BAB II
MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF
(COOPERATIVE LEARNING)
A. PENGERTIAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Pembelajaran
kooperatif merupakan suatu strategi dalam proses pembelajaran yang membutuhkan
partisipasi dan kerja sama dalam kelompok; dengan kerja sama dapat meningkatkan
cara kerja peserta didik menuju lebih baik dan memupuk sikap tolong-menolong
dalam beberapa perilaku sosial.[1] Menurut
Salvin, pembelajaran kooperatif sebagai lingkungan belajar dimana peserta didik
bekerja sama dalam suatu kelompok kecil yang kemampuannya berbeda-beda untuk
menyelesaikan tugas-tugas akademik.[2]
Meskipun pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang mana sistem atau
belajar kelompok bukan berarti bahwa pembelajaran kooperatif sama dengan kerja
kelompok secara kelompok. Ini dilihat dari pengertian dari metode kerja
kelompok itu sendiri yaitu metode kerja kelompok adalah penyajian materi dengan
cara pemberian tugas-tugas untuk mempelajari sesuatu kepada kelompok-kelompok
belajar yang sudah ditentukan yang dilakukan secara bergotong-royong untuk
mencapai tujuan.[3]
Tetapi pembelajaran kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok, karena
dalam pembelajaran kooperatif ada tugas yang bersifat kooperatif sehingga
memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdepeciensi
efektif antara anggota kelompok.[4]
Untuk mendapatkan
pemahaman tentang strategi pembelajaran kooperatif ini, di sini dikemukakan
berbagai pendapat para ahli sesuai dengan sudut pandang mereka masing-masing.
Diantaranya yaitu:
1. Menurut Johnson, et al., belajar kooperatif adalah
pemanfaatan kelompok kecil dalam pengajaran yang memungkinkan mahasiswa bekerja
sama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar dengan angota lainnya dalam
kelompok tersebut;[5]
2. Slavin mengatakan bahwa cooperative learning adalah
suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam
kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri-dari 4
sampai 6 orang dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen;
3. Stahl mengatakan bahwa model pembelajaran cooperative
learnig menempatkan siswa sebagai bagian dari suatu sistem kerja sama dalam
mencapai suatu hasil yang optimal dalam belajar. Model pembelajaran yang
dimaksud disini juga diadaptasi dari pernyataan Slavin yang berangkat dari
asumsi mendasar dalam kehidupan masyarakat yaitu getting better together;[6]
4. Menurut Michaels, Cooperative learning is more
effective in increasing motive and ferformance students, maksudnya
pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang membantu siswa
dalam mengembangkan pemahaman dan sikapnya sehingga dengan bekerja secara
bersama-sama diantara sesama anggota kelompok
akan meningkatkan motivasi dan perolehan belajar.
Dari sisi
redaksional terdapat perbedaan diantara para ahli, yaitu antara Ibrahim, Kagan,
dan Jacob dalam mengemukakan konsep strategi pembelajaran kooperatif tetapi
pada prinsipnya sama saja, yaitu suatu strategi untuk membangun kerja sama
antara siswa dalam pembelajaran.
1. Menurut Ibrahim strategi pembelajaran
kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang membantu siswa mempelajari isi
akademik dan hubungan sosial;
2. Kagan mendefinisikan pembelajaran
kooperatif sebagai suatu strategi instruksional yang melibatkan interaksi siswa
secara kooperatif dalam mempelajari suatu topik sebagai bagian integral dari
proses pembelajaran;[7]
3. Jacob menyatakan bahwa pembelajaran
kooperatif suatu metode instruksional dimana siswa dalam kelompok kecil bekerja
sama dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas akademik.[8]
Secara sederhana pembelajaran kooperatif
adalah pembelajaran
yang didalamnya mengkondisikan para siswa untuk bekerja sama didalam
kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lain dalam belajar; adanya saling ketergantungan positif antara siswa untuk
mencapai tujuan pembelajaran dan setiap siswa mempunyai kesempatan yang sama
untuk sukses. Melalui pembelajaran kooperatif siswa bukan hanya belajar dan
menerima apa saja yang disajikan oleh guru dalam proses belajar mengajar,
melainkan bisa juga belajar dari siswanya, dan sekaligus mempunyai kesempatan
untuk membelajarkan siswa yang lain. Pembelajaran kooperatif memungkinkan semua
siswa dapat menguasai materi pada tingkat penguasaan yang relatif sama atau
sejajar.[9]
Pembelajaran kooperatif guru bukan
lagi berperan sebagai satu-satunya narasumber dalam proses belajar mengajar, tetapi
berperan sebagai mediator, stabilisator, dan manajer pembelajaran. Iklim
belajar yang berlangsung dalam suasana keterbukaan dan demokratis akan
memberikan kesempatan yang optimal bagi siswa untuk memperoleh informasi yang
lebih banyak mengenai materi yang dibelajarkan dan sekaligus melatih sikap dan
keterampilan sosialnya sebagai bekal dalam kehidupannya di masyarakat, sehingga
perolehan dan hasil belajar siswa akan semakin meningkat.[10]
B.
TUJUAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Strategi pembelajaran
kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya ada tiga tujuan
pembelajaran seperti yang disarikan menurut Ibrahim dkk yaitu sebagai berikut:
1.
Pembelajaran kooperatif tidak hanya meliputi
berbagai macam tujuan sosial, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja
siswa dalam tugas-tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa strategi ini unggul dalam membantu siswa
memahami konsep-konsep yang sulit. Strategi struktur penghargaan kooperatif
juga telah dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan
perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar;
2.
Penerimaan yang luas terhadap orang berbeda menurut
ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, maupun ketidak-mampuan.
Pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada siswa yang berbeda latar
belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas
tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif,
belajar untuk menghargai satu sama lain;
3.
Pembelajaran kooperatif bertujuan mengajarkan
kepada siswa keterampilan kerja sama dan kolaborasi. Keterampilan ini penting
karena banyak anak muda dan orang dewasa masih kurang dalam keterampilan sosial.[11]
Untuk menambah pengetahan
pembaca untuk lebih jelasnya ada beberapa tujuan pembelajaran kooperatif yang
dapat dicapai dalam proses pembelajaran menurut Ramayulis yaitu sebagai berikut:
1.
Hasil belajar akademik
Dengan belajar kooperatif
dapat memperbaiki prestasi peserta didik atau tugas-tugas akademis penting
lainnya. Para ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu peserta
didik memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini menunjukkan bahwa
model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik
sehingga terjadi perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Selain
itu pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada kelompok bawah
maupun kelompok kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan rugas
akademik.
2.
Penerimaan terhadap perbedaan individu
Model pembelajaran
kooperatif dapat diterima secara baik oleh peserta didik yang berbeda ras,
budaya, strata sosial, dan agama. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi
peserta didik dari berbagai latar belakang yang berbeda untuk bekerja dengan
saling bergantung pada tugas akademik dan melalui struktur penghargaan
kooperatif peserta didik akan belajar saling menghargai sesama mereka.[12]
3.
Pengembangan keterampilan sosial
Dengan pembelajaran
kooperatif dapat mendidik peserta didik terampil dalam bekerja sama dan
kolaborasi. Keterampilan sosial ini penting dimiliki oleh peserta didik
mengingat saat ini banyak generasi muda
yang rendah keterampilan sosialnya.
4.
Penghargaan terhadap orang lain
Dengan pembelajaran kooperatif para peserta
didik dapat menghargai pendapat orang lain dan saling membetulkan kesalahan
secara bersama, mencari jawaban yang paling tepat dan benar dengan cara mencari
sumber-sumber pembelajaran mana saja seperti buku paket, buku-buku yang ada di
perpustakaan dan buku-buku pelajaran yang tersedia di internet dan berbagai
sumber lainnya yang bisa dijadikan pembantu dalam mencari jawaban yang baik;
benar serta untuk memperoleh pemahaman terhadap materi pembelajaran yang
disediakan dalam silabus.[13]
C.
KARAKTERISTIK DAN PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN KOOPERATIF
1.
Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
Suatu pembelajaran
kooperatif ditandai dengan karakteristik tertentu. Karakteristik inilah yang
membedakan dengan model lainnya. Karakteristik tersebut adalah sebagai berikut:
a.
Menciptakan
peluang kemenangan bersama karena setiap anggota memberikan sumbangan kepada
kelompoknya nilai hasil belajarnya, hal ini dapat dilakukan dengan cara dimana
setiap anggota kelompoknya berusaha memperoleh yang terbaik;[14]
b.
Menekankan
penilaian atau penghargaan kelompok. Penilaian kelompok diberikan pada usaha
bersama dengan anggota kelompok dan penghargaan kelompok biasanya diberikan
apabila suatu kelompok yang menang diantara kelompoknya;
c.
Menekankan peran anggota, karena setiap anggota
memiliki tugas dan fungsi yang jelas;
d.
Menekankan interaksi, setiap anggota kelompok
berinteraksi secara tatap muka dalam kelompok secara terarah;
e.
Mengutamakan
hubungan pribadi ini disebabkan semua anggota kelompok perlu bergaul satu sama
lain dan saling tolong-menolong dalam belajar kelompok;
f.
