Rabu, 21 Januari 2015
SELAMAT TINGGAL SEMESTER LIMA
Awal memasuki semester lima ini banyak sekali yang menghambat langkahku untuk mengikuti perkulihan pertemuan pertama diantaranya mata kuliah BK, Perbandingan Mazhab dan lain-lain (alias lupa) :D, Semester ini penuh dengan bersantai-santai diawal perkuliahan dan kebut semalan diakhir tugas semester.
Dosen-dosen yang masuk ke kelas sayapun tak tanggung-tanggung hebatnya ada mantan KAJUR PAI, mantan Wakil Dekan, dan mantan REKTOR, dosen-dosen hebat seperti ini memiliki suka dukanya tersendiri. Dimulai dari hari senin, yaitu mata kuliah pertama METOPEL , sungguh banyak cobaan masuk mata kuliah ini dimulai dari sering terlambat masuk kuliah (yaiyalah telat lah dosennya masuk sebelum jam 7 apa tidak telat :v) dosen ini dosen terdisiplinnnn yang pernah aku jumpai. setiap hari senin selalu kebut-kebutan dengan waktu -,- memang ada satu sukanya dari mata kuliah ini yaitu tidak ada makalah huuuu yeahh, wait waits diakhir mata kuliah ditutupi dengan dua sinopsis -_-"
oke selanjutnya mata kuliah Pengembangan dan telaah kurikulum, mata kuliah ini diajarkan oleh mantan wakil dekan 1, gilakkan gag tuh ilmunya tu dosen. memang semua ilmu yang diajarkannya memang di luar kepala :D tidak ada dosen yang bisa ngalahkan ilmu diluar kepala dosen yang ini, SERIUS!!!!!!! dan asalkan semua tau belum pernah saya (atau lebih tepatnya satu kelas -,-) REMEDIAL UJIAN kali ini saya REMEDIAL UTS (gileee). but good job nih dosen!. Mata Kuliah apa lagi yang dibahas? hmm hmm ooh iya mata kuliah EVALUASI Pembelajaran, SUNGGUH saya suka nih dosen "pijak-pijak" -_-" tugasnya segunung yaitu diantaranya makalah dan perbaikan makalah ini sudah pasti, tugas UTS yang indikator 20 soal, UAS yang parah banget, dan yang terakhir membuat hidup aku berubah (huhuhu agak lebai) tugas dari awal cari siswa 25 orang kemudian mengolah data 25 soal tentang validitas, realibilitas, daya pengecoh, tingkat kesukaran, daya pembeda tebal kertas tugas ini hampir menyamai skripsi -_-" dan parahnya tu tugas ditulis pake TANGAN. (titik) udah kehabisan kata-kata untuk nih dosen -,-
mata kuliah lainnya seperti Tafsir Tarbawi II, PMDI, Perbandingan Mazhab, Hadis Tarbawi II, BK, Kapita Selekta Pendidikan, Fiqih Kontemporer, Fiqih Mawaris semuanya seperti biasa namun ada suka-duka tersendiri dari model pembelajaran dosen maupun materi dari mata kuliah tersebut ^_^ tapi apapun itu aku senang bisa menjadi bagian dari PAI SLTP/SLTA MODEL 2012 O:)
WELCOME SEMESTER ENAM ^_^
Number one for me liric
I was a foolish little child
Crazy things I used to do
And all the pain I put you through
Mama now I’m here for you
For all the times I made you cry
The days I told you lies
Now it’s time for you to rise
For all the things you sacrificed
Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you
Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you
Mom I’m all grown up now
I’ts a brand new day
I’d like to put a smile on your face everyday
Mom I’m all grown up now
And it’s not too late
I’d like to put a smile on your face everyday
You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
Oh oh
Number one for me
Now I finally understand
That famous line
About the day I’d face in time
Coz now I have a child of mine
Even though I was so bad
I’ve learnt so much from you
Now I’m trying to do it too
Love my kids the way you do
Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you
Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you
Mom I’m all grown up now
I’ts a brand new day
I’d like to put a smile on your face everyday
Mom I’m all grown up now
And it’s not too late
I’d like to put a smile on your face everyday
You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
Oh oh
Number one for me
There is no one in this world
That can take your place
Oooh I’m sorry for ever taken you for granted
I will use every chance I get
To make you smile
Whenever I’m around you
Now I will to try to love you
Like you love me
Only God knows how much you mean to me
Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you
Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you
Mom I’m all grown up now
I’ts a brand new day
I’d like to put a smile on your face everyday
Mom I’m all grown up now
And it’s not too late
I’d like to put a smile on your face everyday
The number one for me
The number one for me
The number one for me
Oh oh
Number one for me
Selasa, 20 Januari 2015
Always be yourself
"Kita semua adalah pribadi-pribadi yg unik dan luar biasa dan tidak membutuhkan pengakuan dari pihak lain. Yang penting hanyalah percaya pada diri sendiri"
kutipan diatas adalah kutipan yang saya ambil dari tulisan guru SMA saya. Gurunya memang sangat bersahaja dan humble.
Menjadi diri sendiri memang lebih menyenangkan
Menjadi diri sendiri membuat kita lebih bebas mengekspresikan diri sendiri
Menjadi diri sendiri membuat kita menjadi lebih nyaman dalam menjalani kegiatan. Tapi ada yang perlu kita lihat yaitu apapun yang kita lakukan jangan terlepas dari nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam kehidupan kita. Karena walau bagaimanapun kita tidak bisa acuh tak acuh terhadap lingkungan yang kita tempati.
