251.
[43] Ibid, hlm. 251.
[44] Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag., Op. Cit., hlm. 366.
[45] Ibid., hlm. 366.
[46] Ibid., hlm. 367.