Mengutamakan tanggung jawab individu. Kemenangan
kelompok bergantung kepada hasil belajar individu terhadap pembelajaran. Setiap
anggota kelompok memberikan bimbingan satu sama lain terhadap bahan pelajaran
yang belum dipahami;
g.
Keberhasilan kelompok dicapai bersama oleh semua
anggota kelompok;[15]
h.
Terdapat saling ketergantungan yang positif diantara
anggota kelompok;[16]
i.
Produktif dalam berbicara atau saling mengemukakan
pendapat;
j.
Membentuk keterampilan sosial;
k.
Efektivitas belajar tergantung pada kelompok;
l.
Belajar dari teman sendiri dalam kelompok;
m.
Peran guru atau dosen mengamati proses belajar siswa[17]
2.
Prinsip-Prinsip Pembelajaran Kooperatif
Seorang pendidik akan
dapat menggunakan pembelajaran ini secara efektif apabila ia dapat mengenal dan
memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a.
Peserta didik harus memiliki persepsi bahwa mereka
tenggelam dan berenang secara bersama;
b.
Peserta didik memiliki tanggung jawab terhadap
anggota lain dalam kelompok disamping tanggung jawab terhadap diri sendiri
dalam mempelajari materi pembelajaran yang dihadapi;
c.
Peserta didik harus berpandangan bahwa mereka semua
memiliki tujuan yang sama;
d.
Peserta didik harus berbagi tugas dan berbagi
tanggung jawab sama besarnya diantara para anggota kelompok;
e.
Peserta didik akan diberi suatu evaluasi atau
penghargaan, yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota
kelompok;
f.
Peserta didik berbagi kepemimpinan, sementara mereka
memperoleh keterampilan bekerja selama belajar;
g.
Peserta didik akan diminta mempertanggungjawabkan
secara individual materi yang dipelajari dalam kelompok kooperatif.[18]
Semua karakteristik dan
prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif harus dipahami dan dilaksanakan oleh
pendidik maupun peserta didik. Dengan memahami dan melaksanakan semua
karakteristik dan prisip-prinsip ini maka pendidik akan berhasil dalam
melaksanakan pembelajaran dengan baik. Selanjutnya peserta didik akan berhasil
dalam mencapai tujuan pembelajaran secara baik apabila ia memahami dan
melaksanakannya dalam pembelajaran.[19]
D.
BEBERAPA TEORI YANG MENDASARI PEMBELAJARAN KOOPERATIF
1. Teori Pembelajaran Ausabel
Menurut Ausabel, subjek yang dipelajari peserta
didik haruslah bermakna (meaning full). Pembelajaran bermakna terjadi
apabila peserta menghubungkan fenomena baru kedalam struktur pengetahuan
mereka. Artinya materi yang diajarkan mesti sesuai dengan
keterampilannya dan dengan struktur kognitif yang dimilikinya.[20]
2. Teori Pembangun Kognitif
Teori ini dikemukakan oleh Jean Piaget dan Lev
Vygotsky. Menurut Jean Piaget ketika individu bekerja sama, konflik sosial
kognitif terjadi dan menciptakan ketidak seimbangan yang menstimulus pandangan,
mengangkat kemampuan dan pemikiran. Piaget memandang anak-anak sebagai
pembelajaran lewat penemuan individual.[21]
Jean piaget menyebut bahwa struktur kognitif ini sebagai skemata (schemas), yaitu kumpulan dan skema-skema. Seseorang individu
dapat mengikat, memahami, dan memberikan respon terhadap stimulus disebabkan
karena bekerjanya skemata ini. Skemata ini berkembang secara kronologis, sebagai
hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya. Dengan
demikian, seorang individu yang lebih dewasa memiliki struktur kognitif yang
lebih lengkap dibandingkan ketika ia masih kecil.[22]
Sedangkan menurut teori Lev Vygotsky menyajikan
pengetahuan yang menekankan pada bakat sosial dalam pembelajaran dan lebih
menekankan peranan orang dewasa dan anak-anak lain dalam memudahkan
perkembangan si anak. Kemudian menurut Vygotsky keterampilan-keterampilan dalam
keberfungsian mental berkembang melalui interaksi sosial langsung yang berada
di dalam suatu latar belakang kebudayaan perkembangan si anak menjadi matang.[23]
Kualitas berfikir peserta didik dibina dan dikembangkan dalam ruangan belajar
dalam bentuk kerja sama sesama mereka yang lebih mampu dibawah bimbingan
pendidik.[24]
3. Teori Ketergantungan Sosial
Teori ketergantungan sosial ini diciptakan pertama
kali oleh Morton Deutsch.[25] Ketergantungan
sosial terjadi ketika setiap individu berbagi tujuan umum dan setiap individu
mendapatkan dampak dan kegiatan yang lain. interaksi dengan orang lain adalah
Inti dan perjuangan manusia. Dalam situasi pendidikan ketergantungan sosial
untuk melihat usaha-usaha siswa untuk mencapai, pengembangan hubungan positif,
melakukan penyesuaian secara psikologis dan menunjukkan kemampuan sosial.