Keputusanku!
Memang banyak yang aku pertimbangkan sebelum memutuskan dari suatu organisasi kampus ini terlebih lagi aku termasuk bagian anggota inti dari organisasi ini. Namun, ada sebuah alasan yang membuat ku mantap untuk berhenti dari organisasi ini, dan ini cukup Allah swt dan aku yang tau.
Maafkan saya sebenarnya, sangat anti bagiku untuk masuk ke dalam anggota yang terkena seleksi alam. Tapi apa boleh buat jika keteguhan hati untuk berhenti sudah bulat.
Maafkan saya, karna begitu banyak kesalahan-kesalahan yang tidak sengaja saya perbuat hingga akhirnya hati kalian tersakiti.
Dan mohon maaf juga, permunduran diri ini tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun, karena ini semua murni karena kesalahan saya sendiri.
Tiada manusia yang sempurna, namun tidak salah jika manusia berusaha untuk menjadi sempurna.
Sabtu, 03 Januari 2015
Pernikahan Palembang
Pendahuluan
Adat perkawinan Palembang adalah suatu
pranata yang dilaksanakan berdasarkan budaya dan aturan Palembang. Melihat adat
perkawinan Palembang, jelas terlihat bahwa busana dan ritual adatnya mewariskan
keagungan serta kejayaan raja-raja dinasti Sriwijaya yang mengalami keemasan
berpengaruh di Semenanjung Melayu berabad silam. Pada zaman kesultanan Palembang
berdiri sekitar abad 16, lama berselang setelah runtuhnya dinasti Sriwijaya,
dan pasca Kesultanan.
Pada dasarnya perkawinan ditentukan oleh
keluarga besar dengan pertimbangan bobot, bibit dan bebet. Pada masa sekarang
ini perkawinan banyak ditentukan oleh kedua pasang calon mempelai pengantin itu
sendiri. Untuk memperkaya pemahaman dan persiapan pernikahan, artikel ini menyuguhkan uraian tata cara dan pranata yang berkaitan
dengan perkawinan Palembang. Di mana akan di uraikan Sebelum pernikahan, saat pernikahan
dan setelah pernikahan.
A. SEBELUM PERNIKAHAN
1. Madik
Bagian pertama rangkaian
prosesi pernikahan adat Palembang adalah madik. Berasal dari kata bahasa Jawa
Kawi yang berarti mendekat atau pendekatan. Madik adalah suatu proses
penyelidikan atas seorang gadis yang dilakukan oleh utusan pihak keluarga pria.
Tujuannya untuk perkenalan, mengetahui asal usul serta silsilah keluarga
masing-masing serta melihat apakah gadis tersebut belum ada yang
meminang. Pada zaman dahulu madik dilakukan pihak pria apabila ada kesukaan
yang dilihat oleh seorang pria atas wanita di mana telah terjadi pertemuan
sebelumnya seperti pria yang melihat dan tertarik pada seorang wanita pada
acara cawisan atau fatayat, karena ketertarikan inilah maka pihak pria akan
mengirimkan utusannya. Biasanya kebanyakan utusan tersebut adalah perempuan
yang bisa melihat langsung wanita, baik dari fisik maupun keterampilan (seperti
mengaji Al Quran, Masak, Menjahit dan keterampilan lainnya) tetapi terkadang
ada pula utusan adalah seorang pria.
Pertama-tama keluarga calon
mempelai laki-laki mengadakan observasi atau pengamatan terhadap calon mempelai
wanita dan keluarganya. Begitu juga sebaliknya, keluarga calon mempelai wanita
mengadakan pengamatan juga terhadap calon mempelai laki-laki dan keluarganya. Dalam
pengamatan ini untuk mengetahui asal-usul, silsilah, dan gelarnya
masing-masing. Gelar suku Palembang ada empat (4) tingkatan, antara lain:
Laki-laki Perempuan
Raden - Raden Ayu,
Kiagus - Nyayu,
Masagus - Masayu,
Kemas - Nyimas.
Tetapi pada saat sekarang
madik sudah jarang dilakukan dan sudah jarang terdengar tetapi mungkin disebagian
masyarakat asli Palembang masih dilakukan dan madik ini juga dilakukan juga
oleh dari keturunan Arab, mereka melakukannya pada saat adanya acara Gambusan
ataupun sambrahan/bedana. Untuk masyarakat Palembang sendiri saat ini madik
sepertinya tidak dipakai lagi karena seiring perkembangan zaman tetapi yang
masih seirng terjadi adalah “Rasan Tuo” dimana dari dua keluarga pihak pria dan
wanita menjodohkan anak mereka masing-masing dengan tujuan untuk mempererat
tali keutuhan keluarga.
2. Menyengguk
Menyengguk atau sengguk berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya memasang “pagar” agar gadis yang dituju tidak diganggu oleh sengguk (sebangsa musang, sebagai kiasan tidak diganggu perjaka lain). Menyengguk dilakukan apabila proses Madik berhasil dengan baik, untuk menunjukkan keseriusan, keluarga besar pria mengirimkan utusan resmi kepada keluarga si gadis. Utusan tersebut membawa tenong atau sangkek terbuat dari anyaman bambu berbentuk bulat atau segi empat berbungkus kain batik bersulam emas berisi makanan, dapat juga berupa telor, terigu, mentega, dan sebagainya sesuai keadaan keluarga si gadis.
Menyengguk atau sengguk berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya memasang “pagar” agar gadis yang dituju tidak diganggu oleh sengguk (sebangsa musang, sebagai kiasan tidak diganggu perjaka lain). Menyengguk dilakukan apabila proses Madik berhasil dengan baik, untuk menunjukkan keseriusan, keluarga besar pria mengirimkan utusan resmi kepada keluarga si gadis. Utusan tersebut membawa tenong atau sangkek terbuat dari anyaman bambu berbentuk bulat atau segi empat berbungkus kain batik bersulam emas berisi makanan, dapat juga berupa telor, terigu, mentega, dan sebagainya sesuai keadaan keluarga si gadis.
3.
Ngebet
Bila proses sengguk telah mencapai sasaran, maka kembali keluarga dari pihak pria berkunjung dengan membawa tenong sebanyak 3 buah, masing-masing berisi terigu, gula pasir dan telur itik. Pertemuan ini sebagai tanda bahwa kedua belah pihak keluarga telah “nemuke kato” serta sepakat bahwa gadis
NgebetBila proses sengguk telah mencapai sasaran, maka kembali keluarga dari pihak pria berkunjung dengan membawa tenong sebanyak 3 buah, masing-masing berisi terigu, gula pasir dan telur itik. Pertemuan ini sebagai tanda bahwa kedua belah pihak keluarga telah “nemuke kato” serta sepakat bahwa gadis
telah ‘diikat’ oleh pihak pria. sebagai tanda ikatan,
utusan pria memberikan bingkisan pada pihak wanita berupa kain, bahan busana,
ataupun benda berharga berupa sebentuk cincin, kalung, atau gelang tangan. Untuk
adat menyengguk dan ngebet sudah sangat jarang dilakukan pada dikarenakan
pergerseran dan kemajuan zaman, untuk negbet pada saat sekarang sama seperti
“tunangan”.
4. Berasan
Berasal dari bahasa Melayu artinya bermusyawarah, yaitu bermusyawarah untuk menyatukan dua keluarga menjadi satu keluarga besar. Pertemuan antara dua pihak keluarga ini dimaksudkan untuk menentukan apa yang diminta oleh pihak si gadis dan apa yang akan diberikan oleh pihak pria. Pada kesempatan itu, si gadis berkesempatan diperkenalkan kepada pihak keluarga pria. Biasanya suasana berasan ini penuh dengan pantun dan basa-basi. Setelah jamuan makan, kedua belah pihak keluarga telah bersepakat tentang segala persyaratan perkawinan baik tata cara adat maupun tata cara agama Islam. Pada kesempatan itu pula ditetapkan kapan hari berlangsungnya acara “mutuske kato”.
Berasal dari bahasa Melayu artinya bermusyawarah, yaitu bermusyawarah untuk menyatukan dua keluarga menjadi satu keluarga besar. Pertemuan antara dua pihak keluarga ini dimaksudkan untuk menentukan apa yang diminta oleh pihak si gadis dan apa yang akan diberikan oleh pihak pria. Pada kesempatan itu, si gadis berkesempatan diperkenalkan kepada pihak keluarga pria. Biasanya suasana berasan ini penuh dengan pantun dan basa-basi. Setelah jamuan makan, kedua belah pihak keluarga telah bersepakat tentang segala persyaratan perkawinan baik tata cara adat maupun tata cara agama Islam. Pada kesempatan itu pula ditetapkan kapan hari berlangsungnya acara “mutuske kato”.
Dalam tradisi adat Palembang dikenal beberapa
persyaratan dan tata cara pelaksanaan perkawinan yang harus disepakati oleh
kedua belah pihak keluarga, baik secara syariat agama Islam, maupun menurut
adat istiadat. Menurut syariat agama Islam, kedua belah pihak sepakat tentang
jumlah mahar atau mas kawin, sementara menurut adat istiadat, kedua pihak akan
menyepakati adat apa yang akan dilaksanakan, apakah adat Berangkat Tigo Turun, adat
Berangkat duo Penyeneng, adat Berangkat Adat Mudo, adat Tebas, ataukah adat
Buntel Kadut (Pihak pria memberikan uang baik untuk gegawan, acara sampai selesai),
dimana masing-masing memiliki perlengkapan dan persyaratan tersendiri.
Setelah mengetahui hal-hal
yang paling kecil sekalipun, maka keluarga calon mempelai laki-laki mengutus
beberapa orang untuk melamar pada pihak keluarga calon mempelai wanita. Utusan
ini dipimpin oleh seorang yang pandai berbicara, baik masalah adat maupun
masalah-masalah yang lainnya. Rombongan utusan ini membawa sangkek-sangkek yang
berisi bahan-bahan mentah, seperti: gula, gandum, telur, dan lain-lain. Jumlah
sangkek-sangkek ini selalu ganjil, yaitu: tiga, lima, tujuh, dan seterusnya.
Jumlah sangkek-sangkek ini juga menunjukkan tingkat kemampuan sosial ekonomi
dari keluarga pihak mempelai laki-laki.