Ketergantungan sosial pada pembelajaran kooperatif
mensyaratkan bahwa pada proses ketergantungan sosial menentukan struktur cara
seseorang berinteraksi dengan yang lainnya. Oleh karena itu, satu unsur
kooperatif yang harus disusun dalam kelas adalah ketergantungan positif atau
kerja sama. Ketika telah dilaksanakan hasil kerja dalam interaksi yang naik
tingkatan sebagaimana dorongan anggota kelompok dan mudah satu sama lain
berusaha untuk belajar. Ketergantungan ini dapat dicapai melalui:
a. saling ketergantungan pencapaian tujuan;
b. saling ketergantungan dalam meyelesaikan tugas;
c. saling ketergantungan bahan atau sumber;
d. saling ketergantungan peran;
e. saling ketergantungan reward atau hadiah.[26]
4. Teori Belajar Behaviorisme
Menurut behaviorisme belajar dapat diartikan sebagai
perubahan yang relatif sementara dalam perilaku yang dibawa dari hasil
pengalaman atau praktek. Tujuan pendekatan behaviorisme adalah bagaimana
lingkungan yang berdampak pada perilaku. Teori belajar behaviorisme menjelaskan
bahwa belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan
dinilai secara konkrit. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang
menimbulkan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans
tidak lain adalah lingkungan belajar anak baik yang internal maupun yang
eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respon adalah akibat atau
dampak berupa reaksi terhadap stimulan. Belajar berarti penguatan ikatan,
asosiasi, sifat dan kecendrungan perilaku S-R (Stimulus-Respon).[27]
E.
UNSUR-UNSUR PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Seperti yang
diuraikan sebelumnya bahwa metode kerja kelompok tidak sama dengan pembelajaran
kooperatif. Dalam pembelajaran kooperatif, semua peserta didik akan menguasai
materi pembelajaran dengan hasil yang relatif yang sama mutu maupun kualitsnya.
Sehubungan dengan hal yang diatas, ada beberapa unsur pembelajaran kooperatif
yang harus dipahami yaitu:
1. Saling Ketergantungan Positif
Setiap anggota harus sadar bahwa keberhasilan
seseorang merupakan keberhasilan yang lain atau sebaliknya. Jadi, keberhasilan
kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya. Dengan demikian
diantara sesama anggota saling membantu menyelesaikan tugas-tugasnya oleh
karena itu, mau tidak mau setiap anggota merasa bertanggung jawab untuk
menyelesaikan tugasnya agar yang lain berhasil.[28]
2. Tanggung Jawab Perseorangan
Adanya ketergantungan yang positif dalam pembelajaran
kooperatif dapat memotivasi peserta didik untuk mempertanggungjawabkan hasil
kerjanya kepada kelompoknya, sehingga dalam pembelajaran setiap peserta didik
dituntut untuk memiliki kemampuan berpartisipasi secara aktif. Hal ini karena
tujuan utama pembelajaran bukan hanya dapat menyelesaikan tugas yang diberikan
pada kelompok, tetapi juga peserta didik diharapkan mampu mengajarkannya
kembali kepada anggota kelompok.
3. Adanya Tatap Muka antara Sesama Anggota
Kelompok
Setiap anggota kelompok memiliki latar belakang,
pengalaman dalam keluarga, sosial ekonomi dan tingkat pemahaman yang berbeda. Perbedaan
ini menjadi modal utama dalam bertukar pikiran untuk memecahkan berbagai
permasalahan. Para anggota kelompok diberi kesempatan saling mengenal dan
menerima satu sama lain dalam kegiatan tatap muka dan interaksi pribadi
sehingga terjadi hubungan yang akrab dan harmonis.