5. MutuskeKato
Acara ini bertujuan kedua pihak keluarga membuat keputusan dalam hal yang berkaitan dengan:”Hari Ngantarke Belanjo” hari pernikahan, saat Munggah, Nyemputi dan Nganter Penganten, Ngalie Turon (Munggah 2 kali di tempat laki-laki & perempuan), Becacap atau Mandi Simburan dan Beratib. Untuk menentukan hari pernikahandan acara Munggah, lazim dipilih bulan-bulan Islam yang dipercaya memberi barokah bagi kedua mempelai kelak yakni bulan Robiul Awal, Robiul Akhir, Jumadilawal, Jumadilakhir. Bulan-bulan tersebut konon dipercayah bahwa bulan purnama sedang cantik-cantiknya menyinari bumi sehingga cahayanya akan menjadi penerang kehidupan bagi kedua mempelai secerah purnama. Saat “Mutuske Kato” rombongan keluarga pria mendatangi kediaman pihak wanita dimana pada saat itu pihak pria membawa 7 tenong (Sangkek susun 3) yang antara lain berisi gula pasir, terigu, telur itik, pisang dan buah-buahan. Selain membuat keputusan tersebut, pihak pria juga memberikan (menyerahkan) persyaratan adat yang telah disepakati saat acara berasan. Sebagai contohnya, bila sepakat persyaratan adat Duo Penyeneng, maka pihak pria pada saat Mutoske Kato menyerahkan pada pihak gadis dua lembar kemben tretes mider, dua lembar baju kurung angkinan dan dua lembar sewet songket cukitan.
Acara ini bertujuan kedua pihak keluarga membuat keputusan dalam hal yang berkaitan dengan:”Hari Ngantarke Belanjo” hari pernikahan, saat Munggah, Nyemputi dan Nganter Penganten, Ngalie Turon (Munggah 2 kali di tempat laki-laki & perempuan), Becacap atau Mandi Simburan dan Beratib. Untuk menentukan hari pernikahandan acara Munggah, lazim dipilih bulan-bulan Islam yang dipercaya memberi barokah bagi kedua mempelai kelak yakni bulan Robiul Awal, Robiul Akhir, Jumadilawal, Jumadilakhir. Bulan-bulan tersebut konon dipercayah bahwa bulan purnama sedang cantik-cantiknya menyinari bumi sehingga cahayanya akan menjadi penerang kehidupan bagi kedua mempelai secerah purnama. Saat “Mutuske Kato” rombongan keluarga pria mendatangi kediaman pihak wanita dimana pada saat itu pihak pria membawa 7 tenong (Sangkek susun 3) yang antara lain berisi gula pasir, terigu, telur itik, pisang dan buah-buahan. Selain membuat keputusan tersebut, pihak pria juga memberikan (menyerahkan) persyaratan adat yang telah disepakati saat acara berasan. Sebagai contohnya, bila sepakat persyaratan adat Duo Penyeneng, maka pihak pria pada saat Mutoske Kato menyerahkan pada pihak gadis dua lembar kemben tretes mider, dua lembar baju kurung angkinan dan dua lembar sewet songket cukitan.
Berakhirnya acara Mutuske Kato
ditutup dengan do’a keselamatan dan permohonan pada Allah Swt agar pelaksanaan
perkawinan berjalan lancar. Disusul acara sujud calon pengantin wanita pada
calon mertua, dimana calon mertua memberikan emas pada calon mempelai wanita
sebagai tanda kasihnya. Menjelang pulang 7 tenong pihak pria ditukar oleh pihak
wanita dengan isian jajanan khas Palembang untuk dibawa pulang.
6. NganterkeBelanjo
Prosesi Nganterke Belanjo biasanya dilakukan sebulan atau setengah bulan bahkan beberapa hari sebelum acara Munggah. Prosesi ini lebih banyak dilakukan oleh kaum wanita, sedangkan kaum pria hanya
mengiringi
saja. Uang belanja (duit belanjo) dimasukan dalam ponjen warna kuning dengan
atribut pengiringnya berbentuk manggis.
Prosesi Nganterke Belanjo biasanya dilakukan sebulan atau setengah bulan bahkan beberapa hari sebelum acara Munggah. Prosesi ini lebih banyak dilakukan oleh kaum wanita, sedangkan kaum pria hanya
mengiringi
saja. Uang belanja (duit belanjo) dimasukan dalam ponjen warna kuning dengan
atribut pengiringnya berbentuk manggis.
Hantaran dari
pihak calon mempelai pria ini juga dilengkapi dengan nampan-nampan
(disebut juga “Dulang” yaitu tempat nasi pada saat sedekahaan yang terbuat dari
kayu) paling sedikit 12 buah berisi aneka keperluan pesta, antara lain berupa
terigu, gula, buah-buahan kaleng, hingga kue-kue dan jajanan. Lebih dari itu
diantar pula “enjukan” atau permintaan yang telah ditetapkan saat Mutuske Kato,
yakni berupa salah satu syarat adat pelaksanaan perkawinan sesuai kesepakatan.
Bentuk
“gegawaan” yang juga disebut masyarakat Palembang “adat ngelamar” dari pihak
pria (sesuai dengan kesepakatan) kepada pihak wanita berupa sebuah ponjen
warna kuning berisi duit belanjo yang dilentakan dalam nampan, sebuah ponjen
warna kuning berukuran lebih kecil berisi uang pengiring duit belanjo, 14
ponjen warna kuning kecil diisi koin-koin logam sebagai pengiring duit belanjo,
selembar selendang songket, baju kurung songket, sebuah ponjen warna kuning
berisi uang “timbang pengantin” 12 nampan berisi aneka macam barang keperluan
pesta, serta kembang setandan yang ditutup kain sulam berenda. Total gegawan
yang di bawa pada saat naganterke belanjo adalah sebanyak 24 nampan/dulang
terdiri dari 12 nampan berisi kebutuhan makan dan 12 nampan untuk kebutuhan dan
perlengkapan pengantin, dan dulu biasanya yang melakukan nganterke belanjo
bisanya untusan dari keluarga mempelai laki-laki dan orang tua dari calon
mempelai laki-laki itu sendiri tidak mengikuti acara tersebut ini bertujan
mempercayakan sesuatu yang dibawa atau diantar ke calon mempelai perempuan akan
sampai (pemupukan rasa percaya).