4. Komunikasi antar Sesama Anggota
Dalam pembelajaran kooperatif peserta didik dituntut
untuk memiliki kemampuan berinteraksi dengan temannya sehingga sebelum
menugaskan mereka dalam kelompok, mereka perlu dibekali oleh pendidik bagaimana
cara berkomunikasi yang baik. Hal ini karena tidak setiap peserta didik
mempunyai keahlian, dalam mendengarkan dan berbicara. Keberhasilan suatu
kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling
mendengarkan dan kemampuan mereka dalam mengutarakan pendapatnya. Sikap interaksi
sosial yang diharapkan adalah bagaimana cara menyampaikan pendapat, bertanya
dan menjawab yang baik dan benar sesuai dengan nilai-nilai demokrasi.[29]
5. Evaluasi Proses dan Hasil Karya Kelompok
Dalam melakukan evaluasi pendidik hendaknya dapat
menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja
kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan
lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu dilaksanakan setiap kali ada
kerja kelompok melainkan bisa diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa
kali peserta didik terlibat dalam kerja kelompok. Evaluasi dan informasi yang
diberikan harus terkait dengan:
a. tujuan yang dicapai oleh kelompok;
b. cara kerja sama dalam kelompok dan;
c. semua mereka bersikap positif agar
berhasil secara baiksecara individu dan secara kelompok.
Dalam evaluasi ini pendidik bersama anggota kelompok
dapat menilai kelompok mana yang paling baik dan paling benar jawabannya. Pemberian
reward perlu diberikan untuk menambah semangat serta motivasi
berprestasi kelompok.[30]
F.
LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN KOOPERATIF
1. Penjelasan Tentang Tujuan dan Materi
Pembelajaran
Tahap penjelasan diartikan sebagai proses penyampaian
pokok-pokok materi pembelajaran dan tujuan pembelajaran dicapai, sebelum
peserta didik belajar dalam kelompok. Tujuannya agar masing-masing memahami
tujuan dan materi pembelajaran. Pada tahap ini menggunakan metode ceramah,
curah pendapat dan tanya jawab, bahkan kalau diperlukan pendidik dapat
menggunakan demonstrasi. Disamping pendidik juga dapat menggunakan berbagai
media pembelajaran agar proses penyampaian dapat
lebih menarik.[31]
2. Mengelompokkan Peserta Didik Kedalam
Kelompok Belajar
Pada tahap ini pendidik bersama peserta didik membentuk
kelompok dengan berbagai bentuk kelompoknya. Pengelompokkan itu bersifat heterogen
artinya kelompok dibentuk berdasarkan perbedaan-perbedaan setiap anggotanya,
baik perbedaan gender, latar belakang agama, sosial ekonomi, dan etnik serta
perbedaan kemampuan akademik.[32]
3. Belajar Dalam Kelompok
Setelah pendidik menjelaskan gambaran umum tentang tujuan
pembelajaran pokok-pokok materi pembelajaran selanjutnya peserta didik diminta
untuk belajar pada setiap kelompoknya masing-masing yang telah dibentuk
sebelumnya. Sehingga masing-masing anggota mempunyai persepsi yang sama tentang
tujuan pembelajaran dan mengetahui materi pembelajaran. Belajar dalam kelompok
ini menyebabkan masing-masing anggota didorong untuk tukar-menukar informasi
(sharing) informasi dan mendiskusikan permasalahan secara bersama,
membandingkan jawaban dan mengoreksi kesalahan.
4. Melakukan Penilaian
Penilaian ini bisa dilakukan dengan tes atau kuis
dan bisa dilakukan secara individual maupun perkelompok. Tes individual
nantinya akan memberikan informasi kemampuan setiap kelompok akan memberikan
informasi kemampuan setiap kelompok. Nilai akhir penggabungan antara nilai
individual dan nilai kelompok kemudian dibagi dua dan nilai setiap kelompok
sama dalam kelompoknya karena nilai bersama dalam kelompoknya yang merupakan
hasil kerja sama setiap anggota kelompok.
5. Pengakuan dan Penghargaan Kepada
Kelompok
Pengakuan terhadap kelompok ini disebabkan ada penetapan
kelompok yang dianggap paling menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian
diberikan penghargaan atau hadiah. Pengakuan penghargaan ini dapat memotivasi
kelompok yang berprestasi dan sekaligus membangkitkan motivasi kelompok lain
untuk mampu meningkatkan prestasi mereka dimasa yang akan datang.[33]
G.