Salah satu
adat yang ada dan sempat dilihat adalah pada saat penerimaan pihak calon
mempelai perempuan mempersiapkan tadok “berunang” (bakul besar seperti bakul
cina) untuk tempat penerimaan dimana barang-barang yang diterima dimasukan
seluruhnya kesana dan setelah selesai langsung diikat dan dibawa masuk. Untuk
tempat uang sekarang sudah jarang dilihat yang menggunakan ponjen tetapi
digantikan dengan manggis (Manggis di buat dari kertas manggis dibentuk kotak
persegi tetapi memiliki sudut yang berbeda dikeempat sisinya) sekarang biasanya
manggis besar disi untuk uang belanja dan diiringi dengan manggis kecil yang
berisi uang logam yang jumlahnya terkadang 12 s/d 14 buah.
7. Persiapan Menjelang Akad
Nikah
Ada beberapa ritual yang biasanya
dilakukan terhadap calon pengantin wanita yang biasanya dipercaya berkhasiat
untuk kesehatan kecantikan, yaitu betangas. Betangas adalah mandi uap, kemudian
Bebedak setelah betangas, dan bepacar. Dulunya kegiatan ini dilakukan seseorang
yang bertindak sebagai pelayan pengantin yang bertindak sebagai “Temu Jero”
dimana seluruh kegiatan diatas dilakukan oleh beliau selama beberapa hari
tersebut sampai dengan acara terakhir yaitu ratiban.
8. Betangas.
Merupakan mandi uap dengan ramuan
rempah-rempah dimana kita duduk di atas kursi atau tempat yang telah disediakan
dan di bawah tempat duduk tersebut diberikan uap dari rebusan
rempah-rempah, para calon pengantin menggunakan kain untuk menutupi seluruh
badan kecuali muka, bahkan sebagian calon pengantin menutup secara keseluruhan.
Betangas ini bertujuan untuk mengeluarkan keringat dan membersihkan pori-pori
biar pada saat hari H diharapkan tidak banyak mengeluarkan keringat dan bau.
9. Bebedak
Bebedak istilah untuk mendandai calon penganten secantik mungkin dari tatanan rambut, muka badan kaki tangan dan keseluruhannya.
Bebedak istilah untuk mendandai calon penganten secantik mungkin dari tatanan rambut, muka badan kaki tangan dan keseluruhannya.
10. Bepacar
Berpacar (berinai) yang diberikan pada seluruh kuku kaki dan tangan
dan juga telapak tangan dan kaki yang disebut pelipit. Pacar ini juga
menandakan bahwa mereka akan memasuki kehidupan baru sebagai pasangan rumah
tangga.
Ada satu lagi kegiatan yang di fungsikan untuk mengetahui dan menelusuri silsilah dan ini biasanya dilakukan beberapa hari sebelum akad nikah yaitu ziarah.
Berpacar (berinai) yang diberikan pada seluruh kuku kaki dan tangan
dan juga telapak tangan dan kaki yang disebut pelipit. Pacar ini juga
menandakan bahwa mereka akan memasuki kehidupan baru sebagai pasangan rumah
tangga.Ada satu lagi kegiatan yang di fungsikan untuk mengetahui dan menelusuri silsilah dan ini biasanya dilakukan beberapa hari sebelum akad nikah yaitu ziarah.
B. PERNIKAHAN
1. Upacara Akad Nikah
Menyatukan sepasang kekasih menjadi
suami istri untuk memasuki kehidupan berumah tangga. Upacara ini dilakukan di rumah
calon pengantin pria, seandainya dilakukan dirumah calon pengantin wanita, maka
dikatakan ‘kawin numpang’. Akan tetapi sesuai dengan perkembangan masa, kini
upacara akad nikah berlangsung dikediaman mempelai wanita. Sesuai tradisi bila
akad nikah sebelum acara Muggah, maka utusan pihak wanita terlebih dahulu
ngantar ke keris ke kediaman pihak pria.
Pada zaman
dahulu juga pada saat akad nikah ada timbangan dan kitab suci dimana Al-Quran
yang berarti rumah tangga untuk menjalankan syari’at agama dan berlaku adil,
dan karena berucap di depan Al-Quran dan timbangan pada zaman dahulu jarang
sekali terjadi perceraian karena takut kualat karena telah berucap. Bila akad
nikah ini dilakukan jauh hari sebelum acara munggah dan akad nikah tersebut dilakukan
di tempat pengantin perempuan maka pengantin pria akan pulang ke rumahnya, dan
kembali saat pagi seelum acara munggah.
2. Ngocek Bawang
Ngocek Bawang diistilahkan untuk
melakukan persiapan awal dalam menghadapi hari munggah. Pemasangan tarup,
persiapan bumbu-bumbu masak dan lain sebagainya disiapkan pada hari ini. Ngocek
bawang kecil ini dilakukan dua hari sebelum acara munggah.