KETERAMPILAN KOOPERATIF SISWA DALAM PEMBELAJARAN
KOOPERATIF
Pembelajaran kooperatif
bukan hanya mempelajari materi saja, tetapi peserta didik atau siswa juga harus
mempelajari keterampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan
kooperatif. Fungsi keterampilan kooperatif adalah untuk melancarkan hubungan
kerja dan tugas. Untuk membuat keterampilan kooperatif dapat bekerja, guru
harus mengajarkan keterampilan-keterampilan kelompok dan sosial yang
dibutuhkan. Keterampilan-keterampilan itu yaitu sebagai berikut:
1. Keterampilan Sosial
Keterampilan sosial melibatkan perilaku yang
menjadikan hubungan sosial berhasil dan memungkinkan seseorang bekerja secara
efektif dengan orang lain.[34] Kemampuan
sosial lainnya adalah memberikan dukungan yang meliputi menerima perbedaan,
ramah, dan menyemangati orang lain. Keterampilan sosial disini juga mencakup
mendengarkan orang lain tanpa menginterupsi, dapat merangkum gagasan orang
lain, menggabungkannya kedalam diskusi yang berlangsung.[35] Para
siswa yang kekurangan kemampuan sosial mungkin bersikeras mengerjakan hal-hal
dengan cara mereka sendiri, berulang kembali berdebat, mengabaikan kontribusi siswa
lainnya atau tidak terlibat dalam kerja kelompok. Kemampuan bekerja dalam
sebuah kelompok bergantung pada kemanpuan sosial, sehingga para guru biasanya menekankan
pengembangan kemampuan ini dan para guru sebaiknya juga memperkuat penggunaan
kemampuan sosial yang sesuai disepanjang tahun ajaran tersebut.[36]
2. Keterampilan Menjelaskan
Keterampilan menjelaskan merupakan salah satu
aspek yang sangat penting dalam tugas kelompok dan sangat penting untuk
pengembangan hasil akademik. Indikator keterampilan menjelaskan adalah komentar
yang menjelaskan sebuah masalah, tugas, dan tujuan. Komponen penting lainnya
dari proses menjelaskan adalah mencari penjelasan dari siswa lainnya. Ini
mungkin melibatkan para siswa yang menjelaskan apa yang mereka mengerti dan
tidak mengerti serta meminta bantuan anggota kelompok lainnya. Permintaan itu
kemungkinan tidak diajukan kecuali siswa lainnya kecuali siswa lainnya dalam
kelompok menerapkan keterampilan sosial yang baik.
3. Keterampilan Kepemimpinan
Para guru dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan
kepemimpinan mereka dengan memberikan peran seperti pemimpin diskusi atau
presenter, yang memberikan kesempatan kepada para siswa menunjukkan inisiatif
dan mendapatkan rasa percaya diri. Peran-peran seperti itu sebaiknya
digilirkan, sehingga setiap siswa mendapatkan kesempatan bagi penerapan.
Sebagian besar guru sangat menghargai kemampuan ini dan berusaha membentuk
kelompok dengan setidaknya satu siswa yang menunjukkan kemampuan tersebut
secara alamiah. Meskipun kemampuan kepemimpinan berkembang sesuai dengan waktu
dan para siswa menguasainya dalam derajat berbeda, seluruh siswa dapat
menghasilkan kemajuan terhadap pembelajaran dan mencapainya.[37]
4. Keterampilan Berbagi
Banyak siswa mengalami kesulitan berbagi waktu dan bahan.
Komplikasi ini dapat mendatangkan masalah pengelolahan yang serius selama
pelajaran pembelajaran kooperatif. Siswa-siswa yang mendominasi sering
dilakukan secara sadar dan tidak memahami akibat perilaku mereka terhadap siswa
lain atau terhadap kelompok mereka.[38]
5. Keterampilan Berperan Serta
Sementara ada sejumlah siswa yang mendominasi kegiatan
kelompok, siswa lain tidak mau atau tidak dapat berperan serta. Terkadang siswa
yang menghindari kerja kelompok karena malu atau minder. Siswa yang
tersisih adalah jenis lain siswa yang mengalami kesulitan berperan serta dalam
kegiatan kelompok.
6. Keterampilan Komunikasi
Kelompok pembelajaran kooperatif tidak dapat berfungsi
secara efektif apabila kerja kelompok itu ditandai dengan miskomunikasi.
Empat keterampilan kominikasi, mengulang dengan kalimat sendiri, memberikan
perilaku, memberikan perasaan, dan mengecek kesan adalah penting dan seharusnya
diajarkan kepada siswa untuk memudahkan komunikasi didalam setting
kelompok.
7. Keterampilan Kelompok
Kebanyakan orang telah mengalami bekerja dalam kelompok
dimana anggota-anggota secara individu merupakan orang yang baik dan memiliki
ketampilan sosial. Sebelum siswa dapat belajar secara efektif didalam kelompok pembelajaran
kooperatif, mereka harus belajar tentang memahami satu sama lain dan
menghormati perbedaan.[39]
H.