Selanjutnya pada esok harinya sehari sebelum munggah, dilakukan acara ngocek bawang besak. Seluruh persiapan berat dan perapian segala persiapan yang belum selesai dikerjakan pada waktu ini. Daging, ayam dan lain sebagainya disiapkan saat munggah, mengundang (ngulemi) ke rumah besannya, dan si pihak yang diulemi pada masa ngocek bawang wajib datang, biasannya pada masa ini diutus dua oarang yaitu wanita dan pria.
Selanjutnya pada esok harinya sehari sebelum munggah, dilakukan acara ngocek bawang besak. Seluruh persiapan berat dan perapian segala persiapan yang belum selesai dikerjakan pada waktu ini. Daging, ayam dan lain sebagainya disiapkan saat munggah, mengundang (ngulemi) ke rumah besannya, dan si pihak yang diulemi pada masa ngocek bawang wajib datang, biasannya pada masa ini diutus dua oarang yaitu wanita dan pria.
3. Munggah
Prosesi ini merupakan puncak rangkaian acara perkawinan adat Palembang. Selain melibatkan banyak pihak keluarga kedua mempelai, juga dihadiri para tamu undangan. Munggah bermakna agar kedua pengantin menjalani hidup berumah tangga selalu seimbang atau timbang rasa, serasi dan damai. Pelaksanaan Munggah dilakukan dirumah kediaman keluarga pengantin wanita. Sebelum prosesi Munggah dimulai terlebih dahulu dibentuk formasi dari rombongan pria yang akan menuju kerumah kediaman keluarga pengantin wanita. Sebelum prosesi Munggah dimulai terlebih dahulu dibentuk formasi yang akan berangkat menuju rumah pengatin wanita. Formasi itu adalah :
a. Kumpulan (grup) Rudat
Prosesi ini merupakan puncak rangkaian acara perkawinan adat Palembang. Selain melibatkan banyak pihak keluarga kedua mempelai, juga dihadiri para tamu undangan. Munggah bermakna agar kedua pengantin menjalani hidup berumah tangga selalu seimbang atau timbang rasa, serasi dan damai. Pelaksanaan Munggah dilakukan dirumah kediaman keluarga pengantin wanita. Sebelum prosesi Munggah dimulai terlebih dahulu dibentuk formasi dari rombongan pria yang akan menuju kerumah kediaman keluarga pengantin wanita. Sebelum prosesi Munggah dimulai terlebih dahulu dibentuk formasi yang akan berangkat menuju rumah pengatin wanita. Formasi itu adalah :
a. Kumpulan (grup) Rudat
Pada saat
pengantin lelaki diantar kembali ke tempat pengantin prempuan sebelum acara
munggah dan diarak pakai rebana. Mempelai laki-laki diantar oleh
keluarganya dengan membawa barang-barang, dari bahan makanan sampai pakaian,
yang diletakkan di dalam nampan atau hidangan, namanya “gawaan”. Mempelai
laki-laki didampingi seorang pendamping, yang membawa bunga langsir. Ini
melambangkan penyerahkan dari pihak laki-laki untuk diterimakannya menjadi
keluarga pada pihak wanita. Arak-arakan ini dinamakan “munggah”.
b. Kuntau
(Pencak Silat)/Betanggem & Pembawa Bunga LangsihPada saat kedatangan ini biasanya di awali dengan berbalas pantun dan atraksi buka palang pintu dari pencak silat, dan Pengatin Pria yang diapit oleh kedua orang tua, dua orang pembawa tombak, seorang pembawa payung pengantin, didampingi juru bicara, pembawa bunga langsih dan pembawa ponjen adat serta pembawa hiasan adat dan gegawan, yang terpenting dari kedatangan ini adalah bunga langsih (bunga yang dimaksud terserah jenis bunganya apa yang penting enak di pandang dan sekarang banyak juga yang mengganti bunga langsih ini dengan bunga plastik) yang harus dibawa karena kalau tidak ada pengantin tidak akan dapat masuk kerumah pengantin perempuan. Pada saat sampai ini maka pengantin perempuan akan memberikan kain tajung dan kemeja kepada pengantin pria “Pemapak” dan dibuatkan “jerambah” (kain panjang biasa atau dari selendang songket yang dibentangkan dari pintu masuk sampai ke pintu kamar pengantin).
c. Cacap-cacapan
& Suap-suapan
Pada saat sepasang pengantin ini keluar
mereka menggunakan pakaian khas Palembang yaitu aesan Pak Sangkong atau aesan
gede:
1) Aesan Pak Sangkong
Salah satu gaya busana pengantin adat
Palembang adalah Aesan Pak Sangkong. Busana macam ini juga digunakan sebagai
Busana Pengantin adat diwilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir,
Sumatera Selatan. Pengantin wanita mengunakan baju kurung warna merah tabur
bunga bintang keemasan, kain songket lepus, teratai penutup dada serta hiasan
kepala berupa mahkota Pak Sangkong, Kembang goyang , kelapo standan, kembang
kenago dan perhiasan mewah keemasan. Pengantin pria berjubah motif tabor bunga
emas, seluar (celana) pengantin, songket lepus, selempang songket serta songkok
emas menhiasi kepala. Keindahan detil busana serta kilau perhiasan
keemasan merupakan keistimewaan busana pengantin palembang Aesan Pak Sangkong.
Warna merah ningrat pada baju kurung dan songket bersulam emas sungguh memikat,
sebagai tanda keagungan warisan karya budaya semasa kejayaan bumi Sriwijaya.