BEBERAPA TIPE MODEL PEMBELAJARAN KELOMPOK
1. Tipe Student Team Achievement
Division (STAD)
STAD pertama kali dikembangkan oleh Robert Slavin dari
universitas John Hopkin. pengelompokkan dalam STAD dengan cara membagi peserta
didik dalam satu kelas menjadi beberapa kelompok dengan anggotannya 4-5 orang,
setiap kelompok haruslah heterogen yang terdiri dari laki-laki dan perempuan
dan berasal dari suku yang berbeda yang memiliki kemampuan yang berbeda. Anggota
tim menggunakan lembar kegiatan atau alat pembelajaran untuk menuntaskan materi
dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami melalui tutorial,
kuis atau diskusi. Secara individual setiap minggu atau setiap dua minggu
peserta didik perlu diberi kuis. Kuis itu diberi
skor atau diberi nilai dan setiap peserta diberi skor
perkembangan. Skor perkembangan ini tidak berdasarkan pada skor mutlak peserta
didik, tetapi berdasarkan pada seberapa jauh skor itu melampaui rata-rata skor
yang sudah dicapainya semula.[40]
2. Tipe Pendekatan Struktural
Pendekatan ini dikembangkan oleh Spenser Kagem. Salah
satu bentuk pendekatan struktural yang sering dipergunakan adalah think
prair share (TPS). Dalam TPS peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok
kecil dengan anggota bervariasi dan 2 sampai 5 orang sesuai dengan kepentingan
tugas kelompok. Struktur dalam TPS ini menghendaki peserta didik bekerja saling
membantu dalam kelompok kecil dan lebih dirincikan oleh penghargaan kooperatif,
daripada penghargaan individual.
3. Tipe Jigsaw
Teknik mengajar jigsaw dikembangkan pertama kali
oleh Eliot Aronson di Universitas Texas. Teknik ini bisa digunakan dalam
pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. Teknik ini
menggabungkan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. Pendekatan ini
bisa juga digunakan dalam beberapa mata pelajaran seperti ilmu pengetahuan
alam, ilmu pengetahuan sosial, matematika, agama dan bahasa dan cocok untuk
semua tingkatan.[41]
Dengan membentuk pengelompokkan jigsaw setiap
peserta didik belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas 4-6 orang secara
heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung
jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus mereka pelajari. Kemudian
mereka menyampaikan hasil yang mereka pelajari tersebut kepada kelompok yang
lain dan begitulah seterusnya masing-masing kelompok menyampaikan pula kepada
kelompok lainnya.
Setelah itu, terjadilah diskusi antar kelompok untuk
mencari hasil yang baik dan benar bagi keseluruhan materi pembelajaran jigsaw
yang didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab anggota terhadap pembelajaran
sendiri dan pembelajaran orang lain. Peserta didik tidak hanya mempelajari
materi yang diberikan, tapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan
materi tersebut pada anggota kelompok yang lain. Dengan demikian peserta didik
saling tergantung satu sama lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk
mempelajari materi yang ditugaskan.[42]
4. Tipe Investigasi Kelompok
Tipe ini pertama kali dikembangkan oleh Thelan. Tipe ini
termasuk yang paling kompleks dan paling sulit dilaksanakan. Tipe ini lebih
menuntut kreativitas dan kemampuan peserta didik sebab mulai perencanaan dalam
menentukan topik yang dipelajari maupun bagaimana jalannya penyelidikan yang
mereka lakukan. Pendekatan ini memerlukan aturan dan struktur kelas yang lebih,
karena keterlibatan peserta didik lebih banyak. Dalam penerapan investigasi
kelompok ini peserta didik membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan
anggota 5 atau 6 peserta didik yang heterogen. Dalam beberapa kasus, kelompok
dapat dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban persahabatan atau minat yang
sama dalam topik tertentu. Selanjutnya peserta didik memilih topik untuk
diselidiki, melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih itu. Selanjutnya
menyiapkan dan mempersentasikan laporannya kepada seluruh kelompok dan
keseluruh peserta didik dalam kelas.[43]
I.
KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Seperti yang diketahui bahwa tidak
ada satu strategi pembelajaran yang paling baik diantara strategi pembelajaran
yang lain. Demikian halnya dengan strategi pembelajaran kooperatif. Ada sejumlah
keunggulan dan kelemahan yang dimilikinya.[44]
1.
keunggulan
dari strategi pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
a.
siswa
berkelompok sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang
menyenangkan;
b.
optimalisasi
partisipasi siswa;
c.
adanya
struktur yang jelas dan memungkinkan siswa untuk berbagi dengan pasangan dengan
sesama siswa dalam suasana gotong-royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk
mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi;
d.
adanya
struktur yang jelas dan memungkinkan siswa untuk berbagi dengan pasangan yang
berbeda dengan singkat dan teratur;
e.
meningkatkan
hubungan positif;
f.