2) Aesan Gede
Salah satu busana pengantin adat
Palembang adalah gaya Aesan Gede. Sebagaimana namanya busana ini merupakan
busana kebesaran raja Sriwijaya yang kemudian diterjemahkan sebagai busana
pengantin Palembang. Warna merah jambu (pink) dipadu dengan keemasan
mencerminkan keagungan bangsawan. Gemerlap perhiasan dan mahkota dipadukan baju
dodot dan kain songket mempertegas keagungannya. Keindahan gaya busana aesan gede memang tak
terbantahkan. Mencitrakan keanggunan sosok bangsawan. Gemerlap perhiasan warnah
merah keemasan tentunya menjadi pusat perhatian. Mahkota Aesan Gede, bungo
cempako, kembang goyang, kelapo standan, merefeksikan kejayaan dan keragaman
budaya semasa kejayaan Sriwijaya. Baju dodot dipadu kain songket lepus bermotif
napan perak menjadi salah satu keunikannya. Dengan salah satu pakaian pengantin
tersebut maka kedua pengantin tersebut tempat acara untuk di lakukannya
cacap-cacapan dan suap-suapan.
d. Suap-suapan
Kedua acara ini pada dibawakan oleh
perempuan baik dari pembawa acara, pelantun pantun, pembaca doa, begitu
juga dengan yang melakukan suapan dengan pengantin, pada saat di tempat acara
pengantin perempuan duduk di belakang pengantin pria dan dilakukan suapan dari
nasi kunyit panggang ayam (mirip seperti tumpeng).
e. Cacapan-cacapan
Untuk
cacap-capan ritual yang dilakukan sama seperti suap-suapan tetapi untuk
cacap-cacapan ini berupa air bunga yang diusapkan di dahi dan ubun-ubun
(seputaran kepala), untuk sekarang biasanya kedua acara diatas sudah dicampur
antara perempuan dan laki-laki jadi ada juga yang melakukan cacap-cacapan
adalah laki-laki ayah dari pengantin perempuan dan pengantin laki-laki. Setelah
acara ini biasanya dilakukan acara perjamuan dengan susunan makanan panjang
dimana di tengahnya ada kelmplang “Tunjung”, srikaya, bolu kojo, bluder dan berbagai
makanan lainnya (untuk diingat biasanya kelmplang tunjung hanya dijadikan
sebagai simbol tidak boleh di makan). Tetapi sekarang ini karena perubahan
zaman biasanya setelah kedua acara di atas langsung ke tempat acara resmi
seperti ke tenda atau gedung tempat dilangsungkannya resepsi pernikahan.
C. SETELAH PERNIKAHAN
1. Nganter Bangkeng
Setelah acara munggah selesai, malamnya rombongan muda-mudi dari pihak
laki-laki datang ke rumah mempelai wanita untuk mengantarkan pakaian-pakaian
mempelai laki-laki. Muda-mudi dari pihak laki-laki ini disambut oleh muda-mudi
dari pihak wanita dengan mengadakan acara gayung bersambut (Ningkuk) sampai
larut malam. Inilah yang dinamakan acara “nganter bangkeng”.
a.
Hari Perayaan I
Hari perayaan biasanya diadakan keesokan harinya di rumah mempelai
laki-laki (Jika pada saat munggah sudah di tempat perempuan). Pada hari
perayaan ini, kedua mempelai dijemput oleh pihak keluarga mempelai laki-laki
untuk dibawa ke rumah keluarga mempelai laki-laki, untuk mengadakan suatu acara
yang dinamakan “perayaan”.
Acara perayaan ini khusus untuk remaja putri atau gadis-gadis saja,
dengan
memakai dan mengenakan baju kebaya dan berkain panjang serta berselendang.
Hiburannya adalah orkes melayu atau orkes gambus.
Zaman dulu perayaan ini bukan hanya ada juga yang disebut “Fatayat” yaitu kumpulan ibu-ibu terutama dari pengajian berkumpul dengan membaca puji-pujian kepada Allah Swt ataupun tadarusan. Musik yang di pakai pada saat itu adalah Orkes tanjidor yang berirama melayu tetapi untuk acara saweran biasanya penyanyinya adalah “banci" yang sudah didandani bukan seperti sekarang acara Orgen Tunggal dengan penyanyi wanita yang seksi.
Acara perayaan ini khusus untuk remaja putri atau gadis-gadis saja,
dengan
memakai dan mengenakan baju kebaya dan berkain panjang serta berselendang.
Hiburannya adalah orkes melayu atau orkes gambus.Zaman dulu perayaan ini bukan hanya ada juga yang disebut “Fatayat” yaitu kumpulan ibu-ibu terutama dari pengajian berkumpul dengan membaca puji-pujian kepada Allah Swt ataupun tadarusan. Musik yang di pakai pada saat itu adalah Orkes tanjidor yang berirama melayu tetapi untuk acara saweran biasanya penyanyinya adalah “banci" yang sudah didandani bukan seperti sekarang acara Orgen Tunggal dengan penyanyi wanita yang seksi.
Nyanjoi
Rombongan
muda-mudi dari pihak mempelai wanita datang ke rumah mempelai laki-laki.
Kedatangannya disambut oleh muda-mudi dari pihak mempelai laki-laki dan diisi
dengan acara gayung bersambut. Inilah yang dinamakan “nyanjoi penganten”.
b. Hari Perayaan II
Kedua mempelai dijemput oleh pihak keluarga mempelai wanita untuk dibawa ke
rumah mempelai wanita. Maksud penjemputan ini adalah untuk mengadakan acara
perayaan yang kedua kalinya, karena perayaan yang pertama sudah diadakan di
rumah mempelai laki-laki. Acara perayaan ini tidak jauh berbeda dengan yang
diadakan di rumah mempelai laki-laki yang lalu.
Mandi Simburan
Setelah
acara perayaan di rumah mempelai wanita ini selesai, pada sore harinya ada lagi
acara pengantin mandi dan diikuti oleh semua keluarga. Acara ini dinamakan “mandi
simburan”.
Pada acara ini disiapkan tempat (baskom) yang berisi air dan bunga dan juga rangkaian dari janur untuk prosesi mandi simburan ini, selain kedua mempelai kemeriahaan acara ini diikuti oleh seluruh keluarga dan masyarakat di lingkungan tempat acara berlangsung umumnya kalau acara mandi simburan ini sudah berlangsung seluruhnya bisa basah. Setelah mandi simburan ini maka secara resmi pengantin dapat berkumpul untuk melakukan hubungan badan, dan keesokan harinya sebelum dilakukannya “ratiban” maka pengantin laki-laki pulang ke rumahnya untuk memberi tahukan kepada orang tuanya bahwa mereka sudah berkumpul sebagai tanda pengantin laki-laki memberikan emas atau pakaian sebagai tanda atau “UPA” bahwa mereka sudah berkumpul.
Salah satu fungsi utama temu/tunggu jero yang berfungsi disini adalah bahwa kalau diantara pengantin ada yang merasa kecewa misalnya ketahuan bahwa perempuan tersebut tidak “perawan lagi” atau pengantin laki-laki ternyata sudah memiliki istri sebelumnya maka orang yang pertama dikasih tau adalah “temu/tunggu jero”, oleh karena itulah pada zaman dahulu masyarakat Palembang sangat sedikit sekali yang melakukan perceraian dan juga dapat berfunsi sebagai penanggal atau penjaga keselamatan berlangsungnya seluruh acara perkawinan yang kemungkinan akan ada gangguan dari orang yang tak senang.
Pada acara ini disiapkan tempat (baskom) yang berisi air dan bunga dan juga rangkaian dari janur untuk prosesi mandi simburan ini, selain kedua mempelai kemeriahaan acara ini diikuti oleh seluruh keluarga dan masyarakat di lingkungan tempat acara berlangsung umumnya kalau acara mandi simburan ini sudah berlangsung seluruhnya bisa basah. Setelah mandi simburan ini maka secara resmi pengantin dapat berkumpul untuk melakukan hubungan badan, dan keesokan harinya sebelum dilakukannya “ratiban” maka pengantin laki-laki pulang ke rumahnya untuk memberi tahukan kepada orang tuanya bahwa mereka sudah berkumpul sebagai tanda pengantin laki-laki memberikan emas atau pakaian sebagai tanda atau “UPA” bahwa mereka sudah berkumpul.
Salah satu fungsi utama temu/tunggu jero yang berfungsi disini adalah bahwa kalau diantara pengantin ada yang merasa kecewa misalnya ketahuan bahwa perempuan tersebut tidak “perawan lagi” atau pengantin laki-laki ternyata sudah memiliki istri sebelumnya maka orang yang pertama dikasih tau adalah “temu/tunggu jero”, oleh karena itulah pada zaman dahulu masyarakat Palembang sangat sedikit sekali yang melakukan perceraian dan juga dapat berfunsi sebagai penanggal atau penjaga keselamatan berlangsungnya seluruh acara perkawinan yang kemungkinan akan ada gangguan dari orang yang tak senang.
2. Beratip & Tepung Tawar
Akhir acara pihak keluarga mempelai
wanita mengadakan acara, “beratip”. Acara ini sebagai penutup dari semua acara
yang telah diadakan oleh pihak keluarga kedua mempelai. Acara ini juga untuk
menyatakan rasa syukur kepada Allah Swt yang telah memberikan taufik, hidayah,
dan rahmat-Nya kepada keluarga yang telah mengadakan semua acara dengan sukses
dan selamat. Umumnya acara ini sekarang dilakukan pada Kamis malam atau malam
Jumat walaupun pada dulunya sering dilakukan pada sabtu malam atau malam
Minggu. Ratib ini bukan hanya untuk penutup acara pengantin tetapi juga untuk
acara-acara selamatan rumah baru, kenaikan pangkat, baru sembuh dari sakit dan
beberapa acara lainnya oleh sebab itu ada juga yang di kenal dengan ratib
saman.
Dalam upacara perkawinan adat Palembang, peran kaum wanita sangat dominan, karena hampir seluruh kegiatan acara demi acara diatur dan dilaksanakan oleh mereka. Pihak lelaki hanya menyiapkan “ponjen uang”. Acara yang dilaksanakan oleh pihak lelaki hanya cara perkawinan dan acara beratib yaitu acara syukuran disaat seluruh upacara perkawinan sudah diselesaikan.
Dalam upacara perkawinan adat Palembang, peran kaum wanita sangat dominan, karena hampir seluruh kegiatan acara demi acara diatur dan dilaksanakan oleh mereka. Pihak lelaki hanya menyiapkan “ponjen uang”. Acara yang dilaksanakan oleh pihak lelaki hanya cara perkawinan dan acara beratib yaitu acara syukuran disaat seluruh upacara perkawinan sudah diselesaikan.