motivasi
intrinsik makin besar;
g.
menjadikan
percaya diri makin tinggi;
h.
peran
dalam kelompok mengenai tugas jelas dan dapat berkontribusi lebih pada
kelompok;
i.
sikap
yang baik terhadap guru dan sekolah;
j.
siswa
bertanggung jawab pada hasil belajarnya;
k.
siswa
meningkatkan dalam kolaborasi kognitif. Mereka mengorganisasi pikirannya untuk
menjelaskan ide pada teman-teman sekelas mereka.[45]
2.
kelemahan
strategi pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
a. siswa yang pandai akan cenderung
mendominasi sehingga dapat menimbulkan sikap minder dan pasif dari siswa yang
lemah;
b. dapat terjadi siswa yang sekedar
menyalin pekerjaan siswa yang pandai tanpa memiliki pemahaman yang memadai;
c. pengelompokkan siswa memerlukan
pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda serta membutuhkan waktu khusus.[46]
Kosa Kata:
1. interdepeciensi : saling tergantung;
2.
heterogen : berbagai jenis;
3. redaksional : mengenai cara dan susunan kata-kata dalam
kalimat;
4.
instruksional : bersifat pengajaran atau
mengandung pelajaran;
5.
mediator : perantara;
6. kolaborasi : kerja sama dengan lawan;
7. interaksi : saling mempengaruhi antar hubungan;
8. tutorial :
pembimbing kelas oleh seorang pengajar untuk seorang maupun kelompok;
BAB
II
PENUTUP
A. kesimpulan
Strategi pembelajaran kooperatif
beranjak dari dasar pemikiran setting better together yang menekankan
pada pemberian kesempatan belajar yang lebih luas dan dan suasana yang kondusif
dimana siswa dapat memperoleh dan mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai serta
keterampilan-keterampilan sosial yang bermanfaat bagi kehidupan dimasyarakat.
Pada saat siswa belajar dalam kelompok akan berkembang suasana belajar yang
terbuka dalam dimensi kesejawatan, karena pada saat itu akan terjadi proses
belajar kolaboratif dalam hubungan pribadi yang saling membutuhkan.
B. saran
Para pendukung penggunaan
pembelajaran kooperatif menekankan sifat saling bergantung dari kehidupan
sosial termasuk dalam situasi kerja dan keluarga. Juga menekankan sifat sosial
dari pembelajaran dan pentingnya interaksi dalam membangun makna kehidupan.
Oleh karena itu metode ini sangat efektif jika kita lihat dari pembelajaran
sosial yang akan membantu para peserta didik dalam kehidupan lingkungan
masyarakatnya kelak.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah,
kamus lengkap bahasa Indonesia, Jakarta: sandro jaya.
Daradjat Zakariah, Metodologi
Pengajaran islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
Djamarah Syaiful Bahri, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: Rineka
Cipta, 2010.
Everton
Carolyn M. dan Emmer Edmund T., Manajemen Kelas Untuk Guru Sekolah Dasar,
Jakarta: Kencana, 2011.
Raharjo, Soliatin Etin , Cooperative
Learning, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.
Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia,
2012.
[1]Prof. DR.
Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia,
2012), hlm. 242.
[2]Prof. DR.
Ramayulis, Loc. Cit.
[3]Dr. Zakariah
Daradjat, dkk., Metodologi Pengajaran islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm.
159.
[4]Prof. DR.
Ramayulis, Op. Cit., hlm. 242.
[5] Dra. Hj.
Etin Soliatin, M.Pd., Raharjo, S,.Pd., Cooperative
Learning, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm. 4.
[7] Drs. Syaiful
Bahri Djamarah, M.Ag., Guru dan Anak Didik
dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm. 356.
[8] Ibid., hlm. 357.
[10] Ibid., hlm. 358.
[13] Ibid., hlm. 244.
[14] Ibid., hlm.
245.
[17] Ibid., hlm.
359.
[19] Ibid., hlm.,
246.
[20] Ibid., hlm.
244.
[22] Ibid., hlm.
365.
[23] Ibid., hlm. 366.
[29] Ibid., hlm.
248.
[31] Ibid., hlm.
248.
[32] Ibid., hlm.
249.
[33] Ibid., hlm.
250.
[35] Carolyn M. Everton
dan Edmund T. Emmer, Manajemen Kelas Untuk Guru Sekolah Dasar, (Jakarta:
Kencana, 2011), hlm. 164.
[36] Ibid., hlm.
165.
[37] Ibid., hlm.
166.
[40] Ibid., hlm.
250.
[43] Ibid, hlm.
251.
[45] Ibid., hlm.
366.
[46] Ibid., hlm.
367.
